Manusia adalah monyet yang mencari status

Manusia adalah monyet yang mencari status, Mengapa Demikian? Baru-baru ini, Jack Dorsey CEO Twitter dengan high profile mengumumkan untuk membatalkan “following” akun CEO Facebook Mark Zuckerberg. Banyak media memperkirakan mungkin karena Facebook menolak untuk memblokir atau memverifikasi iklan politik di platformnya.

Namun, banyak orang berpikir alasan di baliknya adalah transformasi jaringan sosial baru yang akan dipromosikan oleh Twitter. Karena Twitter telah mengalami penurunan saat ini seperti Facebook. Di Pertengahan bulan ini, Jack Dorsey mengumumkan Twitter akan berinvestasi besar mengembangkan standar baru untuk jaringan sosial terbuka dan terdesentralisasi. Secara sederhana, meniru cara kerja teknologi blockchain. Sehingga, konten di jejaring sosial tidak lagi bergantung pada rekomendasi algoritmik resmi yang tersentralisasi dari para raksasa internet. Melainkan, melalui beberapa pihak ketiga untuk penyaringan dan tampilan.

Manusia adalah monyet yang mencari status

Mengapa di desentralisasi?  

Menurut Jack Dorsey, algoritma media sosial yang ada saat ini sering mengarahkan perhatian orang pada konten yang menyesatkan dan provokatif. Tujuan mempromosikan desentralisasi adalah untuk memperkenalkan algoritma yang lebih baik. Menyaring yang lebih sehat. Istilahnya, Konten yang lebih harmoni.

“Visi ini kedengarannya menakjubkan? “ Apakah Twitter benar-benar melakukan ini karena tanggung jawab sosial?”

Sebagai media sosial arus utama, menyerahkan hak pemilihan konten dan rekomendasi kepada pihak ketiga, apakah itu benar-benar menguntungkan pengembangan Twitter sendiri?

Mungkin Artikel “Status as a Service” bisa menjawabnya. Penulis artikel ini adalah Eugene Wei. Kepala Analis departemen strategi Amazon. Juga pernah menjabat Kepala produk terkenal Hulu dan Flipboard. Dalam artikelnya, Eugene memperkenalkan dimensi baru dan modal sosial untuk menjelaskan hukum yang mendasari di balik iterasi dan pergantian jaringan sosial.

Sekarang pertanyaannya, Mengapa orang-orang sangat membutuhkan jejaring sosial di Era Internet? Apakah hanya untuk menjaga komunikasi dan interaksi dengan orang lain?  

Jika ini masalahnya, mengapa para internet celebrity atau KOL begitu peduli dengan banyak penggemarnya dan internet traffic?

Semuanya demi untuk akumulasi Modal Sosial atau social capital. Tujuan utama akumulasi modal sosial adalah “status atau pengaruh.”  

Status pertama, “manusia adalah monyet yang mencari status” (People are status seeking-monkeys).

Status kedua, orang akan mencari cara yang paling efektif untuk mendapatkan modal sosial (People seek out the most efficient path to maximizing social capital).

Kedua prinsip dasar ini bersama-sama membentuk hukum dasar jejaring sosial.

Pada Awalnya, media sosial menarik perhatian pengguna karena kepraktisannya. Seperti Facebook, Twitter dan Weibo. Mereka memungkinkan kita untuk berkenalan dengan orang asing. Memahami status dinamika mereka. Sedangkan, WeChat memungkinkan kita untuk mengobrol dengan teman dekat melalui teks atau suara. Tidak perlu lagi membayar jumlah item seperti pesan teks. Inilah artinya fungsi praktis.

Apakah jaringan sosial pasti akan populer jika praktis?

Sebaliknya, banyak alat sosial yang sangat bagus dalam hal kepraktisan namun semuanya gagal di tengah jalan.

Instagram adalah pemain dominan di media sosial gambar dan foto. Sebelum munculnya IG, ada aplikasi gambar perangkat lunak sosial bernama Prisma. Sangat populer ketika baru saja dirilis. Prisma dapat mengembangkan filter yang sangat keren. Dapat mengubah foto kita menjadi karya seni dengan hanya satu klik. Operasinya sangat sederhana.

Tetapi justru terlalu sederhana, maka tidak ada insentif bagi orang yang hobby berpotret. Karena bagaimana pun kita mempotretnya, semua foto akan sama indahnya.

Sebaliknya, cara pemikiran Instagram berbeda. IG juga memiliki alat filter. Tetapi perubahan filter fotonya cukup terbatas. Foto yang benar-benar menarik masih perlu difoto secara professional. Justru karena tidak mudah diperoleh, sehingga menghasilkan modal sosial sepantasnya. Instagram akhirnya berkembang menjadi jejaring sosial yang berhasil. Tetapi Prisma tidak.

Pengalaman kedua perusahaan ini memberi tahu kita bahwa jika perolehan modal sosial terlalu mudah, itu tidak akan bernilai. Harus ada tingkat kelangkaan dalam modal sosial. Semua prinsip ini berasal dari manusia adalah monyet yang mencari status. Status itu sendiri bersifat relatif. Jika setiap orang dapat mencapai status tertentu, maka pada kenyataannya, tidak akan ada yang benar-benar memiliki status. Jejaring sosial semacam itu akan kehilangan makna.

Oleh karena itu, setiap jaringan sosial yang berhasil pada dasarnya harus memenuhi kebutuhan psikologis pengguna. Bukan sekedar “membuka pintu untuk menggembirakan semua orang”. Tetapi harus menetapkan ambang batas tertentu untuk memperoleh modal sosial. Bagi para pengguna, ambang ini disebut “Proof of Work”.

Facebook pada awalnya memiliki saingan bernama MySpace. Pada dasarnya, tidak ada perbedaan fungsionalitas antara mereka berdua. Perbedaan yang nyata adalah pada “bukti kerja” tadi. Proof of Work Facebook, adalah pengguna haruslah seorang mahasiswa Harvard. Harus menggunakan email kampus untuk mendaftar. Kemudian, dalam proses ekspansi, FB memberikan prioritas untuk menargetkan perguruan tinggi se-level Harvard.

Alhasilnya, Facebook menjadi “filter elit”. Ambang bukti kerja ini, justru memberikan jaringan sosial vitalitas untuk bertahan dan berkembang.

Saat ini, Facebook maupun Twitter mulai mengalami penurunan. Aplikasi jejaring sosial baru yang diwakili oleh Instagram, Snapchat maupun Tik Tok mulai meningkat. Apakah karena pengguna menyukai yang baru, dan membenci yang lama? Atau kelompok muda lebih suka yang berbeda?

Jejaring sosial tradisional memiliki efek awal. Artinya, pengguna yang memakai duluan memiliki keuntungan untuk mengumpulkan banyak penggemar. Ketika semakin banyak orang bergabung dengan jaringan yang sama, perebutan modal sosial pasti akan terjadi. Yang datang terlambat pasti sulit memperoleh keuntungan lagi. Bayangkan, betapa sulit bagi pengguna Facebook yang baru terdaftar hari ini untuk tumbuh menjadi KOL atau internet celebrity dengan jutaan pengikut?

Jalan keluar terbaik adalah menggunakan platform baru seperti Tik Tok atau Kuaishou maupun Snapchat. Platform baru akan mengeluarkan biaya sosial baru. Juga akan menetapkan seperangkat “bukti kerja” baru. Sehingga memberikan peluang bagi para pendatang baru untuk menyalip.  

Platform baru juga memiliki kelebihan dalam rekomendasi algoritma. Bahkan jejaring sosial tradisional seperti Facebook, Twitter dan Weibo juga memasuki era rekomendasi algoritmik. Tetapi pengguna dengan followers tinggi masih memiliki banyak keuntungan dalam penyebaran konten dibandingkan dengan mereka yang memiliki sedikit followers. Di sisi lain, platform seperti Tik Tok adalah Prioritas algoritma. Jumlah followers tidak begitu penting.

Keuntungannya, lebih mudah bagi pengguna baru dengan konten berkualitas tinggi untuk berhasil di kemudian hari. Inilah salah satu alasan Tik Tok atau Kuaishou bisa berkembang cepat.

Manusia adalah monyet yang mencari status
Manusia adalah monyet yang mencari status (image: HROnline)

Jejaring sosial tradisional akan kehilangan vitalitasnya. Penyebab utamanya adalah bahwa keuntungan modal sosial yang lama telah menanamkan fondasi yang terlalu kuat. Sulit bagi pendatang baru untuk mengandalkan aturan lama untuk mendapatkan pengembalian modal sosial yang tinggi. Sehingga secara perlahan, pengguna semakin tidak ada motivasi.

Jadi apa yang harus dilakukan jejaring sosial tradisional seperti Facebook dan Twitter untuk tetap bervitalitas tinggi?

Pendekatan yang benar adalah menemukan cara untuk mengaktifkan likuiditas modal sosial. Memberikan kemungkinan kepada pengguna baru untuk menyalip.

Just like grandma says, jaringan sosial tradisional seperti Facebook atau Twitter berhenti mengalami pertumbuhan lagi karena manusia adalah monyet yang mencari status. Kedua orang-orang akan mencari cara yang paling efektif untuk mendapatkan modal sosial. Secara singkatnya, di zaman now semua orang ingin mendapatkan pengaruh. Atau menjadi VIP.

Jika Anda menemukan jaringan sosial Anda kaku dan tidak bervitalitas lagi, mungkin sudah saatnya Anda bertanya pada diri sendiri. Apakah semua perhatian saya telah diberikan kepada teman-teman lama atau KOL yang telah memasuki lingkaran pertemanan jauh lebih awal.  

Atau, Anda juga dapat bertanya apa yang harus saya lakukan untuk teman-teman baru yang baru saja bergabung dengan lingkaran pertemanan baru kita. Bagaimana saya dapat  membantu mereka mendapatkan pengembalian sosial yang lebih tinggi di lingkaran saya?

Bila Anda dapat memecahkan dua masalah ini, jaringan sosial Anda pasti akan hidup dan mempunyai vitalitas kembali.

Advertisements

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: