Mensimulasikan kesadaran otak manusia

Oleh: Ricky Suwarno

1 Mei 2019

Ketika berbicara tentang kesadaran otak manusia, selalu tidak terlepas dari dualisme. Kesadaran otak manusia terletak dalam wilayah spiritual tertentu. Dan terisolasi dari medan material. Mayoritas orang-orang didunia memiliki kepercayaan ini. Termasuk agama Kristen, Islam, dan Buddha. Semuanya berpikir demikian. Jiwa kesadaran adalah sesuatu yang sangat suci. Dan tidak dapat ditiru.

Tetapi, secara umum dalam kecerdasan buatan atau AI, justru sebaliknya. Kecerdasan buatan menganut paham materialisme. Dan kesadaran otak manusia, sebenarnya bisa diciptakan.

Otak manusia, adalah hal yang paling kompleks di alam semesta ini. Ada lebih dari 85 miliar neuron di otak kita. Dan setiap neuron memiliki ribuan koneksi antara neuron lain.

Untuk mencapai replikasi, otak manusia harus dipindai. Resolusi gambar dari pemindai medis MRI hanya dapat mencapai tingkat milimeteran. Untuk membedakan sel-sel otak dari tingkat nanometer, alat mikroskop elektron adalah jawabannya.

Kecepatan komputasi otak manusia dapat mencapai puluhan miliar operasi floating-point per detik. Sehingga alat kekuatan komputasi otak manusia harus mencapai tingkat miliaran juga. Saat ini, kecepatan operasi super-komputasi yang tersedia didunia ini, adalah tingkat seratus miliar kali. Seperti superfast komputer Prototipe kelas-E Tianhe No. 3 dari China.

Akhirnya, model perlu dibuat berdasarkan semua saraf sel otak yang dipindai. Bagian ini lebih merepotkan. Bagaimana menggabungkan berbagai komponen, masing-masing modul bisa bekerja sama, adalah tantangan terbesar. Karena hal ini tidak sesederhana merakit komputer atau ponsel.

Beberapa tahun yang lalu, Ada sebuah proyek bernama “cacing terbuka” yang berhasil menciptakan otak cacing. Otak cacing ini bisa mengendalikan robot kecil. Yang berhasil keluar dari Kastil Lego. Tetapi otak nematoda seperti cacing sangatlah sederhana. Mereka hanya memiliki 302 neuron. Dan 7000 sinapsis.

Simulasi seluruh otak manusia adalah suatu projek yang mustahil. Paling tidak untuk jaman sekarang. Tidak tahulah puluhan tahun atau ratusan tahun kemudian. Karena neuron otak yang begitu rumit. Selain memindai struktur semua sel otak, juga harus mengetahui konfigurasi setiap sel. Dan tata letak dendrit akson dari masing-masing sel.

Lebih rumitnya lagi, harus memahami informasi lokasi masing-masing molekul atau bahkan atom. Jika terkait dengan dimensi waktu, atau butuh waktu berapa lama dan sebagainya, maka seluruh model hampir tidak ada gunanya.

Dari segi Kecerdasan buatan dalam arti sempit saat ini, mencakup kecerdasan buatan simbolis, pembelajaran mesin, statistik, dan pembelajaran mendalam. Lebih tepatnya, kecerdasan buatan tahap lemah. Weak AI.

Kecerdasan buatan simbolik pada saat pertama kali dimulai, menggunakan simbol untuk mengekspresikan pikiran manusia. Contoh paling tipikal adalah sistem pakar.

Pembelajaran mesin, yang bisa mendapatkan hasil berdasarkan data tanpa menulis fungsi spesifik secara manual. Karena keterbatasannya, hampir tidak ada yang akan menggunakannya untuk menciptakan hal-hal yang memiliki kesadaran.

Statistik, terutama jaringan Bayesian, jaringan Markov tersembunyi, atau Ketidakpastian model.

Pembelajaran mendalam adalah semacam pembelajaran mesin. Karena jumlah lapisan dalam jaringan besar, maka disebut kedalaman.

Oleh karena itu, pengertian sempit dari kecerdasan buatan berarti bahwa suatu sistem dapat menghasilkan kesadaran selama ia dapat melakukan operasi pembelajaran mesin yang cukup. Tetapi masalahnya, otak manusia benar-benar berbeda dari sistem mesin lainnya. Mesin dapat terdiri dari berbagai bagian yang dipadukan. Tetapi otak manusia adalah sistem yang berbagi satu set inti otak. Yang sangat independen.

Pertama-tama, mempelajari prinsip-prinsip pemikiran manusia. Memahami cara berpikir bekerja dengan seksama. Dan kemudian menciptakan otak berdasarkan pada mereka. Artinya, ilmuwan harus memahami prinsip kerja seluruh otak. Lalu menyalinnya. Yang, tentu saja hampir mission impossible.

Tetapi, ada ilmuwan yang menganjurkan tidak perlu memahami semua kerja prinsip otak. Misalnya, manusia bisa meniru burung terbang. Dimana dan walaupun, sebagian besar prinsip kerja burung yang tidak begitu jelas, tetapi manusia telah mampu terbang ke luar angkasa. Jadi tidak perlu menguasai prinsip keseluruhan otak. Mungkin telah bisa meniru otak buatan yang lebih kuat daripada otak.

Just like grandma says, penciptaan kesadaran tergantung pada apakah dapat mencapai kecerdasan buatan yang digeneralisasi. Yang mungkin dapat membangkitkan kesadaran pada tingkat molekuler seluruh otak. Atau Mungkin dapat mengintegrasikan ribuan sistem pembelajaran mesin untuk membangkitkan kesadaran. Dan juga mungkin menguraikan seluruh otak. Dimana akhirnya, kesadaran terciptakan.

Mungkin juga, kesadaran manusia terbentuk melalui evolusi yang sangat lambat, Dan kurang efisien. Jadi jika kita bisa menciptakan kesadaran melalui metode ilmiah, ini akan jauh lebih cepat dan lebih efisien. Dan mungkin itulah saatnya, kita memasuki Era Singularity.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.