Memahami Pilpres Amerika Serikat

Memahami Pilpres Amerika Serikat adalah kunci memahami masyarakat AS. Pemilihan presiden AS bukan berdasarkan sistem satu-orang-satu-suara. Artinya, jika seorang kandidat presiden memperoleh lebih dari 50% dari referendum Suara, ia masih belum tentu dapat terpilih sebagai presiden. Sebagai contoh, pada tahun 2000 ketika kandidat dari Partai Demokrat Al Gore kalah dalam pemilihan walaupun jumlah suara yang diperoleh melebihi George W. Bush. 

Jadi, bagaimana proses menghasilkan presiden AS ? 

Sederhananya, Mereka dipilih oleh organisasi yang disebut ” Electoral College “. Electoral College, badan pemilih yang didirikan oleh Konstitusi Amerika Serikat, yang dibentuk setiap empat tahun dengan tujuan tunggal untuk memilih presiden dan wakil presiden Amerika Serikat.

Memahami Pilpres Amerika Serikat

Meskipun Amerika Serikat mengadopsi sistem presidensial, namun sistem politik mereka dipengaruhi oleh Inggris. Seperti Kita ketahui, Britania Raya menganut sistem perwakilan atau sistem demokrasi tidak langsung. Pemilih tidak secara langsung memilih pemimpin pemerintahan atau presiden. Tetapi memilih perwakilan (anggota parlemen) dari daerah pemilihan mereka.

Para anggota Parlemen kemudian memilih dan memutuskan para pemimpin pemerintah yang biasanya merupakan pemimpin partai mayoritas. Karena pengaruh Britania Raya, meskipun Amerika Serikat bukan sistem perwakilan, Electoral College sebagian besar merupakan varian dari sistem perwakilan.

Dalam pemilihan presiden AS, para pemilih dari setiap negara bagian sebenarnya memilih  “Elector” yang dapat mewakili kandidat, bukannya presiden. Misalnya, dalam pemilihan umum tahun 2016 yang lalu, para pemilih akan memilih para “Elector” yang dapat mewakili Donald Trump atau Hillary Clinton. 

Setelah para pemilih ini (secara kolektif disebut sebagai electoral college) dipilih, mereka akan mengadakan sebuah rapat. Setiap Elector ini akan memberikan suaranya kepada kandidat yang sesuai. Karena itu, Electoral College ini sebenarnya adalah Boneka perwakilan dari setiap negara bagian. 

Dari perspektif ini, pemungutan suara mereka hanyalah sebuah formalitas. Pemilih yang sebenarnya masihlah rakyat umum di belakang layar. Tetapi setelah lapisan hubungan seperti itu, masing-masing suara pemilih tidak dapat secara langsung mempengaruhi hasil pemilihan presiden.

Jadi, bagaimana pemilih bisa dihasilkan? 

Sederhananya, Pilpres AS mengadopsi pemenang mengambil semua atau “Winner takes All.”

Dalam 50 negara bagian Amerika Serikat termasuk Washington, D.C., dengan pengecualian Negara bagian Maine dan Nebraska, semua negara bagian lainnya mengadopsi metode Winner takes All untuk memilih para pemilih. 

Misalnya, di Florida, jika Donald Trump memperoleh 50.0001% suara pemilih dan Hillary Clinton menerima 49,9999% suara, maka semua pemilih di negara bagian Florida harus diberikan kepada Trump.

Sedangkan, Negara Bagian Maine dan Nebraska, suara mereka didistribusikan secara proporsional berdasarkan hasil pemilihan konstituen internal.

Metode pemilihan semacam ini yang berdasarkan pada Winner takes All, secara teori ada kemungkinan bahwa seorang kandidat dapat terpilih sebagai presiden selama ia mendapatkan sekitar 1/4 suara. 

Sebagai contoh, ketika kita memahami Pilpres Amerika Serikat di tahun 2016, Donald Trump menang dengan sedikit keunggulan 50.0001% di lebih dari setengah negara bagian, sementara Hillary Clinton memenangkan 100% suara di setengah negara bagian, sehingga walaupun Trump hanya memperoleh sekitar 1/4 suara, tetapi Dia masih akan tetap menang.

Karena alasan inilah, Al Gore kalah pada Pilpres tahun 2000 dan dimenangkan oleh Bush. Hasil demikian menyebabkan kandidat presiden untuk mencurahkan sebagian besar energi mereka ke beberapa kunci negara bagian dengan persaingan tersengit, daripada menggunakan kekuatan setara di antara negara-negara bagian lainnya.

Selanjutnya, bagaimana distribusi para pemilih atau Elector college di setiap negara bagian? 

Secara Singkatnya, itu setara dengan jumlah senator dan anggota konggres di setiap negara bagian. Meskipun tidak ada anggota federal di Washington, D.C., warga negara bagian ini juga memiliki hak untuk memilih.

Menurut Amandemen ke-23 Konstitusi AS, jumlah pemilih atau elector sama dengan negara bagian dengan populasi terkecil (3 suara). Saat ini, ada sekitar 435 anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan 100 senator di Amerika Serikat, ditambah 3 suara di Washington, DC.  Total Jumlah “Electoral College” sebanyak  538 orang. Sehingga, kandidat yang memperoleh hanya 270 suara dapat terpilih sebagai presiden.

Bagaimana jika kebetulan terjadi situasi ekstrem, seperti dua kandidat mendapatkan masing-masing 269 suara? 

Menurut Konstitusi AS, Dewan Perwakilan Rakyat mempunyai hak utama memilih Presiden, dan Senator akan memilih Wakil Presiden. Perlu diketahui, ketika DPR memilih presiden, mereka memilih berdasarkan negara bagian bukannya satu suara per satu wakil. Dalam sejarah masa lalu, memang benar-benar ada dua kandidat dengan suara yang sama.

Ketika presiden ketiga Amerika Serikat Thomas Jefferson terpilih untuk pertama kalinya, muncul jumlah suara yang sama. Akhirnya, setelah beberapa kali pemungutan suara di DPR, ia baru secara resmi ditetapkan sebagai presiden.

Anda mungkin berpikir, mengapa Amerika Serikat menghitung suara berdasarkan negara bagian? Mengapa harus merancang metode pemilihan yang sedemikian rumit? 

Ini dikarenakan Amerika Serikat adalah negara bagian otonom yang mengatur diri sendiri. Negara bagian muncul terlebih dahulu, kemudian baru ada negara. Kehidupan sehari-hari rakyat biasa adalah berurusan dengan negara bagian masing-masing, melainkan bukan  langsung dengan negara AS. 

Presiden AS adalah orang yang menyeimbangkan kepentingan setiap negara bagian, bukannya langsung mengatur rakyat. Oleh karena itu, presiden mereka dipilih oleh perwakilan negara bagian. Adapun rencana distribusi jumlah perwakilan, adalah hasil dari menyeimbangkan kepentingan antara negara bagian besar dan kecil di saat pendirian negara.

Awal mula berdirinya Amerika Serikat didasarkan pada 13 daerah koloni. Di Majelis Konstituante, setiap negara bagian tidak setuju dengan distribusi jumlah perwakilan negara bagian di parlemen masa depan. 

Sehingga, Madison dan beberapa senator dari Virginia mengusulkan “Rencana Virginia” yang menganjurkan distribusi jumlah perwakilan disesuaikan dengan proporsi jumlah populasi. Ini tentu saja lebih menguntungkan kepentingan negara bagian yang lebih besar, tetapi tidak kondusif bagi negara bagian kecil dengan populasi sedikit.

Oleh karena itu, negara bagian kecil seperti New Jersey mengajukan proposal untuk mendistribusikan perwakilan Kongres secara merata tidak peduli berapa jumlah  populasinya. Pada saat itu, perselisihan antara kedua belah pihak menjadi sangat sengit tentunya.

Sebagai ketua Konferensi Konstitusi, George Washington pada dasarnya tidak berbicara, menyebabkan perwakilan masing-masing negara bagian berdebat untuk waktu yang lama. Akhirnya, muncul kesepakatan atas anjuran Roger Sherman dari Negara bagian Connecticut. Program Connecticut, berupa Rumah Konggres atau House of Congress.

Jumlah Dewan Perwakilan Rakyat ditentukan sesuai dengan jumlah populasi. Jumlah Senator masing-masing negara bagian dikarunia 2 suara. Inilah asal-usul Dewan Perwakilan dan Senator di AS. 

Memahami Pilpres Amerika Serikat
Memahami Pilpres Amerika Serikat (Image: CNN)

Namun, Negara Bagian yang lebih kecil masih merasa kurang terjamin. Sehingga, mereka memasukkan klausul dalam prosedur amandemen konstitusi yang diatur dalam Pasal 5 Konstitusi Federal, mengharuskan jumlah senator yang sama rata dari setiap negara bagian tidak boleh diubah.

Just like grandma says, Artikel ini tidak boleh diubah dan menjadi satu-satunya “ ketentuan permanen ” di dalam Konstitusi AS. Akibatnya, setiap suara dari pemilih negara bagian kecilpun sebenarnya menjadi sangat berharga juga. 

Sebagai contoh, Wyoming, negara bagian dengan populasi paling sedikit di Amerika Serikat saat ini, memiliki kurang dari 600.000 orang, justru memiliki 3 suara electoral college. Artinya, dengan rata-rata 200.000 orang memiliki 1 suara electoral college. Sebaliknya Meskipun California memiliki 55 suara, tampaknya ada banyak suara, tetapi dengan jumlah populasi 38 juta jiwa, sehingga rata-rata 1 suara untuk setiap 690.000 orang.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.