Kredit adalah Masa Depanmu

Kredit adalah Masa Depanmu jangan meniru Donald Trump. Dalam meningkatkan daya saing suatu perusahaan, selain kemampuan R&D teknologinya, Kredit perusahaan juga sangatlah penting. Lalu, kredit apa yang kita butuhkan di Era baru ini?

Indonesia adalah produk peradaban pertanian. Seluruh masyarakat dari dulu telah membentuk sistem kredit kenalan yang relatif tertutup. Lain pula halnya, orang Eropa dan Amerika Serikat yang menganut peradaban Maritim. Sehingga, peradaban mereka melahirkan sistem kredit terbuka yang dibutuhkan oleh peradaban lautan.

Ciri khas peradaban lautan adalah adanya sistem yang sistematis untuk melindungi perdagangan global. Seperti hak milik yang jelas. Milik saya tidak boleh diambil begitu saja oleh orang lain. Fitur yang terpenting adalah sistem kredit terbuka. Bersikap terbuka berarti menyatukan standar. Memperlakukan orang asing dan kenalan dengan setara. 

Kredit adalah Masa Depanmu

Misalnya, saya berinvestasi dan menginvestasikan uang pada kerabat, Hal ini tidak disebut kredit. Lain halnya, saya menginvestasikan uang pada orang asing dan mematuhi semua aturan bisnis. Akhirnya, perusahaan yang dijalankan oleh orang asing berhasil Go publik, dan saya berhasil keluar. Ini disebut kredit.

Sebelum pembentukan sistem kredit global, orang-orang diikatkan oleh “Iman Tuhan” dalam Etika Protestan. Kemudian, sistem kredit global disempurnakan. Bisnis itu sendiri adalah kepercayaan. Semua orang percaya bahwa bisnis itu harus dipatuhi. Dalam hal norma sosial, Anda harus adil, jujur, dan tidak boleh berbohong. Dalam hal norma perilaku kerja, Anda harus setia pada profesi dan kejujuran.

Ini juga merupakan bagian tak terpisahkan dari Etika bisnis saat ini. Namun, Etika bisnis sendiri bukan merupakan faktor kesuksesan bisnis. Tetapi tanpa Etika bisnis, sulit bagi Anda untuk sukses.

Sebenarnya, batasan aturan etika bisnis semacam ini di sebut sebagai “Aturan Lunak”. Apa Artinya?

Melanggar hukum dan melanggar kredit adalah dua hal yang berbeda. Jika Anda melanggar hukum, ada sistem hukum yang akan membatasi Anda secara paksa. Tetapi jika Anda melanggar etika bisnis, Anda hanya dapat mengandalkan kredit sendiri untuk membatasi Anda, bukan hukum. Konsekuensi dari kehilangan kredit adalah orang lain tidak akan lagi bekerja sama dengan Anda nantinya.

Dalam pemeliharaan kredit, tindakan pembohongan sekali mungkin tidak berpengaruh apa-apa. Misalnya, ada  pedagang yang sembarang membantai pelanggan di stasiun kereta. Tindakan pembohongan sekalinya tidak akan merugikan dia. 

Tetapi jika kredit tidak diperhatikan dalam banyak jual beli di masa depan, itu akan membawa kerugian besar bagi dia sendiri. Karena semua tindakan Pedagang sebelumnya akan berdampak pada masa depan. Pedagang tersebut perlu menjaga kreditnya tidak hanya untuk menghasilkan uang kali ini, tetapi juga untuk terus bekerja sama dengan orang lain di masa depan.

Donald Trump, presiden Amerika Serikat ke 45 adalah contoh tipikal ketidakpatuhan terhadap kredit. Apa yang disebut Trump sebagai “strategi tekanan ekstrem” mungkin sangat efektif bagi perbankan, karena mereka khawatir jika Trump benar-benar bangkrut, mereka mungkin tidak dapat menerima pengembalian hutang dari Trump.

Jadi para bank berkompromi dan mengalah dengan Trump hampir setiap kali. Tetapi jika Trump mempraktekkannya di bidang bisnis yang membutuhkan banyak umpan balik, strategi seperti itu mungkin bisa efektif satu atau dua kali.

Tetapi Setelah digunakan berulang kali, kredit Donald Trump pasti akan hilang. Bahkan, akan membawa masalah besar bagi Trump sendiri di masa depan. Contohnya, jika Trump tidak menang dalam Pilpres mendatang ini, Trump bakalan menghadapi berbagai gugatan maupun tuntutan hukum atas segala tingkah lakunya semasa menjabat presiden.

Kredit adalah masa depanmu jangan belajar dari Donald Trump. Karena dalam industri teknologi masa depan, produk membutuhkan penelitian dan pengembangan yang cepat dan iterasi yang berkelanjutan. Sistem kolaborasi rantai industri menjadi semakin kompleks.  Pembagian kerja semakin terdistribusikan. Sehingga, menempatkan tuntutan tinggi pada kredit seseorang.

Masa depan memerlukan umpan balik tanpa batas. Bukannya, umpan balik sekali saja.  Jadi, Hanya dengan mengumpulkan kredit baik secara terus menerus, baru akan ada lebih banyak peluang untuk kolaborasi di masa depan.

Kesuksesan pribadi menurut saya adalah, Aset = ekuitas – kewajiban pemilik + prestasi yang diharapkan × kredit.

Sebenarnya ini sangat sederhana. Setelah aset berwujud Anda dihilangkan, kesuksesan masa depan Anda sebenarnya bergantung pada pencapaian yang Anda harapkan dan kredit pribadi.

Seandainya, suatu hari Bill Gates bangkrut. Semua kekayaan bersihnya menjadi nol. Namun, Beliau membutuhkan pembiayaan untuk memulai bisnis lagi. Apakah ada yang bersedia meminjamkan uang kepadanya? 

Saya yakin pasti banyak orang yang mau meminjamkan uang kepadanya. Karena Bill Gates memiliki pengalaman wirausaha yang sangat sukses di masa lalu. Bill Gates juga telah  membuktikan kredibilitasnya. Dia akan tetap dipercayai oleh banyak orang. Karena, nilai sukses masa depannya sangat besar.

Oleh karena itu, setiap orang perlu membuktikan kemampuan kita sendiri. Membuktikan nilai masa depan kita. Di sisi lain, kita harus mengelola kredit kita sendiri.

Saya sangat yakin dalam dunia bisnis, nilai kredit di masa depan akan jauh melebihi nilai aset yang kita miliki saat ini. Baik untuk individu maupun perusahaan. Daripada menghabiskan waktu mengoperasikan aset, lebih baik berfokus mengelola kredit dan pencapaian masa depan Anda

Dalam banyak kasus, tanpa disadari kita mungkin menghancurkan kredit sendiri tanpa disadari.  Terutama dalam kerjasama global. Ambil contoh, sistem kredit peradaban lautan. Orang yang hidup dalam sistem ini, sejak masa kanak-kanak lebih cenderung memahami dan menerima aturan ini. Sedangkan, mereka yang berada di luar sistem tidak mudah memahaminya. Sehingga, konflik akan mudah terjadi.

Kredit adalah Masa Depanmu
Kredit adalah Masa Depanmu (Image: FT)

Just like grandma says, Jika pengusaha Indonesia ingin terhubung dengan teknologi global, hanya dengan kemampuan saja tidak cukup. Mereka juga harus mematuhi aturan dasar peraturan internasional. Kemudian membangun kredit global kita. Ke depannya, kita juga bisa mengembangkan sistem kredit kita yang diakui seluruh dunia atas dasar Lingkaran kemampuan kita.