Krisis Kepercayaan Amerika Serikat

Krisis Kepercayaan Amerika Serikat dalam menangani Pandemi Covid-19 jatuh drastis dikalangan masyarakat Amerika. Di satu sisi, Pandemi Covid-19 telah menyebar cepat, jumlah kasus yang terinfeksi telah melebihi 738.913. Di sisi lain, Pandemi ini telah membawa dampak situasi ekonomi yang suram.

Pada minggu terakhir bulan Maret, jumlah orang yang mengajukan bantuan pengangguran di AS untuk pertama kalinya melebihi 6 juta orang, mencatat rekor terbaru sejarah Amerika. Pada hari-hari awal epidemi, pemerintah Amerika Serikat terlalu meremehkan dan tidak memberikan perhatian yang cukup dan akibatnya, melewatkan waktu terbaik untuk pencegahan epidemi. 

Setelah meletusnya wabah, berhubung Amerika Serikat adalah Negara federal, tidak ada pemerintah pusat yang kuat, yang bisa berfokus pada kekeuatan bermobilisasi besar untuk menangani masalah.

Krisis Kepercayaan Amerika Serikat

Namun baru-baru ini, “Atlantic Monthly,” menerbitkan sudut pandang yang sangat berbeda dari ilmuwan Politik terkenal Francis Fukuyama. Beliau berpendapat krisis yang dihadapi Amerika Serikat tidak ada hubungannya dengan sistem pemerintahan. Masalah terbesarnya adalah “krisis kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah.”

Fukuyama percaya AS memiliki seperangkat tradisi politik dan konstitusional yang dapat memberikan pemerintah federal wewenang yang cukup di saat kritis. Terutama kekuasaan untuk menyelesaikan masalah nasional seperti Pandemi pneumonia virus Corona. Tradisi kekuasaan ini bernama “Energi kekuasaan eksekutif ” (Energy in The Executives). Kata tersebut berasal dari salah satu Bapak pendiri Amerika Serikat, namanya Alexander Hamilton.

Konstitusi Amerika Serikat juga telah membentuk kekuasaan legislatif, yudikatif dan eksekutif bagi pemerintah federal yang mempunyai wewenang untuk saling mengecek dan menyeimbangkan. Namun, Hamilton menekankan ketika negara Paman Sam menghadapi krisis, seperti perang atau pemberontakan domestik, Kongres yang mewakili kekuasaan legislatif atau Mahkamah Agung yang mewakili kekuasaan yudisial cenderung tidak memiliki waktu untuk bereaksi. Sehingga, tidak dapat mengambil tindakan tegas dan efektif.

Situasi sangat mendesak seperti ini harus bergantung pada cabang Eksekutif yang dipimpin oleh presiden Donald Trump. Menurut pernyataan Hamilton di Artikel ke 70 “Antologi  Federalist,” mengatakan baik Kongres maupun pengadilan terdiri dari banyak orang, memerlukan waktu yang sangat panjang untuk membahas bahkan berdebat satu sama lain, sampai akhirnya membuat keputusan. 

Namun Presiden adalah satu-satunya badan dimana seluruh cabang eksekutif harus mematuhi dan mendengarnya. Jadi menurut Hamilton: ” seseorang dalam bertindak mengambil keputusan, lebih fleksibel, condifential, dan tepat waktu dibandingkan orang banyak.”

Oleh karena itu dalam keadaan khusus, Presiden dan Badan Eksekutif di bawah kepemimpinannya harus diberikan kekuasaan yang lebih besar untuk memainkan peranannya. Di masa yang spesial, harus ada orang yang berkemampuan luar biasa dan pengaturan yang luar biasa.

Konsep “Energy in the Executives”, setara dengan memberikan jalan “Pintu Belakang” bagi Presiden Amerika Serikat dalam menjalankan pemerintahan Darurat.

Dalam sejarah Amerika Serikat , ada banyak presiden AS yang menggunakan kekuasaan “pintu belakang” ini untuk keluar dari krisis dan menyelesaikan masalah. Misalnya, selama Perang Sipil Amerika. Presiden Abraham Lincoln mengerahkan pasukan 1 juta orang. Pada saat itu, jumlah penduduk Amerika Serikat kurang dari 20 juta.

Bayangkan, 5% dari populasi dimobilisasikan untuk berpartisipasi dalam perang. Bahkan Presiden Lincoln mengerahkan pasukan memerangi Pasukan Selatan tanpa izin dari Kongres.

Contoh lainnya, selama Perang Dunia II, Presiden Franklin Roosevelt melaksanakan UU Sewa atau Lease Act untuk melawan fasis Inggris, Perancis, Uni Soviet dan China. Dengan menyediakan sejumlah besar persediaan dan peralatan perang, dan dalam pelaksanaannya  juga menghindari Kongres.

Bahkan di awal abad ke – 21, Jalan “pintu belakang” ini masih dipraktikkan dalam politik Amerika. Misalnya, dalam krisis keuangan 2008 , The Fed diberikan kekuasaan yang belum pernah terjadi sebelumnya dengan menggunakan ratusan miliar dolar untuk mendukung beberapa lembaga keuangan terpenting AS. Pada saat itu, Kongres AS juga dilewatkan dalam pengawasan proses ini.

Karena itu, Francis Fukuyama mengatakan bila perlu, badan-badan Administrasi Amerika memiliki wewenang untuk mengfokuskan kekuatan menyelesaikan masalah. Dari serangkaian krisis di atas, sebenarnya Otoritas lembaga Administrasi pemerintah AS semakin meningkat kekuasaannya.

“Karena itu, mengapa situasi Pandemi di Amerika Serikat meluas tak terkendalikan seperti sekarang ini?”

Francis Fukuyama menekankan premis yang sangat penting, yaitu, ” kepercayaan “. Pada titik inilah, masalah serius yang tengah dialami masyarakat Amerika Serikat.

Kepercayaan masyarakat ini dibangun atas dasar dua landasan. Pertama, masyarakat Amerika harus percaya bahwa semua pekerja di Badan Eksekutif adalah berpendidikan dan profesional. Dengan keterampilan profesional, membuat mereka lebih dapat diandalkan dalam mengambil keputusan. Sama seperti di tahun 2008.

Pada saat itu Ketua The Federal Reserve Ben Bernanke, seorang profesional yang sangat Senior dalam menangani Depresi Ekonomi Negara, sehingga Beliau memperoleh banyak kepercayaan dari masyarakat.

Aspek kedua adalah kepercayaan rakyat Amerika terhadap presiden Amerika. Para presiden disebutkan sebelumnya, seperti Abraham Lincoln dan Franklin Roosevelt, mendapatkan kepercayaan yang sangat tinggi selama masa pemerintahan mereka. Sehingga, perjuangan mereka telah menjadi simbol seluruh negara. Pada saat itu, kepercayaan Rakyat Amerika terhadap “backbone” tim inti pemerintah mendapatkan kepercayaan sepenuhnya.

“Tetapi sayangnya, apa yang dilakukan Donald Trump telah menghancurkan dua pilar kepercayaan ini, menyebabkan Amerika Serikat jatuh dalam krisis kepercayaan politik baik dalam Masyarakat Amerika maupun internasional, “kata Francis Fukuyama.

Beliau menunjukkan dua bukti dan sumber krisis kepercayaan Amerika Serikat akibat ulah Presiden Trump. Di satu sisi, tindakan Trump telah merusak kepercayaan publik terhadap para Pakar. Fukuyama menambahkan, Fondasi pemilihan Trump berasal dari 35% hingga 40% populasi AS yang mendukungnya tanpa persyaratan apapun. 

Dalam tiga setengah tahun pemerintahan Trump, Trump telah menanamkan konsep yang sangat dalam, namanya “Deep State” atau “Pemerintahan Bayangan” kepada para pendukungnya  Artinya, “selain Gedung Putih, Negara Amerika Serikat juga memiliki kelompok Minoritas yang diam-diam memanipulasi politik Amerika untuk keuntungan mereka sendiri.”

Dampak dari konsep ini sangatlah nyata, menurut Francis Fukuyama. Yaitu, para pendukung Trump akan selalu percaya selama ada pejabat pemerintah atau Kongres yang bertentangan dengan Donald Trump, maka mereka adalah Anggota “pemerintahan bayangan” yang tidak layak dipercaya.

Bahkan di dalam Gedung Putih sendiri, konsep ini terus memainkan pengaruhnya. Misalnya, dalam beberapa tahun terakhir, anggota partai Amerika Serikat sedang membersihkan lembaga-lembaga federal dan menyapu keluar mereka yang menentang Trump. 

Fukuyama berprediksi bahwa Donald Trump ingin menyapu keluar Anthony Stephen Fauci, Direktur Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular dengan alasan bertentangan dengan Presiden Trump.

Akibat dari serangkaian tindakan ini membawa dampak bahwa beberapa posisi paling penting dalam pemerintahan AS akan jatuh pada tangan sekutu politik Trump. Ini adalah contoh penghancuran kepercayaan eksekutif oleh Trump sendiri.

Di sisi lain, segala tindakan Trump juga semakin menghancurkan kepercayaan Masyarakat Amerika terhadap presiden Trump.

Selama tiga setengah tahun masa kepresidenan Trump, dia tidak pernah mengambil cara apa pun untuk membangun kepercayaan bagi mereka yang tidak memilihnya sejak awal. Sebagai contoh, konferensi pers tanggal 20 Maret yang diadakan di Gedung Putih. Pada saat itu, ada seorang wartawan NBC bertanya kepada Presiden Trump, “Ada jutaan orang Amerika hidup dalam kepanikan karena Pandemi Covid-19, apa saran dan komentar Anda untuk mereka? “

Akibatnya, tebak apa yang dikatakan Presiden Trump terhadap wartawan ini? 

Krisis Kepercayaan Amerika Serikat
Krisis Kepercayaan Amerika Serikat (Image: The Hill)

“Trump merespons, bahwa reporter NBC adalah reporter yang paling buruk, pertanyaannya mengirimkan sinyal yang sangat berbahaya kepada rakyat Amerika.”

Fukuyama menegaskan jawaban Trump sebenarnya mewakili pandangan umum Partai Konservatif Amerika. Mereka sepenuhnya yakin “bahwa kepanikan seputar topik Pandemi adalah konspirasi Partai Demokrat untuk menggulingkan Pemerintahan Trump.”

“Krisis kepercayaan Amerika Serikat” yang diakibatkan oleh Presiden Trump akan membawa Dampak konsekuensi yang sangat serius. Akibatnya, usaha pengendalian wabah virus Corona pemerintah AS akan mengalami banyak tantangan.

Misalnya, ketika Kongres AS meloloskan RUU $2 Triliun Stimulus Perusahaan, Partai Demokrat mengusulkan untuk memasukkan persyaratan “transparansi” dalam RUU. Tetapi ketika Trump menandatanganinya, ia mengatakan bahwa RUU ini tidak akan terikat oleh klausul transparansi.

“Lalu, Apa konsekuensinya?”

Segala kekuasaan Darurat apa pun yang digunakan untuk membantu perusahaan yang memerlukan subsidi akan diragukan dan dipersulit nantinya. Sangat Jelas, Hal ini semakin memperdalam krisis kepercayaan yang dihadapi pemerintah AS setelah Pandemi.

Just like grandma says, Tantangan yang dihadapi Amerika Serikat dalam menangani Pandemi, pada dasarnya adalah “Krisis kepercayaan Politik.” Demikian pula halnya dengan Pasar Saham, Pasar Saham adalah pasar tentang “kepercayaan,” dimana pada kenyataannya, banyak sistem masyarakat manusia pada dasarnya bergantung pada “kepercayaan orang atau Masyarakat yang terlibat didalamnya.”

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.