Advertisements

Ketidakpastian ekonomi global di tahun 2019

Oleh: Ricky Suwarno

Ketidakpastian perekonomian global menjadi tantangan pertumbuhan industry bagi Indonesia. Terutama dalam dua tahun kedepan. Jika setiap Negara tidak dapat merespons dengan baik, efek krisis ekonomi Venezuela, Turki dan Argentina. Kemungkinan besar akan merembet kenegara lain. Seperti yang terjadi di tahun 1998.

Ketidakpastian utama, gesekan perdagangan internasional. Selama 70 tahun terakhir, kerjasama perdagangan dunia telah mendorong ekonomi dunia. Mencapai pertumbuhan dan kemakmuran. Yang belum pernah terjadi sebelumnya. Tetapi, di saat ini, proses perdagangan bebas di blokir oleh AS. Sehingga gesekan perdagangan meningkat. Berdampak pada pertumbuhan ekonomi dari berbagai sumber.

Menurut perkiraan IMF, eskalasi gesekan perdagangan dapat mengurangi pertumbuhan ekonomi global sebesar 0.8%. Dalam dua tahun kedepan.

Ketidakpastian kedua, normalisasi kebijakan moneter Negara maju seperti AS, akan berdampak pada Negara berkembang. Sejak krisis global tahun 2008, bank central Negara maju mengimplementasikan rencana pembelian asset berskala besar merangsang pemulihan ekonomi. Menyebabkan neraca bank-bank central ini berkembang pesat.

Hari ini, Federal reserve mengurangi neraca. Menaikkan suku bunga acuan dollar. Memandu kebijakan moneter kembali normal (sesudah proses mencukur bulu domba). Proses kenaikan suku bunga dan penyusutan table ini mengarah peningkatan suku bunga dollar. Dan nilai tukar dollar yang kuat. Mempengaruhi aliran modal internasional. Menyebabkan tekanan pada lingkungan global.

Diperkirakan, normalisasi kebijakan moneter Federal Reserve dalam dua tahun kedepan akan mengurangi modal internasional yang mengalir ke Negara berkembang sebesar usd35milyar. Menyebabkan turunnya investasi di Indonesia.

Ketidakpastian ketiga, lingkungan keuangan internasional semakin ketat. Beban hutang semakin meningkat. Dalam situasi dimana lingkungan keuangan semakin ketat. Dan dollar yang menguat, beban hutang Negara berkembang semakin berat. Pada tahun 2017, hutang global (termasuk hutang publik dan swasta), telah mencapai usd 184Trilliun. Lebih dari dua kali lipat PDB global.

IMF menggunakan sampel data keuangan dari 57 negara maju dan berkembang untuk menganalisis. Hasilnya, rasio hutang rumah tangga terhadap PDB akan meningkat sebesar 5%. Untuk tiga tahun kedepan. Tingkat pertumbuhan ekonomi menurun 1.25%. nilai tukar AS yang lebih kuat, dan kenaikan suku bunga pasar modal internasional akan secara langsung meningkatkan beban hutang luar negeri. Yang mengarah ke tekanan dari arus keluar modal internasional di Negara berkembang. Selanjutnya memicu kesulitan keuangan dan krisis neraca pembayaran.

Again, just like grandma says, mengurangi ketergantungan nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS. Misalnya dari segi sector riil, mendorong industry yang berorientasi ekspor lebih banyak ke Tiongkok. Ataupun Negara maju lainnya. Disamping itu, pemerintah harus menciptakan system birokrasi efisien. Melawan korupsi. Dan menekan biaya logistic menjadi lebih murah. Sehingga pelaku industry dapat meningkatkan daya saing produknya. Ataupun subsidi pemerintah terhadap perusahaan pengekspor. Disamping itu, memperdalam pasar keuangan dalam negeri. Program tabung saham. Salah satu cara memperkuat pasar modal Indonesia.

Advertisements
Categories: artificial intelligence indonesia, Menteri keuangan, Sri MulyaniTags: , , , , , ,

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: