Leverage BuyOut cara permainan emas di Wall Street

Leverage BuyOut cara permainan emas di Wall Street. Apanya yang spesial dan menarik? Leverage BuyOut (LBO) maksudnya dengan menggunakan dana kecil sendiri dan memanfaatkan dana besar dari eksternal untuk melakukan akuisisi.

Beberapa waktu yang lalu, ada bintang film terkenal Tiongkok dihukum oleh Komisi Pengaturan Sekuritas. Dia menggunakan leverage terlalu tinggi untuk melakukan akuisisi. Pada waktu itu, perusahaan yang akan di akuisisi bernilai lebih dari 3 miliar yuan. Dia hanya menggunakan 60 juta yuan untuk membelinya. Artinya, Anda ingin membeli barang berharga 100 yuan, tetapi Anda hanya membayar 2 yuan. Selebihnya, 98 yuan Anda peroleh dari pinjaman. Dia Bermaksud menggunakan leverage 50 kali untuk bermain permainan gajah menelan ular. Inilah Leverage BuyOut cara permainan emas di Wall Street.

Leverage BuyOut cara permainan emas di Wall Street

Mungkin ada yang merasa akuisisi semacam ini suatu hal yang tidak baik. Namun, pernyataan ini kurang tepat. LBO kadang dapat berupa malaikat atau iblis. Kuncinya tergantung pada bagaimana kita menggunakannya.

Leverage BuyOut cara permainan emas di Wall Street ditemukan oleh seorang bankir investasi Amerika bernama Jerome Kohlberg pada 1960-an. Pada saat itu, ada banyak usaha kecil yang dikelola oleh keluarga. Mereka beroperasi dengan baik dengan keuntungan yang stabil. Tetapi karena pemiliknya sudah tua, mereka ingin menjual perusahaannya untuk uang tunai. Para pemilik usaha ini telah berkecimpung dalam bisnis selama puluhan tahun. Perusahaan tersebut sudah seperti anaknya sendiri.

Pemilik perusahaan memiliki perasaan yang sangat dalam untuk perusahaannya. Mereka masih ingin terus mengelola perusahaan. Dalam istilah kita saat ini, mereka hanya ingin menjual kepemilikan, tetapi mempertahankan hak manajemen perusahaan.

Tetapi situasi di pasar saat itu Hanya perusahaan besar yang memiliki banyak uang untuk membeli perusahaan. Bila dijual ke perusahaan besar, sulit bagi perusahaan kecil untuk mempertahankan hak kontrol.  

Jerome Kohlberg adalah seorang bankir senior di Bear Stearns, sebuah bank investasi besar di AS. Pada tahun 1965, ia bertemu dengan seorang pemilik perusahaan kecil yang menjual tambalan gigi tiruan. Perusahaan ini berskala kecil. Tetapi keuntungannya sangat bagus. Bos gigi tiruan ini berusia di atas enam puluh tahun. Kesehatannya mulai menurun. Tetapi, dia merasa belum terlalu tua. Dia masih ingin terus menjalankan usahanya. Dia cuma ingin meninggalkan sedikit warisan untuk keluarganya.

Kohlberg lalu memprediksi harga pasar perusahaan gigi tiruan ini. Total sekitar $9,5 juta. Kohlberg sendiri mengeluarkan 1,5 juta dolar dari koceknya. Kemudian dengan jaringannya berhasil meminjam 8 juta dolar dari berbagai saluran. Ini setara dengan membeli perusahaan dengan leverage 85%. Setelah membelinya, Kohlberg bilang dia tidak akan mengendalikan perusahaan tersebut. Tetapi membiarkan bos tua tadi terus beroperasi  menjalankan bisnisnya. 8 juta hutang dan pendapatannya digunakan untuk membayar hutang pokok dan bunga perusahaan.

4 tahun kemudian, perusahaan beroperasi sangat stabil. Rasio utangnya perlahan-lahan mulai mengecil dan terlunasi. Pada saat ini, Kohlberg kembali menggunakan pengemasan dan kemampuan salesnya yang luar biasa untuk mengemas perusahaan ini. Kemudian Go Publik. Pada akhirnya, Kohlberg mendapatkan keuntungan 8 kali lipat.  

Oleh karena itu, leverage BuyOut tidak rumit sama sekali. Dengan meminjam uang untuk membeli bisnis, dan kemudian menggunakan cara leverage BuyOut untuk mendapatkan hak kepemilikan bisnis.

Setelah kasus ini Kohlberg bergabung dengan dua bankir investasi muda lainnya, Kravis dan Roberts. Mereka mendirikan dana yang disebut KKR. Kohlberg Kravis Robert & Co. Perusahaan yang mengumpulkan dana di pasar dan berspesialisasi dalam akuisisi dengan leverage.

Leverage BuyOut bukan selalu hal yang buruk. Karena cara ini bisa mencapai situasi win-win untuk banyak pihak. Namun, untuk mencapai hasil win-win harus memenuhi beberapa syarat.

Pertama, arus kas atau cash flow dan laba perusahaan harus sangat berlimpah dan stabil. Jika arus kas tidak stabil dan bunga tidak bisa dibayarkan, perusahaan akan mudah bangkrut. Sebagai contoh, perusahaan biofarmasi. Walaupun kadang labanya bagus tahun ini, tetapi laba tahun depan belum tentu akan baik. Jadi selama tahun depan tidak dapat membayar hutang pokok dan bunga pinjaman, perusahaan akan bangkrut nantinya.

Kedua, kemampuan manajemen perusahaan yang bisa benar-benar diandalkan. Karena rasio hutang Leverage BuyOut akan sangat tinggi dan besar.

Ketiga, rasio leverage BuyOut harus moderat. Rencana pembiayaan harus konsisten dengan kondisi operasi perusahaan. Karena rasio leverage yang tinggi akan membawa beban berat. Hanya ketika semua aspek dapat terpenuhi, perusahaan baru dapat mencapai win-win.  

Leverage BuyOut cara permainan emas di Wall Street
Leverage BuyOut cara permainan emas di Wall Street (Sumber: wsj)

Misalnya lagi, KKR&Co. mengakuisisi perusahaan Yellow Pages Kanada pada tahun 2002. Setelah penelitian, mereka menemukan karyawan Kanada terlalu malas. KKR kemudian merekrut seorang pakar SDM. Mendesain ulang mekanisme manajemen. Kemudian menetapkan setiap karyawan harus melakukan lebih dari 20 panggilan telepon per hari. Hasilnya, penjualan perusahaan berlipat ganda dalam setengah tahun. Sehingga, mereka bisa cepat mewujudkan profit.

Leverage BuyOut cara permainan emas di Wall Street ini tidak selalu sukses bagi KKR&Co. Misalnya, kasus yang sangat terkenal ketika KKR berusaha mengakuisisi R.J. Reynolds Nabisco Tobacco company. Perusahaan tembakau terbesar di Amerika Serikat. Senilai $24,6 miliar dolar pada tahun 1986.  

Pada saat itu, manajemen dan bank investasi melakukan penipuan. Ada sebuah buku terlaris berjudul “Barbarians at the Gate” yang ditulis oleh Bryan Burrough dan John Helyar. Buku tersebut khusus menulis kasus ini.

KKR menggunakan skema pembiayaan terstruktur yang sangat rumit. Rasio leverage BuyOut lebih dari 90%. Namun, bisnis industri tembakau perlahan-lahan menurun. KKR yang sebelumnya adalah perusahaan yang sangat baik, pada akhirnya kewalahan oleh rasio utang yang tinggi. Akibatnya pada tahun 1995, KKR keluar dari investasi ini dengan NOL laba.  

Just like grandma says, leverage BuyOut cara permainan emas di Wall Street bisa menjadi  malaikat atau sebaliknya menjadi iblis. Semuanya, harus dianalisis berdasarkan kasus per kasus. Situasi di China saat ini agak mirip dengan kondisi Amerika Serikat pada 1970-an. Sekelompok pengusaha di tahun 1950-an yang perlahan-lahan mulai memasuki usia pensiun. Generasi berikutnya, Era Millennials 80-an dan 90-an. Gaya hidup generasi ini lebih beragam. Banyak diantaranya tidak ingin meneruskan bisnis keluarga. Sehingga banyak perusahaan kecil dan menengah menghadapi situasi leverage BuyOut.  

Ditambah dengan modal murah dan suku bunga global yang rendah saat ini. Jadi kita bisa melihat akan ada banyak gelombang Leverage BuyOut di China di masa depan. Tren ini patut menjadi perhatian para bank investasi dan perusahaan. Bagi orang awam, mungkin patut juga memperhatikan hal ini. Karena begitu kita memasuki masa leverage BuyOut, perusahaan-perusahaan ini akan memiliki premi yang cukup besar dan merupakan target investasi yang sangat baik.

Advertisements
Categories: Leverage BuyOut cara permainan emas di Wall Street

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: