Hubungan antara Menulis dan kaitannya dengan dunia

Oleh: Ricky Suwarno

7 april 2019

Menulis telah menjadi sebagian dari hidup saya. Suatu hari, ketika saya sedang berjalan santai di shanghai Century Park. Dengan seorang cewek yang sekarang telah menjadi keluarga saya. Dia menanyai hobby saya. Seperti biasanya waktu orang lagi pacaran. Dia Tanya tentang Hobby yang bisa dipertahankan secara lama. Yang tentu saja, suatu kebiasaan yang bisa menjadi sangat berharga.

“Membaca, menulis, dan berenang, “kataku tanpa berpikir lama.

Pada dasarnya, kebanyakan orang mudah terasa bosan. Terutama ketika mereka belum menemukan misi mereka di dunia ini.

Anda mungkin dengan mudah menghabiskan dua jam menonton film. Menonton tv. Chit-chat Atau minum kopi dengan teman. Tetapi, bila anda menggunakan dua jam untuk membaca, menulis ataupun berenang, hasilnya jauh berbeda.

Bila anda menonton dsb, anda mengkonsumsi produk orang lain. Anda disambut dan dilayani. Kalau Anda membaca, apalagi menulis, berarti anda menciptakan karya anda sendiri. Anda adalah pencipta. Pelayan. Karena, menulis adalah mekar pikiran dan jiwa seseorang.

Menurut saya, Konsumsi itu sendiri tidak membawa kebahagiaan ke tingkat lebih lanjut. Tetapi, hasil karya atau penciptaan bisa. Hidup manusia sangatlah pendek. Saya selalu merasa waktu kurang cukup. Seandainya, saya bisa membeli waktu orang lain, dan memasukkan dalam hidup sehari-hari. Menjadi 30 jam atau 50 jam sehari?

Semasa kecil, saya selalu diberitahu oleh orang tua, Menulis adalah investasi terbaik untuk diri sendiri. Pada saat itu, saya masih kurang memahami arti kata tersebut.

Apalagi dalam gelombang perkembangan seluler internet. Yang benar-benar melepaskan energi dan bakat seseorang. Menjadikan era ini sebagai era personal branding. Selama anda memiliki ide, professionalisme, atau konten yang bagus, dunia pasti bisa menemukan dan melihat bakat anda.

Saya masih ingat jelas beberapa tahun yang lalu, ketika mentor saya meminta untuk melonggarkan beberapa jam untuk menulis setiap hari. Katanya, kebanyakan orang yang sukses di dunia ini, selain mempunyai kebiasaan membaca, mereka juga suka menulis.

Sebenarnya, “menulis tidak hanya menjelaskan dunia. Tetapi kadang juga berlawanan dengan dunia.” Maksudnya, kita harus melihat sesuatu di balik kenyataan.

Misalnya, novel “One hundred years of solitude” yang ditulis oleh pengarang terkenal, Marquez. Tentang perluasan kota Macondo yang merupakan sisi positifnya sejarah. Dan realitas sosial yang sedang terjadi. Realitas ini adalah urbanisasi. Yang pasti akan dihadapi dalam perkembangan peradaban modern.

Namun, Marques bukan menulis keniscayaan perkembangan kota Macondo. Tetapi menulis dibalik seratus tahun kesepian yang telah tumbuh pada saat yang sama.

Tokoh-tokoh dalam novel seperti Kolonel Ussuna, dan Kolonel Aureliano yang terjerat dan, tidak dapat menentukan nasib mereka sendiri. Tetapi, mereka bersikeras mempertahankan keberadaan mereka.

Perjuangan ini telah membuat mereka bermartabat. Dihormati. Dan telah menjadi sejarah yang positif dalam persaingan.

Disamping itu, Hubungan antara menulis dan dunia ini bisa dilukiskan sebagai “kecil sama dengan besar”. Atau, “kecil lebih besar dari besar”.

Contoh yang sama dalam “one hundred years of solitude.” Sebuah desa bisa berubah menjadi satu dunia. Dimana Macondo yang asal mulanya hanya dari beberapa kepala rumah tangga. Kemudian menjadi satu kota yang sangat makmur. Hingga akhirnya mengalami kemunduran.

Kehidupan dikota itu terdiri dari beraneka ragam manusia. Kehidupan di Macondo hampir persis dengan kehidupan seluruh masyarakat Amerika Latin modern.

Penulis, Kafka dalam novelnya “The Metamorphosis” juga begitu. Suatu hari, ketika Kafka bangun di pagi hari, dan menemukan dirinya telah menjadi seekor kumbang.

Tentu saja, manusia tidak bisa menjadi kumbang. Tetapi kita kadang juga memiliki ketakutan, kecemasan, dan kekhawatiran. Saat ini, Kafka mengekspresikan emosi ini dengan kata-kata. Mimpi buruknya, memang juga pernah menjadi mimpi buruk semua orang di dunia.

Kira-kira begitulah maksud saya “hubungan antara menulis dan dunia, yang mendeskripsikan hubungan sesuatu yang sangat kecil, dengan sesuatu yang sangat besar (dunia ini). Atau, bahkan lebih besar dari dunia ini.

Di samping itu, hubungan menulis dengan dunia ini, bukan tercermin atau direfleksikan. Melainkan suatu metafora dan simbol.

Ketika seorang penulis ingin menciptakan suatu karakter atau cerita. Yang berdasarkan model realistis yang telah ada. Penulis terlebih dahulu harus menghancurkan model semula. Yaitu, kognisi aktual dalam konsep sehari-hari dipecahkan dulu, menjadi elemen individu. Dan kemudian disatukan lagi. Menjadi suatu model topic yang baru.

Oleh karena itu, ketika kita mengatakan bahwa Pride and Prejudice adalah lukisan bergenre kelas menengah Inggris di abad ke-19. Itu juga tidak mungkin sama persis dengan kenyataan pada waktu itu.

Menyoroti beberapa karakter penting, dan menjadikan karakter ini sebuah metafora dan simbol adalah nilai dari sebuah novel.

“Bagaimana melukiskan sifat dan karakter manusia, tetapi pada saat yang sama juga mengarah pada metafora dan universalitas, adalah arah artistik yang dikejar oleh semua penulis.”

So, just like grandma says, Menulis dan kaitannya dengan dunia bisa disimpulkan sebagai, hubungan yang berlawanan dengan kenyataan, hubungan sesuatu yang kecil dengan yang besar, dan hubungan metafora.

Advertisements
Categories: Budaya menulis, Keterampilan menulis, Menulis dan duniaTags: , , , , , , ,

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: