Advertisements

Musuh Publik Raksasa Teknologi

Oleh: Ricky Suwarno

11 Juli 2019

Kemarin, DPR AS mengeluarkan pengumuman. Apple, Google, Facebook maupun Amazon harus menghadiri sidang “Anti-trust Kongres” minggu depan. Alias Pendengaran “Anti Monopoli”.

Perusahaan raksasa teknologi membentuk “monopoli” pasar selalu menjadi topik hangat dalam politik Amerika. Bahkan Rekan pendiri Facebook juga pernah menyerukan pemerintah untuk memecahkan Facebook.

Namun, apakah “monopoli” itu pasti buruk?

Sebenarnya, industri AS bisa menjadi nomor satu di dunia, “monopoli” telah memainkan peran penting. Salah satu industri terpenting dalam proses industrialisasi di AS adalah industri perminyakan. Keluarga Rockefeller, perusahaan “Standard Oil” mengendalikan 90% industri penyulingan dan jaringan minyak pipa AS. Selain itu, juga terus mengembangkan industri hulu dan hilir perminyakan. Semua rantai industri berada di tangan Rockefeller. Dari produksi minyak dan penyulingan di ujung pasokan. Hingga pemrosesan dan penjualan produk sampingan. Sampai Ke Transportasi dan ekspor.

Pada dasarnya, monopoli membawa dua dampak. Pertama, karena pesaing dihilangkan, perusahaan monopoli memasuki zona nyaman. Efisiensi dan kualitas produk cenderung menurun. Kedua, partai monopoli akan mulai menaikkan harga. Konsumen tidak memiliki pilihan lain. Dan hanya bisa membeli produk-produk mahal.

Tetapi, yang terjadi justru sebaliknya. Persaingan menurun. Namun, efisiensi meningkat. Konsumen menikmati harga yang lebih rendah.

Google, Microsoft, Facebook ataupun Amazon, tampaknya sama dengan perusahaan minyak Rockefeller pada waktu itu. Di satu sisi, mereka terus mengintegrasikan rantai industri dan efisiensi. Di sisi lain, harga produk di pasaran lebih terjangkau daripada sebelumnya. Kalau begitu, mengapa AS masih terjadi “anti-monopoli” pada perusahaan teknologi ini?

Yale Law Journal menerbitkan “Kontradiksi Anti monopoli Amazon”. Penulis artikel bernama “Lina Khan”. Anggota Komite Antitrust Konggres AS. Yang dijuluki sebagai “Musuh Publik” raksasa teknologi dunia. Karena banyak politisi AS menggunakan artikel ini sebagai senjata menghancurkan monopoli raksasa teknologi.

UU saat ini, menggunakan hak konsumen untuk menentukan apakah suatu perusahaan telah menyebabkan monopoli. Kriteria menilai benar atau salah berdasarkan hasil. Tetapi menurut Lina Khan metode evaluasi ini sudah kuno. Kadaluwarsa. Dalam masalah monopoli, “hasil” bukan satu-satunya kriterita pertimbangan. Tetapi juga “sarana”.

Sulit bagi penegak hukum untuk menilai, Jika Raksasa teknologi terlibat dalam persaingan harga yang tidak adil. Sebagai contoh, fluktuasi harga harian di situs Amazon. Sebanyak 2,5 juta kali per hari. Dengan kata lain, harga barang diganti dan disesuaikan setiap saat. Sehingga, Tidak ada cara untuk statistik akurat.

Munculnya AI alias kecerdaasan buatan menyebabkan harga yang “dipersonalisasi.” Artinya, perusahaan internet ini memiliki kemampuan dan strategi penetapan harga yang berbeda untuk setiap konsumen.

Di masa lalu, ketika berbicara tentang harga, kita seringkali hanya melihat jenis produk tertentu. Tetapi sekarang, perusahaan seperti Amazon memiliki begitu banyak jenis produk. Sehingga Amazon dapat memanipulasi harga lintas kategori dan industri. Misalnya, E-Book terlaris di Kindle bisa dijual tanpa untung. Tetapi harga buku fisiknya akan dinaikkan untuk mencapai profit. Manipulasi ini belum diperhitungkan dalam sistem hukum saat ini.

Oleh karena itu, menggunakan “penetapan harga” untuk menilai monopoli bukanlah kriteria objektif.

Kompleksitas bisnis Teknologi raksasa telah melibatkan banyak kepentingan. Yang tidak menguntungkan persaingan. Amazon bukan hanya perusahaan e-commerce. Tetapi juga platform pemasaran. Perusahaan logistic. Serta layanan penerbitan. Produksi televisi dan film. Layanan cloud dan sebagainya. Dalam ekosistem ini, pengguna Amazon seringkali juga berperan sebagai pesaing Amazon.

Misalnya, pengecer yang bersaing dengan Amazon juga menggunakan bisnis logistik Amazon. Perusahaan media yang bersaing dengan Amazon juga membeli layanan cloud Amazon. Dalam hubungan ini, Amazon dapat memperoleh banyak informasi dan data tentang pesaingnya.

Suatu ketika, Ada satu perusahaan mainan mewah. Yang menjual produk di Amazon. Dengan rata-rata penjualan 100 unit per hari. Tetapi setelah meneliti penjualan pesaingnya, Amazon juga meluncurkan mainan mewahnya sendiri. Yang sangat mirip dengan pesaingnya. Dan bahkan menempatkan produk mereka sendiri di posisi paling menonjol di platform Amazon. Penjualan pesaingnya dengan cepat turun drastis menjadi 20 unit per hari. Bayangkan, Ini bukan hanya satu contoh. Amazon juga menjual komputer, pakaian olahraga wanita dan produk lainnya. Dan melakukan hal yang sama mematikan pesaingnya.

Model bisnis Amazon, secara alami mendorong penetapan harga predatori. Artinya, menjual barang tanpa untung, Namun membakar uang untuk menarik lebih banyak pengguna. Setelah pengguna telah tumbuh cukup banyak, baru mempertimbangkan masalah profit. Tentu saja, Strategi penetapan harga ini sangat tidak menguntungkan untuk persaingan pasar.

Just like grandma says, Hasil dari badai ini tidak dapat diprediksi. Tapi satu hal sudah pasti. Arah angin telah berubah. Dan status Teknologi Raksasa Silicon Valley akan menghadapi tantangan yang sangat serius.

Advertisements
Categories: artificial intelligence indonesia, Raksasa Teknologi ASTags: , , , , , ,

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: