Monopoli dan Anti Monopoli

Monopoli dan Anti Monopoli karena kemajuan teknologi dan pertumbuhan ekonomi. Merupakan masalah yang banyak dibahas dalam Era Dunia Digital. Seperti peran perusahaan informasi teknologi Facebook, Google, maupun Twitter mengenai berita palsu atau Hoax. Masalah Ini juga sangat menonjol di Indonesia. Namun, sejauh ini tampaknya masih kurang ada penanganan efektif.

Perusahaan platform di atas melakukan pengumpulan data berskala besar. Menimbulkan masalah kepemilikan data dan hak privasi. Di AS, Tiongkok, Indonesia, dan di seluruh dunia. Pengaruh dan dominasi perusahaan Raksasa teknologi sangat kuat. Sehingga membuat masyarakat khawatir akan polarisasi antara si kaya dan si miskin. 

Di Amerika Serikat, masalah polarisasi antara si kaya dan si miskin dianggap sebagai alasan penting terpilihnya Trump sebagai presiden empat tahun lalu. Dalam buku Yuval Noah Harari “Homo Deus: A Brief History of Tomorrow, juga menggambarkan masa depan yang suram.

Monopoli dan Anti Monopoli

Platform besar dengan teknologi data dan teknologi kecerdasan buatan atau AI mendominasi semuanya. Mayoritas orang akan jatuh ke dalam Situasi putus asa. Seperti kebanyakan pekerja manufaktur di AS hari ini. Bagaimana seharusnya perusahaan Teknologi Raksasa diperlakukan? 

Untuk menjawab pertanyaan ini, kita harus melihat ke sejarah. Bagaimana munculnya perusahaan Raksasa. Bagaimana masalah ini diselesaikan di masa lalu. Munculnya perusahaan Raksasa Teknologi merupakan fenomena yang tak terelakkan seiring  pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan yang kita alami saat ini sebenarnya adalah fenomena yang juga terjadi 300 tahun terakhir.

Saat ini, kita sedang mengalami Gelombang Anti-Monopoli perusahaan Raksasa. Sebelum Pilpres AS 2020 yang penuh gejolak, para CEO dan pendiri platform Internet besar di tuntut berturut-turut. Sedangkan Di China, berita terhangat adalah IPO Terbesar dalam Sejarah Manusia, Ant Financial Grup dari Alibaba yang sementara ditangguhkan. 

Tidak peduli standar apa yang digunakan untuk mengukur perkembangan ekonomi atau pertumbuhan kekayaan, kurva pembangunan sebelum tahun 1800 sangatlah datar. Baru setelah tahun 1800, kurva tersebut mulai meningkat tajam. Padahal setelah tahun 1800, Dunia pernah mengalami dua kali perang dunia. Dan krisis ekonomi Dunia seperti Great Depression pada tahun 1929. 

Untungnya, Perang Dunia dan Depresi di atas membawa Pengaruh yang lebih kecil. Kurang berpengaruh pada pertumbuhan kekayaan. Karena alasan inilah Warren Buffett mengatakan bahwa dalam jangka panjang, adalah suatu kebodohan tidak punya keyakinan terhadap ekonomi AS. AS telah menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi global setelah revolusi industri kedua. 

Revolusi industri pertama dimulai di Inggris. Revolusi industri kedua kemudian terjadi di Amerika Serikat. Hampir Semua orang mendapat manfaat dari buah Revolusi Industri. Misalnya, jaringan kereta api dan jalan raya yang menghubungkan sebagian besar wilayah. Minyak bumi dan teknologi mesin pembakaran internal yang menjadi sumber tenaga utama. Baja dan teknologi manufaktur. Listrik dan jalur perakitan industri. Jaringan air, gas, dan pemanas. 

Munculnya Revolusi Industri, tentu saja membuat sekelompok orang Amerika menjadi  kaya. Diantaranya, Raksasa minyak Rockefeller. Raksasa baja Carnegie. Raja perkapalan dan kereta api Vanderbilt. Raksasa kereta api dan telegraf Hengguerde. Raksasa keuangan JP Morgan. Raksasa mobil Henry  Ford dan seterusnya. 

Perusahaan yang didirikan oleh beberapa Taipan ini, kebanyakan termasuk perusahaan terbesar di dunia. 

Mengapa orang-orang ini bisa menjadi super kaya? Mengapa perusahaan yang didirikan oleh Taipan ini bisa menjadi perusahaan Raksasa? Jawabannya, kemajuan teknologi dan pertumbuhan ekonomi. 

Perlu diakui, perkembangan teknologi tidak dapat diprediksi. Misalnya, waktu Rockefeller memasuki Bisnis minyak. Industri minyak telah mengalami krisis beberapa kali. Krisis cadangan minyak yang tidak mencukupi. Atau, pembatasan penggunaan minyak. 

Namun, dengan mengandalkan kejelian dan optimisme, Rockefeller terus menginjek banyak modal ke industri tersebut. Ditambah dengan bakat wirausaha sendiri, akhirnya memperoleh kesuksesan terbesar.

Ketidakpastian teknologi menakdirkan hanya sebagian kecil orang yang dapat menangkap peluang. Sehingga, cuma segolongan kecil individu dapat menikmati sebagian besar kekayaan yang diciptakan oleh pencapaian teknologi. 

Logika pembangunan ekonomi adalah yang kuat semakin kuat. Winner takes all. Semua ini berkat efek skala. Ambil Rockefeller sebagai contoh. Rockefeller tahu persis bahwa banyak kilang kecil yang tersebar hanya akan menyebabkan pemborosan. Secara tidak langsung menyebabkan harga minyak tidak stabil. 

Karena itu, dia memutuskan untuk mengakuisisi semua kilang-kilang minyak kecil. Supaya dapat menstabilkan harga minyak dan menghilangkan pemborosan. 

Dengan demikian, dia juga bisa menikmati tarif angkutan yang lebih rendah dalam negosiasi dengan perusahaan kereta api. Dengan lebih banyak keuntungan, dia dapat menginvestasikan lebih banyak modal. Untuk meneliti teknologi pemurnian minyak yang lebih maju. Akhirnya, umpan balik positif terus diperkuat dan terbentuk.

Rockefeller menjadi orang terkaya dalam sejarah manusia. Perusahaan Standard Oilnya  menjadi salah satu perusahaan terbesar Dunia. Bukan karena eksklusivitas yang dia nikmati. Tapi karena dia berhasil mempertaruhkan dengan tepat ketidakpastian teknologi.

Pada akhir abad 20, Daya saing perusahaan Teknologi Raksasa berhasil mengerdilkan mantan perusahaan raksasa seperti Standard Oil Company, New York Central Railroad, Carnegie Steel Company, dan Ford Motor Company. Mengapa bisa terjadi? 

Selain efek skala besar, perusahaan Informasi Teknologi juga telah mengembangkan dua kemampuan lainnya. Pertama, kemampuan efek jaringan. Kedua, kecerdasan data. Efek jaringan jauh lebih kuat daripada efek skala. 

Perusahaan industri yang paling kuat tidak dapat mendominasi dunia. Umpamanya industri mobil. Skala efeknya telah dikembangkan sebesar mungkin. Namun, Masih ada beberapa perusahaan mobil yang dapat hidup berdampingan dan bersaing di pasar. Seperti GM, Ford, dan Chrysler di Amerika Serikat. BMW, Mercedes-Benz, dan Volkswagen di Jerman. Toyota, Honda, Nissan, dll di Jepang. 

Hal yang paling menakutkan tentang efek jaringan adalah ia dapat membentuk posisi dominan di pasar. Contohnya, Microsoft dengan sistem operasi komputernya. Google atau Baidu dengan mesin pencarinya. Facebook dan WeChat untuk jejaring sosialnya. Mereka telah mendominasi Dunia. 

Keberadaan efek jaringan memungkinkan perusahaan Raksasa Teknologi menguasai 70% atau bahkan 90% pangsa pasar. Sementara pesaing lain yang bila masih bernasib baik, hanya dapat berbagi sisa 10% hingga 30% Pangsa pasar.

Tentu saja, tidak semua platform teknologi utama saat ini dapat menikmati efek jaringan dalam arti murni. Contoh paling umum adalah perusahaan E-Commerce. Amazon tidak memiliki pengaruh jaringan sebesar Facebook. Atau, Taobao hampir tidak begitu kebal terhadap persaingan dengan WeChat.

Namun, harga saham dan nilai pasar mereka justru semakin tinggi. Karena mereka memiliki kemampuan intelijen data yang sangat kuat. Semakin banyak pedagang membuka toko di Amazon dan Taobao, semakin banyak konsumen membeli di Amazon dan Taobao. Kedua platform menikmati skala ekonomi. Termasuk data bisnis pedagang serta data pengguna yang sangat berharga di Era AI atau Kecerdasan Artifisial. 

Teknologi algoritme canggih yang digabungkan dengan semakin banyak data belanja dan bisnis, secara alami membuat Amazon maupun Taobao semakin memahami  Favorit belanja konsumen.

Inilah alasan mengapa mereka selalu dapat merekomendasikan produk yang kita sukai. Ini juga mengapa Ant Financial milik Alibaba tidak memerlukan jaminan apa pun. Atau mengutus salesman untuk penyelidikan kredit. Tetapi langsung dapat memberikan pinjaman. 

Berkat efek jaringan dan kecerdasan data, perusahaan lain kurang dapat bersaing dengan mereka sama sekali. Efek jaringan membuat platform sangat melekat dengan penggunanya.

Kecerdasan data membuat kemampuan belajar platform atau Machine Learning (ML) jauh lebih besar daripada spesies lain. Efek jaringan artinya, ketika Anda ingin berhenti menggunakan Facebook atau WeChat, biaya komunikasi dengan teman dan kolega Anda menjadi mahal. Anda bahkan, mungkin akan terisolasi dari hubungan sosial dengan mereka.

Bagaimana kita hidup berdampingan dengan perusahaan Raksasa Teknologi? Terkait Hak kepemilikan data dan Masalah Privasi pribadi? Bagaimana pemerintah menangani masalah Monopoli dan Anti Monopoli?

Sebenarnya, Perusahaan raksasa teknologi bukan hanya produk dari perkembangan ekonomi dan kemajuan teknologi. Mereka juga Mesin penggerak ekonomi dan teknologi dalam putaran umpan balik positif. Bila kita melihat balik sejarah, telah ada cara efektif menjinakkan perusahaan raksasa. Misalnya, tekanan opini publik dan perbaikan tata kelola pemerintahan. 

Pada masa Rockefeller, Masyarakat saat itu menyebutnya Taipan Perampok. Rockefeller yang semula wirausahawan mandiri dan pahlawan Amerika sampai ke Taipan perampok. Atau, Pak Tua yang kejam dan menindas pemilik usaha kecil dan menengah. 

Akibat tekanan opini publik, Rockefeller akhirnya menjadi salah satu dermawan terbesar dalam sejarah manusia. Rockefeller dan Carnegie, perusahaan raksasa lain pada masanya, bahkan berkompetisi menjadi siapa diantara mereka yang paling banyak berbuat amal. Mereka tidak hanya bersaing amal di negaranya sendiri.

Rumah Sakit Peking Union Medical College adalah contoh hasil donasi Rockefeller Foundation. Saat itu, Rockefeller Foundation berharap bisa mendirikan rumah sakit dan institusi medis terkemuka dunia di China. 

Cara penjinakkan Jalur kedua adalah perbaikan tata kelola pemerintahan. Badan pemerintah adalah organisasi terpenting yang diciptakan manusia. Tujuan pendirian pemerintahan adalah untuk memastikan masyarakat dapat berkembang dengan tertib dan makmur. Ketika Rockefeller dan Carnegie menjadi semakin besar, kemampuan tata kelola dari pemerintah AS saat itu tidak dapat mengikuti. 

Pemerintah AS pada masa itu dapat dikatakan sebagai pemerintahan kecil. Dengan kata lain, pemerintah AS tidak dapat berbuat apa-apa.

Memasuki tahun 1907, ketika AS menghadapi krisis Ekonomi, muncullah JP Morgan menyelamatkan sistem keuangan AS dari kehancuran. Mulai saat itu, tata kelola pemerintah mulai membaik. Dengan partisipasi anggota Konsorsium JP Morgan, sebuah badan regulasi baru bernama Federal Reserve kemudian didirikan. 

Sebagian besar sistem yang kita gunakan sekarang, seperti standar upah minimum, sistem asuransi pengangguran, sistem sanitasi makanan dan sebagainya merupakan hasil perbaikan terus menerus dari tata kelola dan pengawasan pemerintah.

Termasuk Badan pemerintah yang paling terkenal dalam menangani Monopoli perusahaan-perusahaan raksasa saat ini, Undang-Undang Anti Monopoli. Dari Rockefeller Standard Oil hingga Microsoft Bill Gates. Keduanya pernah menerima penyelidikan anti monopoli. 

Monopoli dan Anti Monopoli
Monopoli dan Anti Monopoli (Image: Market Watch)

Masih banyak kontroversi seputar monopoli dan anti-monopoli. Anti monopoli memang menjadi ancaman yang sangat kuat bagi para raksasa. Mereka juga tidak berani seenaknya menyerang pesaing di pasar. Misalnya, Microsoft yang akhirnya terhindar dari perpecahan oleh pemerintah AS. Namun, UU Anti Monopoli berhasil mengalihkan perhatian Microsoft. Memungkinkan perusahaan Startup lainnya dapat  berkembang tanpa ancaman dari Microsoft. 

Just like grandma says, Perusahaan Raksasa Teknologi memang perlu lebih banyak bertanggung jawab di luar bisnis mereka. Kemunculan perusahaan-perusahaan raksasa memang hasil tak terelakkan dari perkembangan teknologi dan pertumbuhan ekonomi.

Mereka sendiri juga merupakan bagian dari Ekosistem industri. Oleh karenanya, mereka juga yang menggerakkan perkembangan dan pertumbuhan Ekonomi Teknologi negara dan dunia. 

Apa Pendapat Anda

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.