Lingkaran perangkap kemiskinan

Lingkaran perangkap kemiskinan merupakan masalah besar yang dihadapi bangsa Indonesia. Dalam seminggu terakhir, Hadiah Nobel 2019 Ekonomi tahun ini diberikan kepada tiga ekonom yang berkontribusi dalam pengentasan kemiskinan. Alasan utama penghargaan ini adalah untuk menemukan cara baru membantu orang miskin: percobaan terkontrol secara acak. Setelah penghargaan diberikan, menimbulkan banyak kontroversi.

Ada yang berpikir metode mereka didasarkan dan menyumbangkan ide-ide baru untuk penelitian ekonomi. Namun, ada juga yang berpendapat metode seperti itu tidak dapat direproduksi. Tentu saja, ada juga suara Untuk mempelajari pengentasan kemiskinan, mereka tidak mempelajari hasil pengentasan kemiskinan di Tiongkok, bagaimana Beijing membawa rakyatnya keluar dari garis kemiskinan selama lebih dari 30 tahun.

Lingkaran perangkap kemiskinan

Sebenarnya, banyak kesalahpahaman orang tentang kemiskinan. Orang-orang menganggap kemiskinan seringkali berasal dari satu sebab. Kemiskinan sama dengan kekurangan uang. Masalah ekonomi sederhana. Untuk menghilangkan kemiskinan, hanya perlu meningkatkan bantuan pemerintah atau organisasi internasional.

Namun, ada juga yang berpendapat kemiskinan adalah masalah moralitas. Orang miskin karena memiliki kebiasaan yang buruk, seperti kebodohan, kemalasan, hedonisme dan sebagainya. Walaupun, mereka mendapatkan bantuan keuangan, tetapi tetap tidak tahu bagaimana memperbaiki kehidupan mereka. Mereka akan terus mengembangkan kebiasaan buruk seperti makan, minum, berjudi dan sebagainya.

Namun, Profesor Abhijit Banerjee peraih Nobel di bidang ekonomi dari MIT menunjukkan bahwa kemiskinan tidak disebabkan oleh satu sebab saja. Tetapi oleh superposisi dari serangkaian masalah. Akar kemiskinan bukanlah kemalasan, kebodohan maupun hedonisme, melainkan orang-orang terjebak dalam Lingkaran perangkap kemiskinan. The Vicious circle of poverty. Atau Lingkaran setan kemiskinan.

Ada pepatah mengatakan, “Negara-negara miskin menjadi miskin karena mereka miskin.” Sederhananya, makna kemiskinan bukan hanya hasilnya, tetapi juga penyebab kemiskinan.

Ekonom Amerika bernama Nax dengan teori siklus kemiskinannya, orang-orang di negara miskin memiliki tingkat pendapatan yang sangat rendah. Dan secara alami daya konsumsi mereka juga tidak tinggi. Sehingga, pabrik tidak bisa memperluas produksi atau menarik investasi. Hasilnya, tentu saja adalah output yang rendah dari seluruh industri dengan rendahnya pendapatan masyarakat. Inilah lingkaran setan kemiskinan.

Profesor Banerjee juga mengungkapkan fenomena yang menarik. Di antara orang-orang miskin, kebiasaan buruk seperti alkoholisme dan perjudian sangatlah umum. Kebiasaan ini mungkin merupakan konsekuensi dari kurangnya harapan bagi orang miskin.

Namun, menurut Profesor Banerjee karena kesulitan ekonomi, sehingga orang miskin tidak mampu menunggu investasi periode pengembalian yang panjang dan lama. Mereka lebih cenderung mengejar hasil langsung dan jangka pendek seperti membeli lotre, minum alkohol, bermain game, memilih saham berisiko tinggi, operasi dengan leverage tinggi, dan bahkan bergabung dengan organisasi MLM.

Secara alami, kemampuan orang miskin untuk melawan risiko pada dasarnya rendah.  Pilihan strategi investasi mereka yang terlalu agresif membuat mereka lebih rentan terjebak dalam perangkap kemiskinan.

Tantangan lainnya menurut Profesor Banerjee adalah, bahwa orang tua dari keluarga miskin sering memandang pendidikan sebagai taruhan atau lotere. Bukannya investasi stabil jangka panjang. Misalnya, sebagian besar orang tua di Udaipur India memandang pendidikan sebagai cara agar anak-anak mereka mendapatkan banyak kekayaan. Namun, mereka sering meremehkan sulitnya menghilangkan kemiskinan melalui pendidikan.

70% orang tua percaya bahwa selama mereka lulus dari sekolah menengah, mereka bisa mendapatkan pekerjaan dipemerintahan. Memiliki penghasilan yang stabil.  Namun kenyataannya, hanya 33% dari mereka yang bisa mendapatkan pekerjaan semacam ini setelah lulus SMA. Dalam pikiran mereka, investasi dan pengembalian dalam pendidikan tidak berbanding lurus. Akibatnya mereka mudah kehilangan kesabaran.

Lingkaran perangkap kemiskinan
Lingkaran perangkap kemiskinan bukan hanya karena kebiasaan, melainkan juga karena lingkungan

Dalam menghadapi kemiskinan, Professor Banerjee tidak memiliki metodologi universal. Metodenya adalah membagi masalah besar kemiskinan menjadi masalah kecil khusus, dan mengusulkan solusi untuk setiap masalah spesifik. Misalnya, supaya penduduk desa bisa mendapatkan air bersih, tim Banerjee memasang alat sterilisasi di samping sumur di setiap desa. Atau Misalnya, untuk meningkatkan proporsi anak-anak keluarga miskin divaksinasi, mereka akan memberi hadiah 2 pon kacang kering untuk setiap anak yang di vaksinasi.

Just like grandma says, Untuk pengentasan kemiskinan, Professor Banerjee memiliki metafora yang sangat tepat. Dimana pada sebelumnya, orang-orang cendrung menggunakan peluru perak (silver bullet). Artinya, satu obat atau cara mujarab untuk mengatasi segala macam kemiskinan. Tapi sebenarnya, yang harus kita lakukan adalah palet perak dengan berbagai jenis peluru. Menggunakan obat yang tepat untuk setiap gejala yang berbeda.

Advertisements
Categories: Lingkaran perangkap kemiskinan

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: