Mengapa Orangtua lebih mudah menyebar berita palsu

Oleh: Ricky Suwarno

Melalui media sosial, berita palsu atau hoax menyebar sangat cepat. Lebih-lebih pada saat menjelang pilpres 2019. Fenomena haters dan hoax bermunculan. Korbannya pun menyasar calon presiden dan wakil presiden. Yang akan bertarung di pesta demokrasi lima tahunan ini. Baik Joko Widodo-Ma’ruf Amin, maupun kubu Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Jadi, siapa yang lebih cendrung menyebarkan berita palsu? dan kesamaan apa yang dimiliki orang-orang ini?

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Science Advances edisi Januari 2019, memberi fitur khusus usia. Bahwa orang yang berusia di atas 60 tahun berkemungkinan besar berbagi berita palsu.

Misalnya, Sebelum dan sesudah pemilihan presiden AS di tahun 2016. Para peneliti di Universitas New York dan Universitas Princeton memasang aplikasi untuk lebih dari 1.300 orang. Untuk melacak data bersama orang-orang ini. pos perhatian dan konten pos yang mereka poskan.

Ternyata sekitar 8,5% dari mereka membagikan tautan ke berita palsu. Melalui analisis lebih lanjut, para peneliti percaya bahwa usia mungkin merupakan indikator terbaik. Untuk menilai dan berbagi berita palsu. Di antara mereka, 11% pengguna berusia di atas 60. Sementara hanya 3% pengguna berusia 18 hingga 29 tahun.

Dari jumlah berbagi berita palsu, orang yang berusia di atas 60 hampir tujuh kali sebanyak 18 hingga 29 tahun. Para peneliti juga mempelajari perbedaan gender, ras, dan pendapatan. Tetapi tidak menemukan perbedaan signifikan secara statistik.

Mengapa orang yang lebih tua cenderung berbagi berita palsu? Para peneliti percaya mungkin ada dua alasan.

Pertama, serangkaian penelitian menunjukkan, bahwa orang berusia 60 tahun ke atas tidak memiliki literasi media digital. Yang diperlukan untuk menilai keaslian berita online. “Orang yang lebih tua mungkin tidak mudah membedakan fakta dan kebohongan. Di jejaring sosial seperti anak muda.

Kedua, dari perspektif kognitif dan psikologi social. Penuaan memiliki dampak negatif pada kognisi dan memori. Maksudnya seiring bertambahnya usia, ingatan menjadi lebih buruk. Sehingga mempersulit orang lanjut usia untuk menolak “efek ilusi realistis”. Yaitu ketika mereka berulang kali menerima jenis informasi yang sama, membuat mereka percaya bahwa informasi itu benar.

So, just like grandma says, Ketika menilai kebenaran suatu hal, mereka lebih bersedia menghakimi sesuatu berdasarkan pemahaman dan pengalaman mereka di masa lalu. Daripada analisis rasional.

Oleh karena itu, semakin kompleks dan rumit lingkungan informasi, dan semakin populer informasi kesalahan, Akan semakin serius efek samping ini.

Advertisements
Categories: artificial intelligence indonesiaTags: , , , ,

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: