Konsep bisnis berbagi karyawan

Konsep bisnis berbagi karyawan solusi selama wabah Corona di China. Untuk mencegah penyebaran wabah pneumonia, pemerintah China telah mengambil langkah-langkah efektif seperti penutupan kota Wuhan dan beberapa kota besar disekitarnya. Disertai pengontrolan yang ketat. Beberapa hari ini, ada sebagian perusahaan sudah mulai kembali bekerja, namum menghadapi masalah karyawan yang tidak tercukupi. 

Adapun perusahaan yang mengadopsi “konsep bisnis berbagi karyawan” atau Shared Employees ini seperti Hema Supermarket, sebuah rantai supermarket khusus menjual sayuran dan daging segar yang dimiliki oleh Alibaba. Termasuk retail online lainnya seperti JD Fresh, Su-Ning, Lenovo dan  perusahaan lainnya. Perusahaan yang menganut sistem berbagi karyawan adalah perusahaan retail, E-Commerce, Supermarket atau pabrik-pabrik. Banyak perusahaan menemukan konsep bisnis demikian merupakan suatu solusi win-win yang sangat cocok terutama disaat seperti ini. 

Konsep bisnis berbagi karyawan

Akan Tetapi, dalam proses implementasi sebenarnya, beberapa perusahaan menghadapi banyak masalah. Sebagai contoh, posisi kesenjangan terbesar di Hema Supermarket adalah “Qi Shou” atau pengendara atau pengantar makanan dengan sepeda motor. Para  pengendara ini harus mengenali Area pengiriman.

Karyawan yang bekerja di industri katering atau pelayan restoran mungkin tidak bisa mengendarai motor sehingga mereka tidak dapat mengisi kesenjangan dalam jangka pendek. Selain itu, konsep berbagi karyawan ini bersifat sementara. Apakah perusahaan perlu memberikan pelatihan atau tidak, Atau sejauh mana Training harus diberikan merupakan masalah Utama bagi perusahaan.

Sebenarnya, Konsep bisnis berbagi karyawan bukanlah hal baru dalam sejarah bisnis . Pada tahun 2002 , sebuah bisnis keluarga di Swiss, namanya Victorinox pernah menggunakan cara menyewakan karyawannya untuk menghindari krisis.

Mungkin banyak yang tidak asing dengan perusahaan Victorinox. Karena banyak diantara kita yang pernah menggunakan produk mereka yang sangat terkenal. Swiss Army Knife atau pisau tentara Swiss. Semacam pisau lipat multifungsi. Mereka Ada produk pisau di badan, gunting, pembuka botol dan sebagainya. Pendirinya bernama Karl Elsener.

Banyak orang suka mengasih Pisau Tentara Swiss sebagai hadiah, termasuk Ricky sendiri. Alasannya, karena serbaguna, mudah dibawa, dan berkualitas tinggi. Bahkan, suatu ketika Presiden ke-36 Amerika Serikat Lyndon B. Johnson khusus mengasih sebanyak 4.000 pisau Tentara Swiss dengan tanda tangannya sendiri sebagai hadiah untuk teman-temannya. Penjualan Pisau Tentara Swiss satu produk saja pernah mendominasi setengah dari seluruh bisnis Victorinox.

Namun pada tahun 2001, Victorinox mengalami krisis besar. Insiden “11 September” atau 911 yang terjadi di New York, Amerika Serikat. Pada saat itu, para teroris yang membajak pesawat terbukti membawa pisau tentara Swiss. Menurut peraturan saat itu, pisau jenis ini diijinkan dibawa ke dalam pesawat. Petugas keamanan yang menemukan penumpang dengan pisau ini akan mengembalikannya kepada penumpang.

Akan tetapi Setelah peristiwa 911 , kebijakan mulai berubah. AS mengesahkan UU Keselamatan Penerbangan dan Transportasi, melarang penumpang membawa pisau ke dalam pesawat. Bahkan, juga melarang penjualan pisau di toko-toko bebas bea di bandara. Karena itu, sejak insiden 911, penjualan Pisau tentara Swiss Victorinox langsung drop 30% dalam semalam . Victorinox mengalami krisis terbesar sejak didirikan.

Dalam krisis ini, Victorinox tidak memecat seorang karywawan pun. Walaupun, alasan keuangan yang mendesak. Meskipun saat itu adalah waktu yang paling sulit bagi mereka. 

Salah satu langkah yang diambil oleh para eksekutif Victorinox adalah mengunjungi perusahaan lain, bertanya apakah ada Order besar yang memerlukan tenaga kerja baru dan sementara. Victorinox Meminta perusahaan-perusahaan ini untuk menyewa pekerja sementara dari Victorinox. Penyewaan karyawan ini, secara tidak terduga berlangsung selama lebih dari 2 tahun.

“Mengapa tidak langsung mem-PHK karyawan-karyawan tersebut?”

Alasannya sederhana, Dari perspektif bisnis, ketika masa krisis berakhir perusahaan dapat langsung pulih kembali mengejar ketinggalan. Setelah SARS pada tahun 2003, banyak perusahaan katering yang memecat karyawan mereka. Akibatnya, setelah SARS, perusahaan-perusahaan ini tidak dapat menangkap peluang. Jadi bagi Victorinox, penyewaan karyawan sementara waktu adalah strategi jangka panjang perkembangan perusahaan.

Sebagai perusahaan bersejarah lebih dari 100 tahun, Victorinox mengakumulasi dua prinsip pengoperasian. Pertama, mempertahankan cadangan finansial yang cukup. Kedua, tidak boleh memberhentikan karyawan. Konon kabarnya, Bahkan selama Perang Dunia I, Perang Dunia II, maupun Depresi Ekonomi terhebat di Amerika Serikat, Victorinox tidak pernah mem-PHK kan stafnya.

Jadi selama krisis tahun 2001 , Victorinox memikirkan banyak metode pekerjaan yang fleksibel. Misalnya, perekrutan dibekukan sementara, membatalkan kerja lembur, shift kerja dikurangi 15 menit, dan karyawan didorong untuk mengambil lebih banyak liburan dan pergi berlibur lebih awal.

Atas fundamental ini, seiring menurunnya bisnis pisau tentara Swiss, karyawan yang bekerja di lini produksi dipindahkan ke departemen lain. Contoh lainnya, karyawan yang dianggap berpotensi menjadi manajer akan dikirim ke sekolah untuk studi lebih lanjut. Perusahaan akan membayar uang sekolah mereka dan meminta mereka mendapatkan gelar MBA .

Menurut perkiraan, ada sekitar 60-90 karyawan yang disewakan ke perusahaan lain pada saat itu . Ini mungkin bukan jumlah yang sangat besar. Namun, cukup membuktikan Victorinox sebenarnya melakukannya dengan banyak pemikiran. Misalnya, “bagaimana jika setelah krisis berakhir dan karyawan tidak bersedia kembali lagi?”

Atau dari pihak karyawan, “mekanisme apa yang harus digunakan untuk melindungi kepentingan seperti upah dan tunjangan karyawan?”

Dari pengalaman penyewaan karyawan Victorinox, ada beberapa hal yang bisa kita pelajari. Pertama, Victorinox khusus menyewakan pekerja berkualifikasi tinggi, yang persis dibutuhkan oleh perusahaan yang membutuhkan. Kedua, secara strategis, Victorinox memiliki pertimbangan khusus tentang kepada siapa karyawan disewakan. 

Perusahaan yang dipilih, adalah perusahaan UMKM yang membuat peralatan makan atau besi di sekitar mereka. Pada saat yang sama, jenis pekerjaannya mendekati dengan pekerjaan karyawannya. Jadi, UMKM ini tidak perlu mengeluarkan terlalu banyak biaya pelatihan. Sehingga, walaupun penyewa dan Victorinox termasuk dalam jalur bisnis yang sama, namun mereka bukan ancaman bagi Victorinox karena ukurannya yang sangat kecil.

Di samping itu, Victorinox menetapkan waktu penyewaan karyawan berkisar 3 hingga 6 bulan. Setelah lewat masa penyewaan, Victorinox memberikan kebebasan bagi karyawan untuk memilih untuk kembali atau tetap bekerja di perusahaan yang menyewanya. Ini sebenarnya agak mirip memperkenalkan magang kepada perusahaan. 

Victorinox Melakukan hal itu tidak hanya memberikan karyawan banyak kebebasan, tetapi juga memberikan perusahaan yang menyewa karyawan suatu ketenangan pikiran. Sehingga, mereka bersedia menginvestasikan lebih banyak sumber daya untuk melatih staf ini. Karena setelah pelatihan, penyewa boleh langsung merekrut Staf tersebut.

Tetapi yang menarik, karyawan yang disewakan justru dengan senang hati kembali bekerja ke Victorinox. Bagi para karyawan ini, bekerja sementara di tempat lain adalah pengalaman yang sangat bagus. Mereka Tidak hanya tidak kehilangan pekerjaan, bahkan setelah kembali ke Victorinox sambil membawa keterampilan baru yang dipelajari di perusahaan lain.

Sebaliknya, beberapa UKM yang menyewa karyawan Victorinox mengeluh karena karyawan mereka telah mempelajari teknologi mereka, mengakibatkan semakin banyak persaingan dan bisnis semakin sulit.

Just like grandma says, jika Anda ingin menerapkan “konsep bisnis berbagi karyawan”, Anda mungkin perlu mempertimbangkan terlebih dahulu apakah perusahaan Anda ada memberikan rasa “kepemilikan (Ownership) dan kepercayaan” kepada karyawan. Rasa kepemilikan yang kuat, akan memberikan kepercayaan yang kuat juga kepada karyawan. Istilahnya, “Anda meminjam, Anda juga harus mengembalikannya.”

Advertisements

1 thought on “Konsep bisnis berbagi karyawan

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: