Kunci Persaingan AI China-AS

Kunci Persaingan AI China-AS lebih seperti perlombaan estafet, bukannya “Zero Sum Game” pertandingan Sprint 100 meter. Kemarin, pemerintah AS berubah sikap pemblokiran terhadap Huawei telah menarik perhatian dunia. Menurut Kantor Berita Reuters, Departemen Perdagangan AS akan mengubah aturan daftar entitas dan memperbolehkan perusahaan AS untuk bekerjasama dengan Huawei dalam mengembangkan standar 5G

Ricky membahas masalah ini dalam artikel kemarin, mengapa Pemerintah AS tiba-tiba melunak. Amerika Serikat merasa tertinggal dalam Teknologi Baru ini. Mereka tidak akan menyerah dalam inovasi global. Kita dapat membayangkan Pengaturan Standar Jaringan 5G  akan membawa dampak signifikan pada ekosistem inovasi masa depan. Dengan ataupun tanpa Amerika Serikat.

Kunci Persaingan AI China-AS

Dari pernyataan Menteri Perdagangan AS, kita dapat merasakan bahwa Amerika Serikat sangat sadar krisis tentang kehilangan posisi kepemimpinan di bidang sains dan teknologi. Ketika berbicara tentang persaingan Teknologi dengan China, kebanyakan golongan Elit Amerika selalu memiliki mentalitas zero-sum game.

Mereka selalu berpandangan bahwa pertandingan kedua negara seperti perlombaan Sprint 100 meter di trek lapangan, dan hanya boleh ada satu Pemenang. Tapi situasi sebenarnya tentu saja jauh lebih rumit daripada zero-sum Game.

Penelitian Think tank Amerika, Paulson Family Foundation menekankan Hubungan antara China dan Amerika Serikat di bidang teknologi mutakhir bukan seperti Sprint 100 meter. Mereka secara khusus menganalisis komposisi khusus dari talenta top di bidang kecerdasan buatan di Amerika Serikat, China, Uni Eropa, dan negara lainnya.

Paulson Family Foundation mencapai kesimpulan yang cukup menarik. Alasan mengapa Amerika Serikat dapat meraih posisi terdepan global di bidang kecerdasan buatan tidak terlepas dari “Pasokan Talenta dari China.” 

Sejak tahun lalu, salah satu diskusi paling HOT apakah China telah menyalip Amerika Serikat di bidang AI. Pada bulan Maret tahun lalu, Allen Institute of Artificial Intelligence di Seattle, Washington AS menerbitkan laporan yang cukup menarik perhatian Publik. 

Setelah menganalisis lebih dari 2 juta makalah AI, mereka menemukan bahwa sejak tahun 2006, jumlah makalah AI yang diterbitkan oleh Lembaga Akademik China telah melampaui Amerika Serikat.

Dalam hal kualitas Makalah, pihak Tiongkok juga mengejar ketinggalan dengan cepat. Sebagai contoh, menurut jumlah referensi 10% teratas makalah AI Dunia, proporsi pangsa AS dari tahun 1982 mencapai 47%, turun drastis ke 29% di tahun 2018. Sementara, China hampir dari awal selama 10 tahun terakhir berkembang sangat cepat. Pada 2018, sudah menyumbang 26,5%. 

Penelitian ini juga memperkirakan bahwa pada tahun 2025, di antara 1% makalah teratas di dunia, lembaga-lembaga Tiongkok akan memberikan kontribusi jauh lebih besar daripada Amerika Serikat.

Prediksi ini jelas membuat orang Amerika panik. Beberapa politisi mulai memanfaatkan berita ini dan mengatakan, “coba Lihat, China berlari begitu cepat dan memiliki ambisi besar, orang Amerika harus berusaha memblokir dan mengambil langkah cepat untuk tetap memimpin di depan.”

Selama kepemimpinan Presiden AS Donald Trump dalam beberapa tahun ini, Amerika Serikat telah mengeluarkan serangkaian kebijakan yang membatasi aliran Talenta ilmiah dan teknologi Tiongkok. Serta membatasi pertukaran Akademik Tiongkok-AS. 

Logika di balik kebijakannya adalah para Talenta China pergi ke Amerika Serikat untuk mempelajari teknologi paling maju, kemudian dibawa kembali ke China. Setara dengan menuduh Talenta China ” mencuri ilmu dari gurunya, Amerika Serikat ” .

Tuduhan seperti itu jelas sangat lucu dan tidak benar. Penelitian yang dilakukan oleh Paulson Family Foundation ini membuktikan tuduhan Trump itu ngawur. Mereka menunjukkan beberapa fakta data. Fakta mengenai Tata Letak Talenta Terbaik AI di dunia.

Studi ini menghitung dari Konferensi Neuroinformatika, Darimana Negara dan wilayah tempat penulis makalah yang terpilih berasal.

Menurut artikel Qubit, Neural Information Processing Conference atau Konferensi Pemrosesan Informasi Saraf Tiruan adalah “Konferensi Top AI paling bergengsi di dunia.” Bagi para Pakar komputer terutama Pakar penelitian AI, dapat dikatakan bahwa tidak ada yang tidak tahu tentang Konferensi tersebut.

Setiap tahunnya, penyelenggara Konferensi akan meminta makalah dari para peneliti AI di seluruh dunia. Dari banyaknya makalah yang terkumpul, Hanya 20% makalah yang dipilih.

Setelah menganalisis makalah 2019, Lembaga Paulson Family Foundation mencapai kesimpulan sebagai berikut.

Pertama, Amerika Serikat masih merupakan produsen Top penelitian Akademik terbaik di bidang AI. Bila ditinjau Dari sisi tempat kerja, 59% peneliti AI Top Dunia bekerja di lembaga AS seperti Google, MIT, Universitas Carnegie Mellon, Microsoft, dan sebagainya. 

Para peneliti yang bekerja di institusi China seperti Universitas Peking dan Universitas Tsinghua, hanya mendominasi 11%. Sedangkan, mereka yang bekerja di institusi Uni Eropa dibawah 10%. Dalam sektor AI, jika kita melihat jumlah absolut Talenta Teratas, Amerika Serikat masih menempati Urutan Pertama dan jauh memimpin di depan. Ini sangat konsisten dengan persepsi banyak orang sebelumnya.

Namun kesimpulan kedua sangatlah menarik perhatian Ricky. Lembaga Paulson tidak hanya menganalisis dari segi tempat para peneliti AI bekerja, tetapi juga menganalisis Asal tempat mereka menerima Pendidikan Sarjana. Hasil Statistik Mereka menunjukkan meskipun hampir 60% peneliti bekerja di Amerika Serikat, Namun tidak sampai 20% dari mereka menerima pendidikan Sarjana di Amerika Serikat . 

Kalau begitu, Dari mana peneliti AI lainnya menerima pendidikan Sarjana mereka? 

Jawabannya, Di China.

Jumlah Pakar Peneliti yang menerima Pendidikan Sarjana China adalah yang terbanyak, mendominasi lebih dari 29%, hampir 1/3. Kemudian, diikuti oleh Uni Eropa sebesar 18%, lalu India 8%.

Dengan kata lain, sebagian besar Pakar Peneliti AI Top Dunia berasal dari China dan negara lain. Mereka kemudian pergi ke Amerika Serikat untuk melanjutkan pendidikan PascaSarjana. Baru kemudian tinggal di Amerika Serikat untuk bekerja di perusahaan Amerika dan lembaga penelitian Akademis lainnya. 

Kesimpulannya, China telah menyumbangkan kelompok Pakar peneliti AI terbesar ke lembaga-lembaga Amerika ini.

Kesimpulan ketiga, adalah bahwa lebih dari setengah dari semua peneliti AI Top Dunia, 53% bekerja di tempat yang berbeda dari Pendidikan Sarjananya. Dengan kata lain, penelitian AI sendiri adalah bidang yang sangat internasional. Sebagian besar makalah Teratas ditulis bersama oleh para peneliti dari berbagai negara. Bukan hanya Amerika Serikat.

Penelitian ini juga membuat diagram yang cukup menarik, tentang jalur pendidikan dan pengembangan karir penulis konferensi pemrosesan informasi saraf tiruan. 

Gambar ini melukiskan Tata Letak Talenta AI Top Dunia. Kita dapat melihat bahwa Amerika Serikat ibarat magnet, berhasil menarik para Talenta Top AI dari seluruh dunia. Talenta dari Amerika Serikat dan China masing-masing menyumbang sepertiga untuk Amerika Serikat. Sepertiga sisanya berasal dari India, Iran, Uni Eropa, Korea Selatan, Israel, dan sebagainya.

Ada beberapa Pakar Top AI dari China yang bekerja di Amerika Serikat, seperti Profesor Stanford Li Feifei. Beliau adalah seorang pemimpin dalam bidang visi komputer, yang pernah bergabung dengan Google sebagai Ilmuwan kepala Google Cloud.

Contoh lainnya adalah Deng Li, Kepala Ilmuwan AI dari Hedge Fund Citadel. Beliau adalah seorang pemimpin dalam bidang pengenalan suara atau Speech Recognition, dan telah memberikan kontribusi penting pada ponsel yang kita gunakan sehari-hari.

Anda mungkin tidak pernah membayangkan bahwa dalam dua tahun sebelumnya, ketika hubungan Tiongkok-AS tidak setegang sekarang, banyak proyek-proyek Departemen Pertahanan AS justru menggunakan Pakar-pakar China. 

Pada tahun 2017, Departemen Pertahanan AS meluncurkan proyek bernama Project Maven,yang ingin menggunakan teknologi AI untuk mereformasi kekuatan militer AS. Pada saat itu, proyek tersebut diserahkan kepada Google. Dan kebanyakan Anggota Tim Google berasal dari China.

Kunci Persaingan AI China-AS
Kunci Persaingan AI China-AS (Image: WSJ)

Jadi kita dapat melihat, dalam bidang kecerdasan buatan, Tiongkok tidak hanya bersaing dengan Amerika Serikat. Bahkan pada batas tertentu, Tiongkok adalah pemasok terpenting kekuatan ilmiah dan teknologi AS. Tanpa input Talenta Tiongkok, daya saing AI dari AS akan menurun drastis.

Just like grandma says, ketika pemerintah Donald Trump memperketat pengontrolan atas Talenta ilmiah dan teknologinya, beberapa lembaga AS mulai khawatir kunci persaingan AI China-AS dalam jangka panjang, pasti akan membawa Dampak Negatif terhadap Dominasi Amerika di bidang kecerdasan buatan.