Advertisements

Kisah Raksasa Amazon

Oleh: Ricky Suwarno

6 Juli 2019

Saya merasa sangat aneh. Semalam kok tiba-tiba bermimpi tentang Amazon. Perusahaan termahal di dunia. Tentang Pendirinya, Jeff Bezos dan keluarganya. Istri dan 2 anaknya. Mengunjungi saya. Segalanya terasa riil. Sangat aneh memang. Makanya, hari ini saya akan mencoba bercerita tentang Bezos.

Jeff Bezos, pendiri dan CEO raksasa e-commerce AS, Amazon. Setiap tahunnya Bezos akan menulis surat kepada pemegang sahamnya. Dalam suratnya, ia selalu menegaskan pentingnya menjadi Perusahaan day1. Dan perbedaan antara Perusahaan day1 dan day2.

Perusahaan day1 berarti perusahaan yang selalu berada dalam keadaan baru. Dan memiliki potensi. Perusahaan ini lebih memperhatikan tujuan jangka panjang. Bukannya terobsesi dengan kepentingan didepan mata.

Perusahaan day2 adalah perusahaan yang mulai menurun. Menurut Bezos, perusahaan semacam itu berada dalam keadaan stagnasi. Penurunan ini dapat berlangsung cukup lama. Perusahaan yang sangat matang mungkin memasuki tahap resesi ini. Selama beberapa dekade tanpa menyadarinya. Dan akhirnya memasuki tahap kematian tanpa disadari.

Bezos menyarankan para startup beberapa cara mempertahankan kekuatan, dan vitalitasnya sebagai perusahaan Day1.

Pertama adalah menjadi customer-centric. Dalam perjalanan operasi bisnis, banyak elemen dapat dianggap sebagai pusat pengembangan. Misalnya, teknologi-sentris atau produk-sentris. Tetapi Bezos percaya bahwa “customer-centric” adalah fitur terpenting dari Day1. Karena pelanggan memiliki karakteristik yang tidak pernah terpuaskan. Mereka selalu menginginkan produk terbaik. Bila Startup ingin memuaskan pelanggan, mereka harus terus-menerus menciptakan nilai dan berkreatif.

Bezos menyarankan bahwa Day1 mengharuskan perusahaan atau Startup bersabar mencoba dan menerima kegagalan. Ketika mereka menerima umpan balik positif dari konsumen, perusahaan akan bekerja lebih keras. Budaya perusahaan “customer-centric” semacam ini akan membuat segalanya memungkinkan. “Impossible is Nothing.”

Kedua adalah waspada terhadap formalisasi. Organisasi dan prosedur yang baik dapat membantu Startup melayani pelanggan lebih baik. Tetapi jangan diblokir dengan formalisasi. Jika tidak, formalisasi dan proses akan menggantikan tujuan awal Startup. Startup tidak lagi peduli dengan output. Melainkan hanya memperhatikan apa yang dilakukan apakah sesuai dengan program.

Ini sangat mudah muncul di perusahaan besar. Karena itu, sebagai seorang pemimpin, Anda harus selalu bertanya pada diri sendiri, apakah kita memiliki kendali atas program, atau apakah program yang mengendalikan kita?

Sebagai contoh, riset pasar dan riset pelanggan dapat secara langsung menggantikan perhatian pelanggan. Dimana hal ini sangat berbahaya dalam produk desain. Memahami pelanggan dan kemudian menggunakan pengujian produk dan riset pasar untuk membantu Startup menemukan blind spot. Pengalaman pelanggan yang paling baik biasanya dimulai dari hati, intuisi, rasa ingin tahu, permainan, dan keberanian. Dan Ini tidak akan ditemukan dalam survei pelanggan.

Selain itu, para startup harus berani merangkul tren eksternal. Jika para startup tidak dapat beradaptasi dan merangkul tren eksternal dengan cepat, tren ini dapat mendorong Startup menjadi perusahaan day2.

Tren besar tidak sulit ditemukan, tetapi bagi perusahaan besar, bagian yang tersulit adalah merangkul tren. Bezos mengatakan bahwa salah satu tren utama yang kita hadapi saat ini adalah pembelajaran mesin dan kecerdasan buatan alias AI.

Amazon sendiri sedang melakukan serangkaian upaya. Misalnya, layanan pengiriman melalui drone. Toko tanpa kasir. Asisten suara berbasis cloud dan sebagainya. Pembelajaran mesin juga mendorong peringkat pencarian produk, pertukaran komoditas, deteksi penipuan dll. Kecerdasan Buatan telah berdampak positif pada operasi inti Amazon.

Poin terakhir adalah membuat keputusan dengan cepat. Perusahaan Day2 dapat membuat keputusan berkualitas tinggi. Tetapi mereka mengambil keputusan sangat lambat. Untuk mempertahankan vitalitas day1, Startup harus belajar membuat keputusan cepat dan berkualitas tinggi. Ini mudah bagi Startup. Tetapi sulit bagi perusahaan besar.

Cara mengambil keputusan dengan cepat dan efektif menurut Bezos:

Pertama,tidak pernah menggunakan model pengambilan keputusan yang monoton. Banyak keputusan bersifat reversibel dan dua arah. Keputusan ini dapat dibuat dalam mode sederhana. Selebihnya, perlu lebih teliti dan ber berhati-hati.

Kedua, untuk sebagian besar keputusan, Startup harus melakukannya ketika menguasai 70% informasi. Jangan menunggu hingga 90%. Karena pasti akan terlambat. Selain itu, harus pandai menemukan dan memperbaiki keputusan yang salah dengan cepat.

Ketiga, “walaupun tidak setuju tetapi terus dijalankan”. Ini adalah kualitas yang sangat baik. Dapat menghemat banyak waktu.

Just like grandma says, menemukan masalah sejak dini dan kemudian memperbaikinya. Terkadang, tim produksi memiliki tujuan dan pendapat yang berbeda. Siapa yang bisa bertahan sampai akhir dan membuat keputusan, tidak hanya memperlambat proses pengambilan keputusan, tetapi juga merusak antusiasme Tim. Pada titik ini, jika tim eksekutif dapat menanganinya dengan cepat, situasi dan hasilnya akan jauh lebih baik.

Advertisements
Categories: Amazon, artificial intelligence indonesiaTags: , , ,

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: