Advertisements

Mengapa Industri 4.0 tidak cocok untuk Indonesia

Oleh: Ricky Suwarno

4 Juni 2019

Dalam beberapa tahun terakhir ini, konsep “Industri 4.0” yang ditawarkan Jerman menjadi sangat populer di dunia. Banyak pengusaha atau investor Tiongkok mengatakan bahwa mereka juga harus mengembangkan industri 4.0.

Tetapi Dennis Wang, pendiri Haiyin Capital, pernah memperingatkan: Jangan mudah mabuk dengan “industri 4.0”.

“Industri 4.0” adalah konsep yang dikemukakan oleh pemerintah Jerman yang menganjurkan peningkatan tingkat produksi dengan cara yang lebih sistematis, dan terintegrasi. Industri jerman, yang dicirikan dengan kualitas yang tinggi dan terintegrasi, dapat meningkatkan kualitas industri Jerman.

Tiongkok kurang cocok untuk penerapan industry 4.0. Keunggulan manufaktur Tiongkok tidak sama dengan Jerman. Dan kedua, karena tren di masa depan adalah inovasi teknologi. Peningkatan cara manufaktur Jerman juga harus diterapkan melalui inovasi teknologi.

Kita semua tahu bahwa industri Jerman adalah salah satu yang terkuat di dunia. Produksi mereka adalah lambang “kualitas”. Namun masalahnya, Jerman hanya memanufaktur produk untuk merek negara mereka sendiri. Tidak ada OEM.

Sebagai Pabrik dunia, banyak perusahaan negara maju telah memilih pabrik Tiongkok untuk menggantikan pabrik di Negara mereka sendiri. Contohnya, iPhone yang kita kenal hari ini semua dibuat oleh Foxconn. Sampai beberapa Tahun yang lalu, “Leica” merek kamera kelas paling atas, juga mulai bekerjasama dengan pabrik Tiongkok.

Banyak orang mengira karena upah buruh yang murah. Orang yang mengatakan demikian mungkin karena tingkat pengetahuan yang dangkal, sehingga tidak bisa melihat inti dasar suatu masalah.

Menurut pengamatan saya puluhan tahun, Keuntungan utama buatan Tiongkok bukan karena murah. Melainkan sangat fleksibel.

Misalnya, dulu mantan Presiden AS Barrack Obama pernah meminta pendiri Apple, Almarhum Steve Jobs untuk memindahkan pabrik iPhone kembali ke AS. Steve Jobs langsung berkata, “Tentu saja boleh”, tetapi harus dengan persyaratan, bilamana iphone perlu membuat perubahan desain atau apapun, Atau tidak peduli jam berapapun, perubahan ini harus bisa langsung mencapai ke pekerja pabrik. Dalam dua jam, perubahan baru ini juga harus bisa langsung di manufaktur menjadi produk terbaru. Dan bisa dikirim dalam 24 jam. Jika pekerja pabrik AS bisa melakukan hal yang sama, Steve Jobs akan langsung memindahkan pabrik iphone kembali ke AS.

Ketika mendengar jawaban tersebut, mantan presiden Obama tidak pernah bertanya lagi.

Perusahaan besar seperti Apple maupun perusahaan besar lainnya pasti memiliki system “Enterprise Resource Planning” atau ERP. Alias Program Sumber Daya Perusahaan. Keuntungannya, menghemat sumber daya. Sebaliknya, kelemahannya sangat tidak fleksibel.

Jika ada perubahan untuk suatu program yang telah disetujui sebelumnya, kita harus menghubungi berbagai departemen yang berbeda terlebih dahulu. Menjelaskan situasi, dan mengevaluasi kembali. Hanya untuk mencapai persetujuan saja memerlukan waktu paling tidak sepuluh hari sampai setengah bulan. Buatan Jerman, atau Made in German sama seperti system ERP.

Perusahaan Tiongkok maupun perusahaan Indonesia lebih menjurus ke perusahaan modern yang dikelola secara horizontal. Jadi kita tidak boleh belajar dari cara Jerman.

Contoh lainnya lagi, Mesin pemotong kayu Jerman yang jauh lebih mahal daripada yang lain. Tetapi tingkat kerusakannya sangat rendah. Sehingga masih banyak orang yang bersedia membeli walaupun mahal sekali.

Karena pemotongan kayu dilakukan didalam hutan pedalaman, dan kalau mesin pemotong kayu mudah rusak, perlu diangkut keluar kota untuk perbaikan. Dan kemudian di angkut kembali kedalam hutan, sehingga sangat membuang waktu. Lebih baik membeli mesin pemotong kayu Jerman yang mahal daripada membuang waktu.

Sebaliknya, bagi Tiongkok maupun Indonesia, kita bisa menggunakan pesawat tak berawak atau drones besar. Yang bisa mengangkut mesin pemotong kayu ini untuk diperbaiki, dan kemudian diterbangkan kembali ke hutan pada hari yang sama.

Jadi, tantangan sebenarnya yang dihadapi Tiongkok maupun Indonesia bukanlah industri Jerman 4.0. Karena Belajar cara mereka tidak akan menyelesaikan masalah.

Tantangan yang dihadapi manufaktur Tiongkok maupun Indonesia, adalah peningkatan sains dan teknologi. Jadi, yang harus kita pelajari adalah teknologi AS.

Kemungkinan yang bisa menyebabkan pekerja buruh Tiongkok dan Indonesia kehilangan pekerjaaan, bukanlah robot yang sangat canggih dari Jerman. Melainkan sebuah perusahaan AS yang telah mengembangkan robot untuk memiliki fleksibilitas yang kuat dan mampu belajar dan melatih sendiri. Namanya “Alpha Go” miliknya Deep Mind, yang diakuisisi Google pada tahun 2014.

Just like grandma says, jalan keluar untuk meningkatkan daya manufaktur Indonesia adalah menggunakan robot sebagai peralatan garis produksi. Meminta Pakar yang berpengalaman melatih robot-robot ini. Karena seberapa rumit barang elektronik apapun pasti akan bisa di produksinya.

Dengan demikian, Indonesia sangat berpeluang menjadi pusat manufaktur baru yang jauh lebih terbuka dan fleksibel di dunia. Untuk belajar produktivitas dunia paling modern, terlebih dahulu kita harus mengerti keunggulan dan kelemahan kita sendiri. Dan kemudian, memilih objek belajar yang tepat, sehingga keberhasilan kita bisa jauh lebih cepat dan lebih besar.

Advertisements
Categories: artificial intelligence indonesia, Industri 4.0 tidak cocok untuk IndonesiaTags: , , , , ,

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: