Kerja empat hari seminggu

Kerja empat hari seminggu tidak akan jauh lagi dari kehidupan kita. Apalagi ketika memasuki Jaman AI. Dimana nantinya Robot-Robot atau mesin akan menggantikan pekerjaan manusia yang monoton dan membosankan. Sehingga, kita bisa mempunyai lebih banyak waktu untuk mengerjakan hal-hal yang lebih kreatif dan spiritual.

Minggu ini, berita tentang Samsung mem PHK kan banyak karyawan telah menarik banyak perhatian. Menurut perkiraan, Samsung bisnis telepon seluler Tiongkok akan melakukan PHK skala besar. Jumlah PHK diperkirakan akan mencapai 2.000 orang.

Kerja empat hari seminggu

Seiring perlambatan ekonomi global akibat perang dagang AS-China, banyak perusahaan harus bersiap menghadapi “musim dingin”. Beberapa perusahaan mulai mengalihkan fokus dari pertumbuhan kecepatan tinggi ke pertumbuhan berkualitas tinggi. Artinya, para perusahaan perlu menghilangkan redundansi dan meningkatkan efisiensi produksi.

Ada perusahaan mulai merampingkan personel, ada yang berinvestasi lebih banyak dalam teknologi. Ada yang mulai melatih karyawan meningkatkan kualitas output mereka. Tetapi ada perusahaan yang agak unik yaitu Microsoft.

Pada bulan Agustus tahun ini, Microsoft Jepang mengurangi jam kerja 2.300 karyawan dari lima hari seminggu menjadi empat hari seminggu. Tetapi upah bulanan tidak berubah. Hasilnya, selama periode ini rata-rata penjualan per karyawan meningkat hampir 40%. Kok Bisa?

Sebenarnya, selain Microsoft ada beberapa perusahaan di Selandia Baru, Jerman dan Inggris mulai melakukan upaya serupa. Perpetual Guardian, sebuah perusahaan asuransi di Selandia Baru mulai bereksperimen dengan mekanisme kerja empat hari seminggu. Perusahaan mengurangi jam kerja karyawan menjadi 30 jam per minggu. Mengharuskan karyawan  menyelesaikan jumlah pekerjaan yang sama dalam periode waktu yang lebih singkat dengan gaji yang sama.

Setelah percobaan lebih dari setengah tahun, perusahaan memutuskan secara resmi menerapkan sistem tersebut. Pada Mei tahun ini, semua karyawan telah memulai cara  pekerjaan ini.

Harvard Business Review melakukan survei terhadap lebih dari 500 perusahaan di Inggris pada Juli 2019. Hasilnya, separuh dari perusahaan telah mengubah hari kerja mingguan mereka dari lima hari menjadi empat hari.

Di Jerman, ada beberapa perusahaan mengambil langkah yang lebih ekstrem. Mulai bulan Oktober ada beberapa perusahaan Jerman mengurangi lama kerja per hari dari 8 jam menjadi 5 jam. Karyawan masuk kerja jam 8 pagi. Dan pulang kerja jam 1 sore.

Keajaibannya, mereka telah mencapai hasil yang serupa dengan Microsoft Jepang.  Mengurangi waktu kerja tidak hanya tidak memengaruhi bisnis, tetapi juga meningkatkan efisiensi produksi. What is happening here?

Meningkatkan efisiensi, berarti mencapai hasil yang lebih tinggi dengan biaya lebih rendah.  

Pertama, karyawan bekerja di kantor untuk waktu yang lebih pendek, sehingga biaya operasi kantor menurun. Misalnya di Microsoft Jepang, kertas cetak perusahaan menurun 58,7%, dan konsumsi listrik kantor turun 23,1% pada bulan kerja empat hari seminggu.

Pada saat yang sama, biaya medis perusahaan juga menurun. Survei Harvard Business Review di Inggris, 64% pemimpin perusahaan menunjukkan karyawan memiliki lebih banyak waktu untuk beristirahat. Tingkat kesehatan mereka meningkat. Jumlah hari cuti atau sakit berkurang. Bagian biaya medis ini dihemat.  

Karyawan Jepang sering pergi bekerja dengan badan kurang sehat. Karyawan Jepang yang sering sakit punggung tiga kali lebih banyak dibanding karyawan Inggris. Ini tidak hanya  memengaruhi kualitas kerja dalam jangka pendek, tetapi juga meningkatkan biaya kesehatan pengusaha dalam jangka panjang. Survei dari Journal of Occupational and Environmental Medicine menunjukkan biaya medis jangka panjang karyawan yang bekerja dengan tubuh kurang sehat, biayanya enam kali lipat dibandingkan dengan absensi karyawan.

Sedangkan di sisi output, Karyawan Microsoft Jepang diharuskan menggunakan waktu mereka di ujung tombak, daripada membuang-buang waktu untuk tugas yang tidak penting.

Jam kerja karyawan telah diperpendek, sehingga mereka harus menemukan cara terbaik untuk bekerja lebih efisien. Di Microsoft Jepang, waktu standar untuk setiap meeting adalah 60 menit. Namun, setelah hari kerja diperpendek, waktu Meeting ditetapkan menjadi 30 menit. Jumlah peserta Meeting juga dibatasi hingga 5 orang. Atau, kalau Meeting tidak terlalu penting, mereka diharuskan menggunakan platform kolaborasi Microsoft sebagai pengganti Rapat.

Pada akhirnya, data menunjukkan effisiensi Meeting 30 menit meningkat 46% sepanjang bulan. Jumlah tele-konferensi meningkat sebesar 21%. Komunikasi online meningkat 10%. Dengan kata lain, semua jenis komunikasi kerja yang rumit atau rapat yang panjang, telah digantikan dengan berbagai program online, atau jarak jauh dan telah menghemat banyak waktu kerja.

Di Jerman, perusahaan yang bekerja 5 jam sehari telah mempersingkat waktu rapat menjadi 15 menit. Selain itu, mereka juga telah membuat peraturan ketat tentang cara karyawan bekerja. Misalnya, tiba kantor jam 7:55am setiap hari. Semua karyawan siap bekerja mulai jam 8am. Saat bekerja, para karyawan dilarang untuk mengobrol dan berbicara. Ponsel harus diletakkan di dalam tas. Email kantor hanya dapat dibuka dua kali sehari. Segala situs media sosial semuanya diblokir. Hasilnya, meskipun karyawan hanya bekerja 25 jam seminggu, tetapi mereka tetap mempertahankan 40 jam output.

Untuk gaya kerja intensitas tinggi dan sangat fokus semacam ini, ada karyawan merasa sangat “tertekan” ketika bekerja. Tetapi hasilnya bukan hanya peningkatan efisiensi, tetapi juga lebih banyak waktu dan ruang pribadi. Termasuk kepuasan yang lebih tinggi dalam kehidupan.

Microsoft Jepang mendorong karyawan untuk menghabiskan lebih banyak waktu istirahat atau layanan sukarela, pengembangan profesional dan koeksistensi dengan keluarga mereka. Mereka juga memberikan USD1000 subsidi untuk pelatihan karyawan, traveling atau kegiatan kebugaran. Hasilnya, 97% karyawan puas dengan waktu ekstra untuk mengurus keluarga dan pengembangan diri.

Kerja empat hari seminggu
Kerja Empat hari seminggu telah mulai dipraktikkan oleh Microsoft Jepang

Dalam survei Harvard Business Review terhadap perusahaan-perusahaan Inggris, 77% karyawan merasa puas dengan kualitas hidup yang lebih tinggi. Kaum muda sangat  menyukai sistem kerja semacam ini, karena mereka dapat menggunakan waktu ekstra untuk meningkatkan diri mereka. Dan bahkan mengembangkan karier kedua.

Pertanyaannya, Apakah sistem kerja empat hari seminggu layak dipromosikan dalam skala besar?  Jenis perusahaan apa yang cocok untuk sistem ini? Implementasi jangka panjang dari sistem ini, dapatkah karyawan selalu mempertahankan output tinggi?

Cara ini mengingatkan bahwa kita telah terbiasa dengan model kerja sebelumnya. Dan kita masih memiliki banyak ruang untuk evolusi.  

Just like grandma says, pekerja manual telah mengalami transisi dari model bengkel tangan ke model pipa. Kedatangan jalur perakitan telah meningkatkan efisiensi produksi manusia. Dan yang terpenting mengubah cara kita bekerja. Sekarang, ketika kita berada di zaman pekerjaan intelektual, kebanyakan kita tidak terlibat dalam pekerjaan fisik lagi. Akan tetapi dalam pekerjaan mental. Dalam bidang kerja mental, akankah ada “momen jalur pipa“? Mungkin hari ini, kita masih jauh dari menemukan cara yang paling efisien untuk menciptakan nilai dengan kerja mental.

Advertisements
Categories: Kerja empat hari seminggu

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: