Krisis Aplikasi Konferensi Video Zoom

Krisis Aplikasi Konferensi Video Zoom selama wabah Pandemi Covid-19 menjadi fokus topik Edisi terbaru Forbes dan Bloomberg BusinessWeek beberapa saat yang lalu. Selama wabah berlangsung, banyak orang terpaksa berdiam diri dan Work From Home. Di Amerika Serikat, penerima manfaat terbesar salah satunya mungkin adalah Zoom.

Zoom didirikan oleh orang Amerika-China Eric Yuan. Zoom tahun lalu baru Go Publick di NASDAQ. Selama epidemi, Zoom berkembang dan tumbuh secara eksplosif, dengan pengguna harian meningkat dari 10 juta menjadi 200 juta. Peningkatan sebesar 20 kali lipat. 

Virus Corona yang sedang merajalela di dunia saat ini, mengakibatkan kehancuran pada saham AS. Banyak harga saham perusahaan besar telah jatuh menyedihkan. Tetapi harga per saham Zoom telah melonjak lebih dari dua kali lipat dari $68 menjadi $159.

Bagi dunia luar, ini ibarat mimpi di siang bolong. Tetapi tidak ada yang menyangka bahwa rasa dipukul oleh rejeki tak terduga ini kurang enak. Peluang dengan cepat berubah menjadi “krisis Aplikasi Konferensi Video Zoom.”

Pertama, konferensi video pengguna terganggu oleh orang asing yang tiba-tiba masuk tak diundang.  Kemudian diikuti dengan kebocoran video konferensi pengguna, riwayat obrolan, dan informasi pribadi.

Krisis Aplikasi Konferensi Video Zoom

Dewasa ini para Senator AS, NASA , SpaceX , Google, Siemens, Standard Chartered dan organisasi perusahaan lainnya telah melarang karyawannya menggunakan Zoom. Tiba-tiba, Zoom berubah dari “Bintang Film di Pusat Panggung Dunia menjadi Ayam Panggang di atas api.”

Menurut laporan “Forbes” dan “Bloomberg BusinessWeek”, sebagian besar masalah disebabkan oleh strategi pengembangan positioning terutama masalah keamanan yang berfokus pada tiga aspek.

Salah satunya, “Zoombombing” konferensi video pribadi yang tiba-tiba dimasuki oleh orang Asing. Misalnya, semua orang dalam konferensi sedang berbicara bagaimana Virus Corona akan memengaruhi pendidikan K-12, tiba-tiba muncul banyak gambar porno dan masalah rasis di layar para peserta rapat. Sehingga, Pembaca acara konferensi harus langsung mematikan video. Tetapi kemudian, audio langsung di ambil alih oleh peretas.

Pada saat itu, banyak sekolah di AS ditutup karena epidemi Covid-19. Zoom mempromosikan ke para universitas termasuk SD sampai SMA menggunakan Aplikasi Zoom untuk pengajaran jarak jauh. Akibatnya, sejumlah insiden “Zoombombing” telah membawa efek yang sangat buruk. Sehingga, New York melarang penggunaan Zoom di sekolah-sekolah.

Masalah Kedua, kebocoran privasi pengguna. Pada awal bulan April, mantan peneliti  Badan Keamanan Nasional AS Patrick Jackson mengatakan, dalam pencarian data ruang penyimpanan awan terbuka Dia menemukan 15.000 video Konferensi Zoom. The Washington Post melaporkan beberapa video Zoom bahkan telah diposting ke Youtube. Orang yang merekam video tersebut bahkan, masih tidak mengetahuinya.

Masalah ketiga, kepercayaan. Seperti biasanya, kecurigaan pemerintah Amerika yang telah kehilangan kepercayaan diri setelah kalah dalam Perang Dagang. Zoom, adalah perusahaan yang didirikan oleh orang China dengan pusat data di Tiongkok. Demikian juga, Zoom mempekerjakan banyak karyawan Tiongkok. Setelah prestasi yang sangat menonjol, Pemerintah Amerika Serikat, seperti biasanya US House of Representatives Speaker Nancy Pelosi mengatakan Zoom adalah “Entitas Cina” sehingga, berisiko keamanan.

Sejak reformasi China 40 tahun yang lalu, banyak perusahaan AS masuk ke China. Hingga saat ini, sebagian besar produk teknologi AS masih dipakai diberbagai kalangan pemerintahan maupun masyarakat China. Tetapi, China tidak pernah mencurigai atau berteriak “Entitas Amerika” yang membahayakan keamanan nasional Tiongkok.

Hal ini mengingatkan orang-orang tentang peribahasa tua yang mengatakan, “Pencuri berteriak tangkap pencuri”. Pemerintah AS sendiri telah banyak melakukan kejahatan seperti yang diungkapkan oleh Edward Snowden. Sehingga, mereka selalu berpikir orang lain juga akan melakukan kejahatan yang sama terhadap mereka.

Inilah masalah kepercayaan antara China dan Amerika Serikat yang disebabkan oleh gesekan perdagangan yang dilancarkan Donald Trump. Pada saat yang bersamaan, ada media AS yang sengaja menambah minyak ke atas api. Beberapa panggilan video yang dipakai oleh dua pengguna Amerika mengatakan semua datanya akan mengalir melalui server yang berlokasi di Cina. 

Zoom segera menjelaskan karena pertimbangan kemacetan jaringan yang sangat booming, mereka harus menggunakan pusat data di China untuk melangsirnya. Sekarang mereka telah memperbaiki sistemnya, dan berjanji tidak akan terjadi lagi.

Jika Anda tahu sedikit tentang pertumbuhan Zoom sebelumnya, Anda mungkin merasa aneh. Zoom telah berkembang pesat sejak pendiriannya hingga 9 tahun terakhir. Reputasi penggunanya juga sangat baik. Sehingga, mereka berhasil Go Publik di NASDAQ tahun lalu.

Mengapa tiba-tiba terungkap Begitu banyak Masalah peretasan?

Saya melihat wawancara CEO Zoom, Yuan Zheng alias Eric Yuan membuat analogi seperti ini: “Zoom awalnya hanyalah pemain basket di SMA, namun tiba-tiba terpilih untuk bermain di NBA. Jadi, tentu saja tantangan besar akan membawa berbagai cobaan dan serangan. Wabah epidemi menyebabkan lonjakan jumlah pengguna yang harus bekerja langsung dari rumah, yang membuat Zoom tidak dapat menanganinya secara tiba-tiba.

Majalah Forbes dan Bloomberg BusinessWeek merasa bukan hanya masalah peningkatan pengguna. Melainkan, “Strategi pengembangan Zoom.” Banyak orang mungkin bingung, Karena Zoom yang bermula sebagai bisnis B To B, dimana semua pelanggan yang mereka layani adalah pelanggan tingkat perusahaan. “Bukankah ini berarti Zoom harus lebih memperhatikan keamanan?” 

Namun pada kenyataannya, Zoom selalu mengadopsi strategi promosi ” bottom-up atau dari bawah ke atas”.

Maksudnya, kebanyakan layanan konferensi video perusahaan tradisional selalu bekerja sama langsung dengan Top manajemen perusahaan, atau dikenal “Top-Down dari Atas Ke bawah”. Untuk bersaing, Zoom mengadopsi cara sebaliknya, yaitu “bottom-up”. Pertama, menganut strategi bebas dan gratis ditambah Aplikasi penggunaan yang sangat mudah untuk memperoleh sebanyak mungkin pengguna.

Ketika para karyawan merasa gratis dan mudah digunakan, mereka akan menyebar dari mulut ke mulut atau “Word of Mouth”. Melalui cara ini, penetrasi secara alami akan memengaruhi pengambilan keputusan di tingkat Decision maker perusahaan.

Sejak memainkan kartu “mudah digunakan”, pengoperasian Zoom harus cukup sederhana. 

Seberapa sederhana itu?

Jika Anda pernah menggunakannya, Anda akan tahu Siapa pun, bahkan mereka yang tidak memiliki akun Zoom, dapat berpartisipasi dalam rapat melalui ponsel, iPad, dan komputer. Hanya dengan mengklik tautan web dalam teks atau email. Selain itu, pengguna dapat merekam video konferensi dengan mengklik tombol, sangat mudah untuk penyimpanan dan berbagi Data nantinya.

Justru, titik penjualan terbesar ini “mudah digunakan” yang membawa masalah terbesar ke Zoom. Agar cukup sederhana, Zoom tidak mengharuskan pengguna memakai kata sandi untuk konferensi video, yang  kemudian menempatkan bahaya tersembunyi bagi “Zoombombing”. 

Sebenarnya, Zoom juga memiliki opsi keamanan. Misalnya, para host rapat dapat mengunci rapat dan tidak mengizinkan orang luar untuk bergabung. Tetapi sayangnya, opsi ini tidak disetel sebagai opsi default. Zoom sendiri tidak memberikan “pengingat keamanan” yang diperlukan sebelumnya kepada pengguna.

Selain itu, perluasan skenario penggunaan juga membawa tantangan ke Zoom. Zoom memperluas cakupan aplikasi perangkat lunak, seperti yang dipromosikan di kampus, berharap sekolah-sekolah dapat menggunakan Zoom untuk pengajaran online. Munculnya epidemi adalah peluang besar bagi Zoom untuk meningkatkan massa pengguna biasa. Mereka menggunakan Zoom untuk melakukan berbagai hal, seperti pertemuan jarak jauh, Acara keagamaan dan bahkan pernikahan. 

Oleh karena itu, bisnis Zoom telah melampaui layanan terhadap To B. Tetapi banyak dari aturan keamanannya masih berhenti pada premis aplikasi tingkat perusahaan, dan tidak dapat mengatasi banyak skenario aplikasi yang kompleks.

Sebagai contoh, kebocoran video Zoom yang direkam oleh pengguna telah bocor secara online. Tentu saja, ada sebagian masalah kecerobohan pengguna sendiri ketika menyimpannya. Tetapi alasan utama metode penamaan default yang ditetapkan Zoom terlalu sederhana. Setelah pengguna menyimpan video dalam disk cloud pihak ketiga sesuai dengan metode penamaan default, memungkinkan orang lain menggunakan metode penamaan yang sama untuk menemukan video lewat searching engine.

Dalam skenario penggunaan perusahaan, Zoom mungkin tidak perlu mempertimbangkan masalah ini, karena sangat sedikit pengguna yang akan meneruskan video rapat perusahaan ke Internet. Tetapi, bagi pengguna Biasa akan sangat bermasalah. Artinya, dari sisi mekanisme perlindungan privasi pengguna, Zoom ketinggalan dalam Mekanisme kebutuhan pengguna.

Contoh lain yang sangat menarik, banyak perusahaan terbiasa menggunakan email perusahaan. Jadi untuk kenyamanan “menemukan orang”, Zoom  memperlakukan orang yang menggunakan alamat email yang sama sebagai “kolega.” Zoom Secara otomatis, tentu saja mengecualikan penggunaan alamat email umum seperti Gmail dan Outlook. 

Tetapi ada Minoritas Email gratis yang digunakan beberapa pengguna di Belanda, dengan Sufiks yang sangat jarang seperti “dds.nl”. Zoom menganggapnya sebagai Email perusahaan. Akibatnya, sebagian orang asing dimasukkan dalam kategori “Perusahaan Directory” ini dapat meninjau alamat e-mail dan melakukan panggilan satu sama lain. Di sinilah aturan keamanan Zoom tidak dipertimbangkan dengan baik.

Krisis Aplikasi Konferensi Video Zoom
Krisis Aplikasi Konferensi Video Zoom (Image:NBC News)

Eric Yuan mengungkapkan pengeluaran litbang mereka kurang dari 10% dari total pendapatan perusahaan. Perusahaan sejenis pada umumnya menggunakan lebih dari 20% pendapatan untuk R&D. Namun, Zoom menghabiskan lebih dari setengah pendapatannya untuk Sales dan Marketing.

Dalam sebuah wawancara, Just like grandma says Eric Yuan mengatakan dia hanya tidur 3-4 jam sehari untuk melihat apakah ada masalah baru. “Kalau memungkinkan untuk kembali seperti dulunya, ketika perusahaan masih kecil dan sederhana melayani bisnis to B, “Tambahnya. Namun sayangnya, Dia hanya dapat menerima situasi saat ini, dan kemudian menemukan cara terbaik untuk menyelesaikan Krisis dan bergerak maju terus ke depan.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.