Mengatasi krisis paruh baya

Mengatasi krisis paruh baya adalah topik yang sering dibahas semua orang. Orang-orang sering menyalahkan paruh baya sebagai sumber dari segala masalah atau dilema. Misalnya  Dante Alighieri dalam Komedi ilahinya mengatakan, “dalam perjalanan di tengah kehidupan, saya menemukan bahwa saya telah melangkah ke dalam hutan yang gelap, karena jalan yang benar telah sulit dipahami”. Suatu deskripsi terbaik untuk krisis paruh baya. Ketika Dante menulis Komedi Ilahi ini, beliau berada di tengah jalan. Ketika beliau berusia 35 tahun. 

Mengatasi krisis paruh baya

Sebenarnya, sejarah teori krisis paruh baya tidaklah lama. Pada tahun 1965, psikolog Kanada Elliot Jaques menulis artikel di International Journal of Psychoanalysis. Elliot mempelajari para seniman seperti Mozart, Raphael, Dante dan Gauguin. Kemudian menuliskan teori krisis paruh baya. Yang akhirnya mulai terkenal sejak saat itu. Jadi, bagaimana cara mengatasi krisis paruh baya?

Elliot berkata: “Dalam proses pengembangan diri, ada beberapa tahap kunci yang menunjukkan karakteristik titik balik dan periode transisi yang cepat. Tahap yang sering diabaikan banyak orang dan paling kritis terjadi setelah umur 35 tahun. Yang dinamakan,  ‘krisis paruh baya. “

Sebaliknya, penulis Daniel Pink dalam bukunya “When: the scientific secrets of perfect timing” mengatakan konsep krisis paruh baya kurang masuk akal karena para psikolog tidak menemukan dukungan apapun di laboratorium maupun di dalam kehidupan nyata kita.  

Akan tetapi ada sebagian peneliti membuktikan model paruh baya. Kurva berbentuk tipe U. Pada tahun 2010, para sarjana seperti pemenang Hadiah Nobel Ekonomi, Angus Deaton pernah membuat studi tentang Distribusi Usia Kebahagiaan di seluruh Amerika Serikat.  Hasil survei menunjukkan bentuk kurva U. Orang-orang di usia 20-30 tahun menunjukkan Kebahagiaan relatif tinggi. Namun, ketika memasuki usia 40 hingga 50 tahun kebahagiaan mereka mulai menurun. Setelah usia 55 tahun kemudian, kebahagiaan mulai meningkat lagi.

Kurva kebahagiaan yang berbentuk U menunjukkan bahwa orang paruh baya akan mengalami air surut yang ringan. Tetapi bukan krisis yang brutal.

Ekonom Blanche Fowler dan Andrew Oswald mempelajari lebih dari 500.000 orang Amerika dan Eropa, dan menyimpulkan bahwa kebahagiaan telah menurun di tengah usia kehidupan. Serupa Kurva berbentuk U.

Sebenarnya, kurva kebahagiaan yang berbentuk-U tidak hanya terjadi pada manusia. Pada tahun 2012, lima ilmuwan melakukan penelitian terhadap lebih dari 500 ekor gorila di tiga negara. Yang berusia masa kanak-kanak hingga dewasa. Mereka menemukan bahwa seiring dengan bertambahnya usia, suasana hati gorila juga menunjukkan kurva berbentuk U. Dengan kata lain, saat gorila mencapai usia paruh baya, kebahagiaan juga akan ikut berkurang.

Fenomena ini sering disebut air surut usia menengah. Artinya, di tahap pertengahan usia, orang mudah merasa lelah dan bingung. Atau menurut profesor University of Houston Brene Brown adalah, “Ini adalah saat ketika dunia meraih bahu Anda dan berkata, ‘Saya tidak dapat membantu Anda lagi. Anda harus mengandalkan diri sendiri.’ Atau dengan kata-kata Dante, “Jalan yang benar sulit dimengerti.”

Apakah benar-benar tidak ada cara untuk Mengatasi krisis paruh baya atau gelombang rendah usia menengah ini?

Daniel Pink memberikan lima metode dalam bukunya. Metode pertama, yang disebutnya metode Buffett adalah memprioritaskan tujuan hidup tertinggi. Suatu saat ketika Warren Buffet sedang berbicara dengan pilot pribadinya. Pilot itu sedang dalam low mood. Dan dia merasa sangat frustrasi karena dia tidak dapat melakukan semua yang dia impikan. Warren Buffett tersentuh dan memberikan resep pribadi.  

Resep pribadi ini memiliki tiga langkah. Pertama, pilot diminta untuk menulis 25 tujuan hidup paling penting di masa depannya. Kedua, dari daftar ini, sang pilot harus melingkari lima hal yang paling penting. Kelima hal tersebut adalah prioritas utama. Dengan demikian, daftar ini setara menjadi dua daftar. Yang pertama, 5 tujuan terpenting dan tertinggi dalam hidup. Yang keduanya adalah 20 gol yang tersisa.  

Akhirnya, segera ambil action bagaimana mencapai lima tujuan tertinggi ini. Dan, jangan melihat 20 gol lainnya sebelum mencapai 5 gol tertinggi. Karena, untuk merealisasikan 5 gol ini akan cukup menghabiskan banyak waktu.

Kedua, mencari bimbingan mentor karir di usia paruh baya. Kebanyakan orang berpikir mereka cuma perlu mencari nasihat dan menerima bimbingan pada saat pertama kali memasuki tempat kerja. Dan mulai mengabaikan bimbingan ketika mereka telah berhasil memulai karir awalnya. Sebenarnya, kita perlu mencari panduan sepanjang karir, jika ingin lebih baik mengatasi krisis paruh baya.

Mereka yang lebih berpengalaman dapat membantu kita mengatasi pasang surut di usia paruh baya. Pada umumnya, Kita membutuhkan bimbingan orang lain sejak awal di semua tahap kehidupan.

 Mengatasi krisis paruh baya
Mengatasi krisis paruh baya

Metode ketiga, melakukan eksperimen pemikiran, dan membayangkan bahwa beberapa hal paling indah dalam hidup masih belum pernah terjadi. Karena Setiap orang memiliki banyak hal indah dalam hidup, seperti menikah, punya anak, dipromosi atau naik pangkat, dan mengenali teman baik. Tuliskan semua ini dalam notebook. Kemudian ingatkan diri kita bahwa meskipun itu mungkin hanya kebetulan, yang semulanya mungkin tidak akan terjadi, tetapi kenyataannya semuanya benar-benar telah terjadi. Eksperimen pemikiran ini dapat membuat kita menyadari bahwa hidup kita jauh lebih menyenangkan daripada yang kita pikirkan.

Metode Keempat, tulis surat simpati diri untuk diri kita sendiri. Carilah sebab dan jawaban mengapa kita menyesal atau kecewa. Kemudian tulislah email untuk diri sendiri. Tuliskan semua perasaan kita. Dengan suatu persyaratan, kita harus menulis surat ini dari sudut pandang seorang teman yang mencintai kita tanpa syarat.  

Selain itu, di samping pengertian dan simpati, kita sendiri harus melampirkan saran untuk bertindak. Tentang perubahan apa yang dapat kita lakukan dan bagaimana memperbaikinya di masa depan.

Metode kelima adalah menunggu. Just like grandma says, Karena Terkadang tindakan terbaik adalah tidak melakukan apa-apa. Kadang-kadang low mood itu seperti pilek.  Meskipun kita akan merasa sangat tidak enak, tetapi pada akhirnya pilek akan berlalu juga. Selain itu, seperti halnya orang yang pulih dari pilek dan tidak akan mengingat betapa tidak nyamannya selama pilek. Dimana kita pada akhirnya juga akan melupakan semua rasa sakit saat dalam low mood.

Advertisements
Categories: Mengatasi krisis paruh baya

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: