Kelompok rentan Masyarakat AS

Kelompok rentan Masyarakat AS adalah basis pemilih Partai Republik Donald Trump. Sehingga, ketika krisis ekonomi seperti wabah Pandemi Covid-19 ini datang, kelompok rentan akan menjadi Golongan yang paling lemah dan terpukul. 

Seminggu yang lalu, subsidi uang tunai yang dijanjikan oleh pemerintah AS mulai dibagikan. Menurut rencana, orang dewasa dengan gaji tahunan US $ 75.000 dapat menerima hibah tunai sebesar US $ 1.200 per orang. Anak di bawah 17 tahun dapat menerima hibah tunai sebesar US $ 500 per orang .                   

Salah satu titik fokus yang menarik perhatian saya adalah mengapa pemerintah AS tidak membagikan voucher konsumsi seperti yang dilakukan Beijing sekarang ini, melainkan membagikan uang tunai secara langsung? 

Kelompok rentan Masyarakat AS

Satu penjelasan untuk masalah ini adalah orang Amerika hampir tidak memiliki tabungan. Apabila pemerintah tidak memberikan tunai, banyak keluarga AS tidak dapat bertahan lama. The Fed merilis statistik sampel pada tahun 2019 menunjukkan, 39% orang Amerika akan menghadapi kesulitan terbesar ketika mereka diharuskan mengeluarkan $ 400 biaya pengeluaran darurat. 12% diantaranya sama sekali tidak dapat mengatasi pembayaran mendadak sebesar $ 400. Lebih dari 27% tidak dapat bertahan dari satu siklus kartu kredit.                     

“Pertanyaannya, siapakah 39% orang Amerika ini?”

Belum lama ini Penulis artikel “Why Americans are dying from Despair”, Atul Gawande memperkenalkan sepasang suami istri Ekonom di Amerika Serikat berkaitan studi tentang rasa sakit kronis di Amerika.

Anda mungkin bertanya, Bukankah Pakar Ekonom khusus mempelajari masalah ekonomi? Bagaimana bisa sampai mempelajari nyeri kronis?

Ini juga kebetulan. Karena salah satu Ekonom menderita sakit punggung sepanjang tahun. Ia telah mencoba berbagai macam perawatan tetapi tidak meringankan. Karena penasaran, dia ingin melihat apakah ada banyak orang di Amerika Serikat seperti dia, yang juga menderita rasa sakit kronis sepanjang tahun. 

Akibatnya, dia menemukan sesuatu yang membuatnya merasa aneh. Meskipun perawatan medis AS sangat modern, dan orang Amerika sendiri telah jarang terlibat dalam pekerjaan berat yang mudah menyebabkan ketegangan otot. Karena pekerjaan berat dan susah telah dipindahkan keluar negeri seperti Asia Tenggara atau negara kurang berkembang. Namun, jumlah orang Amerika dengan nyeri kronis semakin meningkat.   

Selain itu, yang paling aneh adalah di antara orang Amerika paruh baya Usia 50 an , proporsi rasa sakit kronis bahkan lebih tinggi daripada orang Amerika berusia 70 – an. Kok bisa?

 Kemudian Ekonom ini memberi tahu suaminya tentang penemuannya. Siapa suaminya ini? 

Suaminya Adalah Mantan Peraih Hadiah Nobel di tahun 2015 bidang Ekonomi Angus Deaton. Angus Deaton pernah menerbitkan sebuah buku tentang sejarah ekonomi pada tahun 2013. Tujuan utama buku ini adalah untuk menyampaikan masyarakat manusia telah berkembang ke arah yang semakin baik, dengan harapan hidup rata-rata manusia lebih  panjang. Kualitas hidup yang meningkat, penurunan tingkat kemiskinan, dan lain sebagainya. Singkatnya, roda kemajuan Dunia yang semakin pesat.              

Ketika mendengar penemuan istrinya, Deaton sangat terkejut. Maka pasangan tersebut memutuskan untuk terus menyelidiki masalah ini. Akhirnya, mereka menemukan masalah yang lebih besar. Masalah yang paling serius dengan nyeri kronis berkepanjangan adalah “kelompok orang kulit putih setengah baya yang tidak memiliki pendidikan tinggi di Amerika Serikat.” 

Apalagi masalah kelompok ini bukan hanya Rasa nyeri kronis. Nyeri kronis sangat berkorelasi dengan tingkat kematian. Tingkat kematian kelompok ini juga meningkat setiap tahunnya.  Termasuk kematian akibat bunuh diri, overdosis obat, penyakit hati yang disebabkan oleh minum berlebihan dan sebagainya.  

Statistik menemukan, tingkat kematian yang tinggi dari kelompok ini mungkin telah menurunkan harapan hidup orang Amerika secara keseluruhan. Cukup beralasan bahwa di negara-negara maju seperti Amerika Serikat yang tidak ada perang atau wabah, harapan hidup seharusnya meningkat dengan mantap. 

Tetapi kenyataannya, harapan hidup rata-rata orang Amerika selama 10 tahun terakhir, telah mengalami penurunan 5 tahun berturut-turut dari tahun 2013 Usia 78.94 tahun hingga  tahun 2018 Usia 78.81 tahun. Terakhir kali ini terjadi adalah selama Perang Dunia I dan Flu yang bermula di Kansas dan menyebar ke Spanyol.               

Kedua Ekonom itu juga membandingkan data kelompok Orang kulit putih setengah baya dengan Kelompok Minoritas di Amerika Serikat. Sebuah perbandingan menunjukkan rasa sakit kronis dan tingkat kematian belum meningkat di kalangan imigran Afrika-Amerika maupun Meksiko. Hanya orang Amerika kulit putih setengah baya yang tidak memiliki Gelar Sarjana yang mengalami penderitaan situasi ini.  

Jika Anda memperhatikan politik Amerika, Anda akan tahu bahwa grup ini sebenarnya adalah basis pemilih yang paling penting untuk Trump. Menurut statistik Lembaga Pemungutan Suara di Amerika Serikat, pada tahun 2010, orang kulit putih yang tidak memiliki pendidikan perguruan tinggi menyumbang 50% untuk Partai Republik, tetapi memasuki tahun 2018, proporsinya telah meningkat menjadi 59% .            

“Mengapa serangkaian masalah bunuh diri, Alkoholisme, kecanduan narkoba, pemerkosa, pencurian, rasis dan lain sebagainya terjadi dalam kelompok ini?” 

Pakar Ekonom menyebut Fenomena ini sebagai “Death of despair” dengan kata lain, kelompok ini banyak yang jatuh dalam keputus-asaan.      

Studi menunjukkan tingkat pekerjaan rendah, sering membawa dampak angka kematian yang tinggi. Ada korelasi sangat jelas antara tingkat pekerjaan dan tingkat kematian. Orang Amerika kulit putih yang berpendidikan rendah banyak yang menganggur.

Apalagi Setelah tahun 2008, Krisis Finansial Ekonomi dunia yang disebabkan oleh Wall Street membuat pemerintah AS berusaha berjuang untuk keluar dari depresi. 

Pada situasi ekonomi yang kurang baik, orang Kulit putih dengan ijazah perguruan tinggi secara alami memiliki keuntungan, sehingga memiliki lebih banyak peluang untuk mengubah keadaan ekonomi hidup mereka.

Sedangkan, bagi etnis minoritas, tentu saja, hidup sangatlah sulit. Tetapi untuk kelompok ini, Amerika Serikat memiliki sejumlah besar klausul perlindungan anti-diskriminasi tidak seperti di Indonesia. Jadi standar hidup etnis minoritas AS walau secara umum lebih rendah daripada orang kulit putih, tetapi setidaknya satu generasi demi generasi berikutnya lebih kuat daripada generasi sebelumnya. Artinya, mereka memiliki Harapan. Kelompok ini tidak putus asa. 

Tetapi bagi orang kulit putih yang tidak memiliki pendidikan tinggi, Pemerintah Amerika tidak memiliki klausul perlindungan khusus terhadapnya. Ini berarti dalam krisis ekonomi dan gelombang globalisasi, mereka telah menjadi Kelompok rentan Masyarakat AS yang paling tidak berdaya saat ini.

Pada tahun 2018, 14% dari tenaga kerja pria usia produktif masih belum memiliki pekerjaan. 

Sebagian besar orang kelompok ini pada dasarnya telah menyerah untuk mencari pekerjaan. Tidak memiliki pekerjaan juga berarti mereka tidak mampu membayar asuransi kesehatan. Asuransi kesehatan di Amerika Serikat sangatlah mahal dan seringkali mengharuskan Bos pemberi kerja harus ikut menanggung biaya asuransi ini. Ini mungkin juga mengapa kelompok ini memiliki masalah nyeri kronis sepanjang tahun.          

Tetapi jika Anda tidak memiliki pekerjaan, Anda mungkin belum sampai dalam situasi “putus asa” seperti orang kulit putih.     

Misalnya, di Indonesia. Jika tidak ada penghasilan, mungkin kita akan tinggal bersama orang tua atau anggota keluarga lainnya. Atau, jika pasangan memiliki pekerjaan, maka pasangan kita sendiri yang mendukung pembiayaan keluarga sementara waktu.      

Di Amerika Serikat, semakin sedikit orang yang bersedia menikah. Atau, kebanyakan mereka adalah Single Parent family yang telah menjadi arus utama saat ini. Statistik menunjukkan, orang yang memiliki gelar sarjana, kemungkinan menikah sebelum umur 45 mendominasi 75%. Sebaliknya, jika tidak ada ijazah perguruan tinggi, maka probabilitas ini kurang dari 60% .        

Di masa lalu, orang kulit putih Amerika sering mengandalkan dukungan kelompok agama. Mereka pergi ke gereja setiap minggu untuk menghadiri kebaktian gereja. Jika ada kesulitan dalam keluarga, seluruh gereja akan membantu bersama. Namun dalam beberapa tahun terakhir, kehidupan beragama orang Amerika juga terus menurun. Sekarang, kurang dari 1 / 3 orang AS akan berpartisipasi dalam pertemuan keagamaan. Di antara kerumunan orang tanpa gelar sarjana, Rasio ini justru lebih rendah lagi.

Itulah sebabnya mengapa kelompok ini lebih banyak mengalami “kematian putus asa atau Deaths of Despair.”         

Just like grandma says, mengapa Trump bersedia memberikan bantuan keuangan dalam bentuk setoran tunai di bawah Partai Republik kepada kelompok rentan masyarakat AS ini. Secara tradisional, filosofi Partai Republik adalah pemerintahan kecil, intervensi rendah terhadap tiap negara bagian, dan penentangan untuk “Orang Malas”. Oleh karena itu, memberikan uang tunai kepada semua orang tidak sejalan dengan gaya Partai Republik.     

Tetapi dalam kenyataan ini, kita dapat melihat bahwa ada celah besar dan struktural dalam ekonomi AS saat ini. Celah ini berarti bahwa basis pemilih Partai Republik adalah salah satu kelompok rentan masyarakat AS.