Advertisements

Mungkinkah mata uang Digital menggantikan mata uang Asli?

Oleh: Ricky Suwarno

5 Juli 2019

Sejak Facebook mengumumkan peluncuran mata uang Digital Libra, telah menjadi pusat perhatian Dunia. Terutama Bank Sentral setiap negara. Sifat Mata uang, pada dasarnya sebagai alat akuntansi dan pertukaran. Dimasa awalnya, uang memiliki fungsi penyimpanan. Namun fitur ini tidak penting lagi hari ini.

Karena manusia telah menciptakan semakin banyak kekayaan. Mereka tidak dapat sepenuhnya disimpan dalam bentuk barang. Seiring perkembangan ekonomi, proporsi kekayaan yang terlihat dan nyata mulai menurun. Sebaliknya, kekayaan virtual relatif meningkat.

“Mungkin ada yang bertanya apakah bitcoin, atau mata uang virtual terenkripsi lainnya akan menggantikan Mata uang Asli?” Menurut saya, secara sederhana hal ini tidak akan terjadi dalam beberapa tahun mendatang. Setiap orang masih harus menggunakan mata uang yang dikeluarkan oleh bank sentral mereka sendiri.

Contohnya, mata uang virtual terenkripsi. Yang dianggap sudah memiliki fungsi mata uang. Tetapi di sisi lain masih memiliki banyak kekurangan. Pertama, sebagai Alat perdagangan dan sirkulasi komoditas. Biayanya terlalu tinggi. Jika Anda membeli segelas kopi di Starbucks di AS, harganya sekitar $ 2,50. Biaya membayar dengan kartu kredit sekitar 3 sen dolar. Biaya lewat kartu bank sekitar 1 sen dolar. Sedangkan, biaya transaksi tunai adalah 1 sen dolar. Karena ada biaya untuk inventaris dan menyimpan uang tunai.

Tetapi jika Anda membayar dengan bitcoin, biayanya sebesar $ 20 dolar. Karena biaya transaksinya terlalu mengkonsumsi listrik. Biaya yang terlalu tinggi untuk bisa diterima secara public.

Masalah kedua, waktu pengiriman transaksi yang terlalu panjang. Paling tidak 2 jam sampai 2 hari. Jauh berbeda bila Dibandingkan dengan uang tunai, kartu kredit, kartu bank, atau pembayaran seluler yang tidak sampai satu menit. Karena setiap transaksi bitcoin, semua server harus diberi tahu. Bahwa mata uang tersebut telah beralih menjadi milik Pak Budi, bukannya Bu Wati lagi.

Sebagai mata uang, nilai mata uang harus stabil. Jika tidak, perdagangan impor dan ekspor yang dijual ke Indonesia, sebelum uangnya sampai ke China, telah devaluasi 5%. Bahkan tidak cukup untuk membayar upah seorang buruh. Bitcoin bisa mengapung 10% dalam sehari.

Disamping itu, Mata uang manapun sebagai alat bisnis ekonomi, harus bisa likuidasi. Penawarannya harus sesuai dengan ukuran ekonomi suatu negara. Misalnya, ekonomi Indonesia yang mulai berkembang pesat. Persediaan mata uangnya harus tumbuh lebih cepat.

Salah satu kelemahan uang elektronik terenkripsi seperti Bitcoin adalah pasokannya yang sangat terbatas. Bagi orang yang kurang mengerti ilmu ekonomi mungkin berpikir, ini adalah hal yang baik. Karena dapat menghindari inflasi. Tetapi ketika jumlah uang beredar tidak mencukupi, kerugiannya bahkan lebih besar. Ini berarti ketika ekonomi berkembang cepat, semakin banyak layanan akan dibutuhkan. Mata uang yang dapat ditukar dengan unit produk menjadi semakin berkurang.

Misalnya, jika Anda berencana memproduksi dan menjual ponsel. Ketika Anda membeli komponen, harga ponsel berkisar pada satu mata uang virtual. Biaya produksi nya adalah setengah mata uang virtual. Tetapi pada saat Anda mulai menjual ponsel, Anda hanya dapat memperoleh kembali setengah mata uang virtual. Sehingga, Anda kehilangan motivasi untuk berbisnis. Akibatnya, perekonomian tidak akan bertumbuh. Dan mulai lesu.

Setelah Perang Dunia Kedua, walaupun ada krisis ekonomi dunia, tetapi durasinya tidak berlangsung lama. Bank sentral masing-masing negara dapat merespons secara efektif. Membantu negara itu keluar dari krisis. Tetapi Apabila, seluruh dunia menggunakan satu mata uang virtual terenkripsi, maka masalah akan sulit teratasi.

Dengan adanya Bank sentral, pemerintah dapat melakukan banyak hal seperti menggunakan neraca. Selain mengatasi krisis keuangan, bank sentral juga dapat mengendalikan inflasi. Atau sengaja membiarkan mata uang terdepresiasi. Meningkatkan daya saing ekspornya. Fungsi-fungsi ini bukan sesederhana dan dapat teratasi oleh cryptocurrency.

Cara paling efektif untuk menyelesaikan waktu pengiriman, biaya transaksi, dan keamanan pertukaran bisa dilakukan oleh bank. Atau perusahaan besar seperti Alibaba. Dengan Mengeluarkan mata uang digital terenkripsi yang terpusat. Dan tidak didesentralisasi. Kemudian diperdagangkan langsung di cloud. Oleh karena itu, sudah saatnya kita semua memahami blockchain. Dari non-desentralisasi, ke perlunya memikirkan kembali desentralisasi.

Mata uang dan lembaga yang mengeluarkan mata uang tidak boleh dipisahkan. Setiap Negara perlu menyesuaikan kebijakan ekonomi mereka melalui distribusi mata uang.

Just like grandma says, sikap saya terhadap enkripsi mata uang digital termasuk cryptocurrency Facebook-Libra, adalah: “Hal ini patut mendapat perhatian tinggi”.

Karena penggunaan blockchain lebih dari sekedar cryptocurrency. Fungsi Blockchain adalah hubungan produksi baru yang dapat menyelesaikan banyak transaksi, kredit, dan distribusi pendapatan di masa lalu. Karena itu, blockchain sangatlah penting.

Namun, Teknologi blockchain saat ini masih perlu banyak pengembangan ataupun perbaikan.

Sebenarnya, lebih dari 99% ICO saat ini tidak dapat diandalkan. Hanya ada beberapa ICO dengan karakteristik dapat menyelesaikan beberapa masalah seperti distribusi laba. Dan kelancaran transaksi. Selebihnya, bisa melalui pendekatan ICO, dengan memasukkan beberapa sumber daya rekayasa ke dalam teknologi yang didasari blockchain. Sebagai contohnya, Ethereum.

Mari, tolong pikirkan fungsi lain dari bank sentral Indonesia, yang tidak mungkin diatasi oleh mata uang digital seperti Libra.

Advertisements
Categories: artificial intelligence indonesia, Mata uang digitalTags: , , , , , , , , ,

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: