Ketergantungan global terhadap manufaktur China

Ketergantungan global terhadap manufaktur China telah membawa dampak besar bagi dunia. Terutama sejak munculnya virus Corona ini. Bahkan, Pembuat mobil listrik terbesar, Tesla harus menunda pengiriman Model 3 terhadap pembeli dunia. The Verge, media online teknologi Amerika mengatakan, “wabah epidemi telah menjelaskan satu hal kepada dunia, apa yang mempengaruhi China akan mempengaruhi dunia (What impacts China impacts everything).” Saatnya, Perusahaan teknologi global akan diuji dalam epidemi ini.

Ketergantungan global terhadap manufaktur China

Dari ponsel sampai ke mobil, tidak ada industri teknologi apapun yang terhindarkan. Meskipun sejak perang dagang banyak industri padat karya secara bertahap telah beralih ke Asia Tenggara, namun China masih menjadi pusat produksi banyak produk elektronik Dunia.  Karena China memiliki sistem EMS (Electronic Foundry Manufacturing Services) terbesar dan terlengkap di dunia.

Menurut laporan media asing, produk-produk teknologi seperti smartphone, headset VR, konsol game, mobil dan sebagainya mulai terjadi kekurangan pasokan. Lembaga riset luar negeri IHS Markit memperkirakan, paling tidak ada lima pabrik dunia yang memproduksi panel LCD dan OLED akan tertunda produksinya oleh virus Corona.

Saat ini, karena pengaruh wabah, Facebook telah menangguhkan pesanan headset Oculus Quest VR terbaru. Oculus Quest telah kehabisan stok sejak Festival Musim Semi atau Imlek China. Dimana pada Awalnya, manufaktur China mengatakan bahwa headset VR akan dikirim pada awal Februari, tetapi pengiriman harus ditunda hingga 10 Maret kemudian.

Facebook mengatakan kepada Android Central, “Kami memprediksi epidemi virus corona masih akan membawa dampak tambahan pada produksi perangkat keras. Kami akan mengambil tindakan pencegahan untuk memastikan keselamatan karyawan kami, mitra manufaktur dan pelanggan. Kami juga akan memantau perkembangan wabah  dengan teliti. Kami sedang berupaya memulihkan pasokan produk sesegera mungkin. “

Dalam pernyataan terbaru yang dikeluarkan oleh ASUS, salah satu manufaktur produk elektronik asal Taiwan, “karena dampak epidemi China, ponsel ROG 2 sementara kehabisan stok. Tentang kapan waktu spesifik pemulihan belum diketahui.”

Sementara, Raksasa Game konsol Nintendo mengatakan, produk genggam “Switch” dengan penjualan terbaik di China juga terpengaruh akibat virus korona.”

Menurut arahan kebijakan pemerintah Shanghai, pembuat mobil listrik terbesar di dunia Tesla, kini telah menutup pabrik barunya di Shanghai. Elon Musk mengatakan akan menunda pengiriman Tesla Model 3 sekitar satu setengah minggu kemudian.

Saat ini, beberapa perusahaan manufaktur ponsel China seperti Huawei, OPPO, Vivo, Xiaomi, dan Lenovo juga telah terpengaruh dalam jadwal produksinya.

Nicole Peng, seorang analis seluler di Canalys mengatakan: “Perusahaan yang mengandalkan manufaktur dari propinsi Hubei untuk memproduksi suku cadang akan sangat terpengaruh, seperti Lenovo. Untuk perusahaan seperti Huawei yang beroperasi di Guangdong, pengaruhnya tidak begitu serius. Tetapi saat ini, tidak ada perusahaan yang dapat melanjutkan operasi pabrik pada kapasitas 100%.

Pertanyaan sekarang, “Seberapa besar Ketergantungan global terhadap manufaktur China?”

Pada tahun 2019, kontribusi Tiongkok terhadap pertumbuhan Ekonomi global telah mencapai 39%. Begitu mesin pertumbuhan Tiongkok terhenti, akibatnya Roda kereta ekonomi global juga ikut melamban.

Menurut analisis “tabel input-output” Komisi Uni Eropa, Setiap pengurangan US$ 10 miliar dalam produksi manufaktur China akan menyebabkan penurunan USD3.7miliar komponen dan produk yang dibeli secara global (di luar Mainland China).

Tanpa produk atau komponen buatan China, seluruh penjualan perusahaan global akan berkurang US$ 3 miliar (di luar Mainland Cina).

Dengan kata lain, untuk setiap pengurangan US$ 10 miliar dalam produksi di China, produksi dan penjualan global (tidak termasuk Mainland China) akan berkurang US$ 6,7 miliar.

Ada tiga alasan mengapa Ketergantungan global terhadap manufaktur China membawa dampak begitu besar pada ekonomi dunia:

Pertama, Total impor dan ekspor perdagangan China pada tahun 2019 adalah 4,49 triliun dolar AS. Lebih dari 12% dari perdagangan global, melampaui Amerika Serikat menjadi negara perdagangan terbesar di dunia.

Apa artinya “pusat perdagangan dunia?”

Artinya, begitu pusat perdagangan Dunia (China) tertunda operasinya sementara waktu, Roda kereta ekonomi global juga ikut melambat.

Ketergantungan global terhadap manufaktur China
Made in China 2025 (Image:supchina)

Kedua, China telah menjadi satu-satunya pusat manufaktur global dengan pusat rantai pasok yang berklasifikasi industri global, keunggulan bakat, keunggulan teknis parsial maupun keunggulan skala. Baik itu produk paling kecil seperti penunjuk pin, kapal, mobil listrik, atau merek multinasional global perlu di Produksi dan diselesaikan di China. Kemudian baru dijual ke seluruh dunia.

Hyundai Motor dari Korea Selatan harus menangguhkan produksinya selama lebih dari seminggu karena kekurangan suku cadang dari China. Sehingga, menyebabkan kerugian hingga 600 juta dolar AS.

Harga saham Dali Optoelektronik dari Taiwan yang memproduksi kamera iPhone anjlok karena penutupan pabrik Foxconn di China. Foxconn bertanggung jawab atas perakitan akhir iPhone, dan mereka harus menutup pabrik di China sementara waktu.

Ketiga, China telah menjadi pasar konsumen tunggal terbesar di dunia. Pada tahun 2019, total penjualan ritel barang-barang konsumen mencapai US$ 6 triliun. Berdasarkan paritas daya beli, itu setara US$ 10 triliun. Tidak diragukan, daya beli sebesar itu telah menjadi terbesar didunia. China bahkan telah menjadi Negara pengekspor terbesar untuk 34 negara didunia.

Di antara mereka, ketergantungan perdagangan Taiwan terhadap China adalah 41,2%. Dengan surplus US$ 129 miliar pada tahun 2018, menyumbang 22% dari PDB-nya.

Pada paruh pertama tahun 2019, total perdagangan Korea Selatan dengan China adalah 107,5 miliar dolar AS. Menyumbang 20,2% dari total perdagangan luar negeri. China adalah mitra dagang terbesar Korea Selatan.

Pada tahun 2018, total perdagangan Jepang dengan China adalah USD317,5 miliar. Menyumbang 21% dari total perdagangan luar negeri. China telah menjadi mitra dagang dan eksportir terbesar Jepang.

Di samping itu, China juga merupakan pengekspor sumber daya terpenting untuk Australia, Brasil, Selandia Baru, Argentina dan negara-negara lain didunia.

Advertisements

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: