Advertisements

Mengapa AS tidak ada perusahaan seperti Huawei

Oleh: Ricky Suwarno

7 Juni 2019

Kemarin, tanggal 6 Juni 2019 Tiongkok secara resmi memasuki Era 5G. Departemen Perindustrian Tiongkok mengeluarkan 4 plat nomor 5G. Khusus untuk China Mobile, China Telecom, China Unicom, dan China Radio and Television. Maksud dari plat 5G ini sungguh luar biasa. Karena menandai Era kedatangan tahun pertama 5G secara kommersial di Tiongkok.

Baru-baru ini Financial Times menerbitkan sebuah artikel, “Mengapa AS tidak mempunyai perusahaan yang bisa bersaing dengan Huawei?”

Sebenarnya, perusahaan telekomunikasi AS pernah berjaya. Tapi waktu kejayaannya terlalu dini. Seperti AT&T, operator telekomunikasi terbesar di AS. Hampir semua peralatan telekomunikasinya pernah terjual di seluruh dunia. Atau Bell Labs, yang dulunya adalah otak dari teknologi telekomunikasi. Sumber dan tempat penciptaan teknologi baru.

Tetapi di abad 21, muncul pemain baru. Dan sangat berkemungkinan Era 5G akan di dominasi oleh Huawei, vendor smartphone asal negeri Panda. Di ikuti oleh Nokia dari Finlandia. Dan Ericsson dari Swedia. Tiga pemimpin di jaman baru. Tidak ada satupun dari AS.

Sebelumnya, peraturan dalam telekomukasi sangatlah ketat. Dan banyak hambatan. Misalnya, operator telepon lokal, tidak boleh bersaing dengan operator telepon jarak jauh. Atau sebaliknya, operator telepon tidak boleh memasuki bisnis kabel. Dan sebaliknya.

Pada tahun 1996, Setelah pasar dibuka, para pemain baru mulai berdatangan. Dan para pemain lama mulai memperluas daerah teritorinya. Setelah dibukanya pasar, hal ini justru menjadi awal runtuhnya industri telekomunikasi AS.

Pembukaan ini membawa dua konsekuensi tak terduga, Pertama, kompetisi menjadi fragmentasi. Yang menyebabkan penyedia peralatan telekomunikasi terlibat dalam krisis hutang. Motorola dan Lucent Teknologi adalah dua penyedia terbesar saat itu. Praktek umum masa itu adalah penyedia peralatan meminjamkan uang kepada operator untuk membeli peralatan. Beberapa saat kemudian baru mengembalikan hutangnya kepada Motorola atau Lucent.

Kenyataannya, persaingan semakin sengit. Dan beberapa operator terjerat hutang yang besar dalam perluasan bisnisnya. Operator tidak dapat membayar hutang pada waktunya. Lucent, atau Motorola tidak bisa menarik kembali uangnya. Semuanya terjebak dalam lingkaran setan.

Konsekuensi kedua, membuka peluang bagi standar teknologi yang berbeda. Untuk membangun hambatan bagi pesaing lainnya, masing-masing operator membuat standar tersendiri.

Misalnya, Sprint dengan standar sendiri bernama WiMax. Operator Nextel, menggunakan standar bernama iDen. Munculnya berbagai standar kriteria, sehingga memecahkan pasar.

Di waktu yang sama, Eropa menggunakan cara satu standar teknologi, bernama GSM. Sebaliknya, Berbagai operator di AS membuat standar jalan yang berbeda-beda. Eropa menyatukan semua standar menuju ke satu arah, GSM. Dan Asia, mengikuti kriteria standar Eropa.

Pada saat inilah, baik Motorola maupun Lucent, telah ketinggalan dan kehilangan pasar internasional. Akhirnya, Lucent pada tahun 2006, diakuisisi oleh sebuah perusahaan Prancis. Yang kemudian dibeli oleh Nokia. Dan Motorola sendiri di akuisisi oleh Google. Itulah sebabnya, tahun 1996 adalah awal runtuhnya bisnis telekomunikasi AS.

Boleh dikatakan, Eropa adalah pemenang terbesar dalam sektor telekomunikasi di Era 2G-4G. Tapi di bidang internet,Eropa justru jauh tertinggal dibandingkan AS dan China.

Perusahaan internet Top 20 dengan nilai evaluasi tertinggi di dunia saat ini, berasal dari AS dan China. Diantaranya, 11 perusahaan internet adalah perusahaan AS. Dan selebihnya, 9 perusahaan internet berasal dari China.

Penyebab utama Eropa tidak ada perusahaan internet besar seperti AS atau China, karena ketatnya perlindungan privasi di Eropa. Pada tahun 1970, Eropa mengeluarkan UU pertama di dunia yang khusus melindungi data dan hak privasi warganya. Data privasi berada di atas segalanya. Seperti icon pribadi pengguna, nomor hp, catatan bekas belanja dan data lainnya yang tidak boleh di ganggu gugat.

Bahkan pada tahun 2018, Eropa merilis peraturan Universal perlindungan data. Walaupun perusahaan tersebut tidak berada di Eropa, tetapi selagi ada pengguna berasal dari negara Eropa, semua datanya harus dilindungi.

Di samping itu, Eropa sangat ketat dalam mekanisme perlindungan hak cipta. Dalam mekanisme ini, jika kita membuat sebuah ekspresi dari potret jaringan adalah pelanggaran hak cipta. Jadi hukum ini, dijuluki “UU pembantaian ekspresi”.

Just like grandma says, akar dua masalah diatas, harus kembali ke peraturan diatas. Peraturan yang tidak boleh terlalu radikal maupun longgar. Ini adalah hal yang tidak mudah diterapkan. Pada saat Pengawasan, kita mungkin sering paradoks. Di satu sisi, kita harus mengawasi. Tetapi di sisi lain, kita harus mendorong dan motivasi. Untuk bisa menyeimbangkan dua-duanya, diperlukan kebijaksanaan yang tinggi.

Advertisements
Categories: artificial intelligence indonesia, AS tidak ada perusahaan seperti HuaweiTags: , , , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: