Kota Cerdas dan AI

Kota Cerdas dan AI merupakan konsep IBM puluhan tahun yang lalu. Sepuluh tahun kemudian, pada dasarnya tidak ada kota yang berani mengatakan bahwa mereka sudah menjadi “Kota Cerdas atau Smart City”. Namun, seiring berkembangnya teknologi seperti big data dan komputasi awan, beberapa perusahaan di China maupun AS mulai menggunakan data untuk membuat tata kelola kota lebih tertib.

Contohnya, banjir di beberapa kota di Tiongkok tahun ini. Ada beberapa kota dengan kinerja yang jauh lebih baik daripada kota yang lain. Sejak awal musim panas tahun ini, banyak kota pesisir telah “diserbu” oleh topan.

Jalur pergerakan topan dihitung melalui data meteorologi. Kemudian disimpulkan berdasarkan model 3D kota tersebut. Dikombinasikan dengan fasilitas drainase perkotaan untuk memprediksi kemungkinan tempat akumulasi air. Dengan penandaan cerdas bangunan berisiko tinggi kena banjir, segera menginformasikan departemen pemerintah bersangkutan tentang pencegahan dini. Akhirnya,  lewat Panggilan cerdas AI memperingatkan masyarakat untuk melakukan pencegahan secepatnya.

Ketika warga setempat mengalami kesulitan, “120” telepon layanan darurat China dapat menganalisis kemungkinan penyebab melalui deskripsi patologis sederhana.  Kemudian menganalisis silang kasus masa lalu pasien untuk mencocokkan rumah sakit yang merawatnya, lokasi, rute perjalanan, lokasi ambulans, dan informasi lainnya. Supaya Dalam perjalanan menuju RS, data terus dikirim kembali untuk menginformasikan kepada petugas RS agar siap menyelesaikan pengobatan pasien.

Serangkaian operasi ini telah berhasil direalisasikan di kota-kota pesisir China seperti Zhejiang. 

“Banjir yang datang tiba-tiba, membawa banyak ketidakpastian. Saat ini hanya ada dua teknologi yang dapat diandalkan. Salah satunya adalah departemen meteorologi untuk secara akurat memprediksi jumlah curah hujan selama satu jam. Selanjutnya, Menggabungkan medan pegunungan 3D untuk menentukan arah banjir. Setelah statistik Big Data, pemberitahuan kepada puluhan juta masyarakat dapat diselesaikan dalam beberapa jam”, kata Alibaba.

Kota Cerdas dan AI

Tahun 2020 mungkin merupakan tahun “Darah Tinggi” bagi setiap orang. Seandainya, kita mempunyai Bola kristal ajaib, diperkirakan banyak orang di dunia berharap bisa mengulangi tahun 2019 lagi.

Meskipun wabah virus Corona-19 di awal tahun telah membuat kita terbiasa memakai masker dan rajin mencuci tangan, namun masih perlu waktu untuk membuat semua orang terbiasa pada saat pergi ke mana pun untuk menunjukkan “kode kesehatan” mereka di ponsel. “Kode Kesehatan” merupakan salah satu cara teknologi yang dipakai China dalam mengendalikan wabah pandemi.

Sejak awal Juli yang lalu, masyarakat Tiongkok telah dibebaskan untuk tidak perlu memakai masker lagi. Covid-19 pada dasarnya mulai terkontrol. Semua orang mulai kembali ke kehidupan semula. Ketika Epidemi baru saja stabil, “banjir besar” mulai datang dan menjadi fokus perhatian.

Sebagai makhluk sosial, “desain dan tata kelola kota” tempat dimana kita berkumpul ibarat seperti asuransi kecelakaan. Pada awalnya, tidak terasa begitu besar manfaatnya. Tetapi, setelah terjadi bencana baru terlihat khasiatnya.

Zhejiang, adalah propinsi ketiga terkaya di China. GDP propinsi Zhejiang setara dengan total GDP Negara urutan ke-19 Dunia, Saudi Arabia. Zhejiang yang sangat makmur dalam epidemi kali ini, mendahului Wuhan memasuki respons tingkat pertama dalam pengendalian wabah.

Di belakangnya tersembunyi penggunaan teknologi AI atau Kecerdasan Buatan dan Big Data dalam membuat keputusan Dini. Seperti, peringatan topan, banjir, kemarau, penduduk dalam kesusahan, pekerjaan sukarela, pengalihan lalu lintas kota, dll.

Semuanya adalah manifestasi nyata dari operasi “City Brain China”, yang Memberdayakan kota untuk berpikir dengan tata kelola berbasis Big Data.

Meskipun kita belum bisa membangun kota yang benar-benar cerdas dan sempurna, namun ketika kita dihadapkan pada bencana dan insiden besar, ternyata big data dan AI dapat membuat kota lebih Cerdas. Seperti meningkatkan kenyamanan ataupun kebahagiaan warga yang tinggal di dalamnya. 

Konsep “kota Cerdas dan AI” telah menjadi topik sesudah makan malam. Banyak didiskusikan dari orang tua hingga ABG. Namun, belum ada kemajuan yang berarti beberapa tahun yang lalu. Akan tetapi, Dalam dua tahun terakhir, terutama mulai tahun 2020 , pabrikan mulai mengubah pemikiran mereka. Membuat konsep yang tampaknya hanya di luar jangkauan, beralih dari konsep ke kenyataan. Kunci implementasi terletak pada dua elemen, Big Data dan AI.

Melalui big data dan AI membantu kota mencapai tujuan modernisasi tata kelola dan kemampuan tata kelola. Secara internal, dapat meningkatkan efisiensi, mengurangi biaya, lebih aman dan dapat diandalkan. Secara eksternal, dapat melengkapi tata kelola yang disempurnakan berdasarkan data, tata kelola sumber, layanan publik yang berpusat pada manusia, dan model pembangunan ekonomi dari “dividen demografis” menjadi “dividen data”. 

Artinya, “Big Data ditambah kecerdasan buatan.” Dalam pengertian yang lebih ekstrim, walaupun tanpa kecerdasan buatan, Big Data juga dapat menyelesaikan masalah di banyak kota. Setelah Big Data dibuka, langsung membawa efek yang sangat besar. Kemajuan yang dicapai berupa lompatan. Bukannya bertahap.

Pada tahun 2016, Hangzhou bekerja sama dengan Alibaba Cloud merilis “City Brain” pertama di China. Tes pertama City Brain ini di Uji Coba dalam praktek Lampu lalu lintas Cerdas Kota Hangzhou yang dikenal dengan kemacetan luar biasa. Hasilnya, kelancaran lalu lintas kendaraan naik hingga 11%. 

Pada 2017, Hangzhou merilis City Brain versi 1.0. Mengambil alih sebanyak 128 sinyal lampu jalan lalu lintas di Hangzhou. Sistem ini berhasil mengurangi waktu transit sebesar 15,3%. Area percontohan ini mencakup Jam kerja lewat Tol ataupun kedatangan tepat waktu ambulans juga telah ditingkatkan.

Satu tahun kemudian, City Brain Hangzhou maju ke versi 2.0. Kali ini terutama memperluas yurisdiksi pengaturan kota. Seperti, Persimpangan sinyal dan video di area utama dihubungkan ke City Brain. Kemudian, versi komprehensif yang baru berkembang dari transportasi ke manajemen perkotaan, perawatan kesehatan, pariwisata, perlindungan lingkungan, dan bidang lainnya menjadi satu sistem pusat. 

Pada bulan Juni tahun 2020, City Brain Hangzhou memasuki versi 3.0. Peningkatan ini khusus untuk meningkatkan persepsi dan kemampuan AI. Sehingga, menjadi lebih luas dalam hal data yang menghubungkan semua elemen kota.

Perbedaan utama versi 1.0 hingga versi 3.0, terutama dari kecerdasan skenario lokal dalam transportasi hingga berbagi data lintas domain dan lintas antar departemen. Skenario cerdas semakin diperluas, sampai ke tautan lengkap elemen perkotaan, Fusi data dan sebagainya.

Artinya, secara bertahap meluas dari satu skenario lalu lintas sampai ke bidang lainnya yang dilengkapi dengan Big Data dan teknologi AI seperti persepsi untuk membentuk prediksi awal. 

Data IDC memprediksikan, pembelanjaan pasar smart city China di tahun 2020 akan mencapai 23 miliar Dollar. Menduduki peringkat nomor dua setelah Amerika Serikat. Smart City China berfokus pada tiga aspek: infrastruktur berkelanjutan, tata kelola berbasis data, dan manajemen digital di Top First Tier Cities seperti Beijing, Shanghai, Shenzhen, dan Guangzhou.

Tahun 2020, Beijing akan menyelesaikan konstruksi City Brain. Banyak distrik telah mulai mengeksplorasi penerapan otak perkotaan. Misalnya, Distrik Tongzhou Beijing telah bereksperimen dengan teknologi AI untuk mengidentifikasi truk-truk yang melaju cepat di jalan.

Meskipun ukuran pasar dan cakupan terus berkembang, pada kenyataannya, City Brain berkembang melalui banyak eksplorasi. Tidak ada contoh yang bisa diadopsi sebelumnya.

Akan tetapi, Masalah sebenarnya bukanlah teknologi. Dikarenakan, kota adalah sistem tiga dimensi yang besar dan kompleks. Di sisi lain, pembangunan kota tidak pernah hanya melibatkan teknologi. Tetapi juga humaniora, sejarah, etika, arsitektur, energi, ilmu kehidupan dll. Perpaduan berbagai ilmu.

Konstruksi Kota Cerdas dan AI tidak hanya memiliki “titik sakit”, tetapi juga “titik gatal.” 

Masalah data antar Kota Cerdas

Ketika kita tidak menggaruknya, kita tidak menyadari ada rasa gatal tersebut. Pemahaman tentang masalah konstruksi perkotaan tidaklah jelas. Konstruksi City Brain juga perlu memprediksi berbagai titik gatal terlebih dahulu. Termasuk, masalah data dan fragmentasi. Tata kelola sosial perlu mengandalkan Big Data untuk menemukan masalah dan peraturan. 

Meskipun konsep kota cerdas memiliki sejarah lebih dari sepuluh tahun, namun masih banyak hambatan yang relatif tinggi untuk masuk tingkat dasar tata kelola data dan fusi data. Masalah fragmentasi data disebabkan oleh penggunaan Aplikasi yang berbeda antara departemen pemerintah atau daerah, telah mempengaruhi sirkulasi dan integrasi data lebih lanjut sampai batas tertentu.

Alibaba menggunakan sebuah metafora. “Manusia hanya membutuhkan satu otak, namun masing kota-kota dibagi menjadi beberapa wilayah berbeda. Jadi, Berapa banyak Otak Kota yang perlu dibangun sebuah kota, bagaimana otak kota yang berbeda bekerja sama, membutuhkan eksplorasi lebih lanjut.” 

Pada saat yang sama, selain otak besar, manusia juga memiliki otak kecil. Termasuk banyak organ yang merupakan keseluruhan organik. Big Data ibarat darah dalam tubuh manusia atau sinyal saraf, tergantung pada kebutuhan konstruksi perkotaan.

“Teknologi Informasi bukan Mahakuasa.” Ia membutuhkan sistem administrasi, sistem tata kelola sosial dan sistem lain untuk dihubungkan secara organik.” Namun, masalah ini secara teknis telah terselesaikan oleh Alibaba.

Kota cerdas dan AI
Kota Cerdas dan AI (Image: Nvidia)

“Masalah data antar departemen yang terisolasi, merupakan masalah klasik informatisasi dalam dua dekade terakhir. Terutama masalah klasik E-Government atau informatisasi pemerintah. Namun, saat ini Masalah tersebut telah terpecahkan.”

Just like grandma says, Dari pengelolaan otorisasi teknis, terutama untuk mendobrak batas-batas pembagian data antar departemen, pada intinya bukan masalah teknis. Melainkan Otorisasi yang memadai. Dimana, kita tidak boleh memperlakukannya sebagai kendala lagi. “Masalah terbesar dalam transformasi digital pemerintah adalah fusi data lintas departemen. Begitu platform ini teratasi, maka akan banyak inovasi yang bisa dicapai.”

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.