Advertisements

Ketika Manusia dikuasai algoritma

Oleh: Ricky Suwarno

18 Juni 2019

Mengubah wajah. Dua hari yang lalu, saya melihat banyak teman berbagi tentang teknologi AI atau kecerdasan buatan mengubah wajah di Facebook maupun wechat.

Misalnya, Ada fans yang mengubah wajah Captain America ke wajah Thor dalam Film The Avengers. Atau mungkin ada orang membuat akun FB palsu, dengan avatar orang yang terlihat sangat riil. Dimana, kenyataannya tidak ada orang asli dengan avatar tersebut. Fenomena ini disebut pseudo dalam.

Kedengarannya agak menyeramkan memang. Karena membuat kita menyadari bahwa dunia yang digerakkan oleh algoritma, ada banyak informasi yang sulit dibedakan kebenarannya. Kepercayaan kita pada algoritma mungkin telah melampaui imajinasi banyak orang.

Belum lama ini ada suatu artikel Wall Street Journal yang berhasil mencuri perhatian saya. Judul artikelnya “Mengapa investor harus waspada terhadap saran investasi otomatis.” Penulis artikel ini, seorang profesor di New York Business School. Profesor itu melakukan percobaan yang menarik. Dia mengundang 800 penguji. Mereka harus membuat keputusan investasi berdasarkan saran dari konsultan.

Separuh partisipasi penguji, diberitahu bahwa rekomendasi investasi mereka diberikan oleh orang atau penasihat manusia. Sementara yang lainnya, oleh algoritma otomatis.

Hasil percobaan menunjukkan, orang-orang lebih percaya atas saran konsultan algoritma. Dibanding, saran dari konsultan manusia. Dengan kata lain, orang berpikir bahwa penilaian algoritma lebih akurat daripada penilaian manusia. Saya rasa ini tidak mengherankan. Karena investasi adalah masalah yang sangat kompleks. Yang memerlukan analisis rasional. Manusia akan dipengaruhi oleh emosi dan kemauan subyektif. Tetapi algoritma lebih objektif dan rasional. Sehingga, orang-orang secara alami merasa lebih adil, dan akurat atas keputusan berdasarkan algoritma.

Namun, jenis kesadaran ini justru merupakan suatu kesalah pahaman. Algoritma juga dirancang oleh manusia. Pada saat desain, manusia akan menyuntikkan bias atau prasangka sendiri ke dalam algoritma.

Sebagai contoh, Jika Anda mencari di Google untuk nama yang umumnya digunakan oleh orang kulit hitam atau negro. Kemungkinan besar, Google akan memberikan iklan layanan, orang kulit hitam yang baru dibebasan dari tahanan. Ini adalah contoh algoritma dengan infiltrasi diskriminasi ras.

Namun, Nilai dari artikel ini mengingatkan kita, manusia lebih percaya terhadap algoritma tanpa disadari. Manusia telah melihat algoritma sebagai otoritas.

Pemujaan terhadap algoritma tidak hanya terjadi di bidang investasi. Ini sebenarnya sebuah fenomena yang tergeneralisasi secara bertahap. Fenomena ini telah lama terbiasa dalam kehidupan kita. Contohnya, naik Grab atau Gojek. Kita lebih nyaman dan yakin dengan rute yang ditunjukkan oleh Google Map. Atau Waze. Dan kurang percaya dengan panduan Mas pengemudi.

Algoritma membuat kita semakin konservatif. Semakin kurang berani bertualang. Atau ambil resiko. Karena, jika otoritas seperti algoritma bisa memberikan jawaban yang tepat setiap saat, untuk apa mengambil resiko. Keakuratan algoritma akan semakin membaik. Seiring banyaknya data yang dimasukkan. Sehingga, Algoritma sebagai Otoritas akan menjadi tren umum.

Apakah AI atau kecerdasan buatan akan menggantikan manusia, Menjadi unsur utama dalam segala pengambilan keputusan. Telah menjadi perdebatan kalangan pakar AI selama ini. Seperti, perdebatan antara penulis buku “Sapiens: A Brief History of Humankind and Homo Deus: A Brief History of Tomorrow”, Yuval Noah Harari dengan Li Feifei, pakar AI China yang mengajar Ilmu Komputer di Stanford. Dan sebagai mantan Chief Scientists di Google Cloud.

Yuval mengatakan, suatu hari, kecerdasan buatan akan mengenali manusia jauh lebih baik daripada manusia sendiri. Kita mungkin tidak perlu algoritma sepenuhnya memahami dan membantu membuat keputusan. Kita hanya membutuhkan sedikit algoritma. Karena Dengan demikian, algoritma akan mengendalikan kita semua di masa depan. Dan ini jelas sangat berbahaya.

Selain mengajar di Stanford, Li Feifei juga pernah memberi saran kepada Google tentang pengembangan kecerdasan buatan. Pada saat kita mempertimbangkan masalah filosofis, tampaknya satu-satunya hal yang ada di dunia ini hanyalah, dua kelompok kekuatan. Satunya, adalah kecerdasan buatan yang sangat powerful. Dan, satunya lagi sekelompok kecil orang dibelakang layar. Yang menciptakan AI.

Tetapi masyarakat sebenarnya jauh lebih rumit. Ada kerjasama transnasional, kebijakan hukum, ketentuan etika dll. Singkatnya, selain algoritma, masih ada banyak pemain dan aturan lainnya.

Jadi, teknologi apapun adalah pedang bermata dua. Dua sisi koin. Tergantung pada kondisi apa teknologi ini digunakan. Ini membutuhkan berbagai pemain dan aturan di komunitas untuk bekerjasama. Ruang operasi algoritma bukan hanya ruang hampa. Yang dapat memperluas tentakel ke berbagai bidang apapun tanpa batasan.

Solusi pemujaan terhadap algoritma tidak dalam algoritma itu sendiri. Melainkan, dalam perumusan aturan dan pembentukan konsensus.

Baik pengusaha AI, atau perumus hukum atau media, dalam menggunakan algoritma untuk pembuatan keputusan, harus mempertimbangkan perspektif pihak ketiga. Apakah perspektif itu manusia sendiri atau algoritma lain.

Jika pengambilan keputusan melibatkan kepentingan utama manusia, seperti pengembalian hasil investasi, atau masalah kesehatan. Maka penemu algoritma harus mengumumkan algoritmanya. Atau paling tidak beberapa asumsi dasar dari algoritma yang dipublikasikan. Seperti halnya, perusahaan farmasi harus mempublikasikan petunjuk obat tersebut mungkin memiliki efek samping. Pembuat aturan harus secara aktif memandu orang untuk melihat algoritma dalam perspektif kritis.

Just like grandma says, Apakah Anda percaya dengan suatu algoritma yang secara otomatis menghasilkan keputusan investasi, atau apakah Anda lebih mempercayai saran profesional dari investor yang telah berkecimpung di industri investasi selama bertahun-tahun?

Manusia memiliki preferensi. Dan keterbatasan masing-masing. Demikian pula halnya dengan algoritma sendiri. Mekanisme pengambilan keputusan yang benar-benar efektif harus menemukan keseimbangan. Dan saling melengkapi antara dua dimensi, manusia dan mesin.

Advertisements
Categories: Algorithma, artificial intelligence indonesiaTags: , , , , , ,

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: