Operasi Penambangan Terbesar bawah laut

Operasi Penambangan Terbesar bawah laut dalam sejarah akan segera dimulai. Menjelang akhir tahun, banyak orang mulai merangkum tahun 2019 dan berharap terbaik untuk 2020. Edisi Januari/February 2020, Atlantic Monthly menerbitkan artikel blockbuster menarik “Operasi Penambangan Terbesar bawah laut dalam sejarah akan segera dimulai. “

Yeah, penambangan bawah laut. Bukan penambangan digital seperti Bitcoin, tetapi penambangan di bawah laut. Ada perusahaan yang khusus melakukan penambangan bawah laut yang mungkin tidak asing bagi kita semua, yaitu taipan berlian “De Beers.” Dengan  iklannya yang sangat terkenal itu, “A Diamond is forever “ adalah iklan perusahaan ini.

Operasi Penambangan Terbesar bawah laut

Pada tahun 2018, De Beers berhasil menggali 1,4 juta karat berlian dari perairan Namibia. Tentu saja, untuk perusahaan yang memproduksi lebih dari 30 juta karat berlian mentah per tahun, jumlah ini mungkin terdengar seperti suatu keberuntungan. Namun, perlu diingat perairan Namibia memiliki kandungan intan bawah laut terbesar di dunia. Diperkirakan total 80 juta karat berlian. Di Namibia, produksi berlian bawah laut telah melampaui jumlah berlian darat.

Para ilmuwan pertama kali menemukan mineral di dasar laut sekitar 150 tahun yang lalu. Ketika Bijih besi ditemukan di perairan Rusia utara. Sejak itu, manusia terus mencari sumber daya mineral baru dari bawah laut seperti tembaga, nikel, perak, platinum, emas dan bahkan berlian dari dasar laut. Akibatnya, Banyak perusahaan besar telah memulai proyek penambangan di bawah laut.

Operasi Penambangan Terbesar bawah laut
Operasi Penambangan Terbesar bawah laut dalam sejarah akan segera dimulai (Image: The Atlantic)

Sebagai contoh, perusahaan Kanada bernama Nautilus Minerals sedang mengembangkan area mata air panas dengan logam langka di perairan Papua Nugini. Atau China, Jepang dan Korea Selatan juga memiliki operasi penambangan bawah laut nasional.

Lautan lepas menutupi setengah dari perairan dunia. Di bawah perairan ini, tersembunyi sumber daya mineral yang jauh lebih banyak dari gabungan lima benua. Namun, penambangan laut lepas berada di bawah naungan dan manajemen terpadu PBB.

Selama hampir 20 tahun, PBB telah mencoba merumuskan peraturan pengelolaan pertambangan laut lepas, yang disebut “Regulasi Pertambangan Subsea”. Tujuan dari peraturan ini adalah untuk menetapkan standar yang seragam untuk lokasi, teknologi, dampak lingkungan dan proses aplikasi penambangan. Termasuk mengurangi potensi kerusakan yang disebabkan oleh Operasi Penambangan Terbesar bawah laut yang akan dilakukan tahun 2020.

Jika tidak memperoleh pengesahan PBB, tidak ada negara yang boleh melakukan penambangan industri skala besar di lautan lepas.

Perwakilan dari 168 negara dan wilayah di seluruh dunia sekarang berpartisipasi dalam perumusan peraturan ini. Tahun 2020 mendatang mungkin merupakan titik waktu kritis. Karena pada tahun 2020, peraturan ini akan diresmikan dan diimplementasikan. Jika peraturan tersebut benar-benar dilaksanakan, akan menjadi peristiwa tonggak untuk penambangan di laut lepas.

Sebenarnya Sebelum peraturan diatas disahkan, PBB telah memberikan izin eksplorasi ke beberapa negara.

Saat ini, lebih dari 30 perusahaan pertambangan telah memegang lisensi ini untuk melakukan pekerjaan eksplorasi di Atlantik, Pasifik, Samudra Hindia dan laut lainnya. Sambil menjelajahi sumber daya dasar laut, mereka menunggu PBB untuk meresmikan Peraturan Penambangan komersial area.

Begitu peraturan ini diterapkan, dapat dibayangkan pengembangan mineral bawah laut pasti akan memasuki Era baru. Itulah judul artikel di Atlantic Monthly 2020 “Operasi Penambangan Terbesar bawah laut dalam sejarah akan segera dimulai.”

Ketika perusahaan pertambangan mengkomersialkan penambangan, mereka sering membuang sedimen yang tidak berguna lagi kembali ke dasar laut. Beberapa elemen ini mungkin mengandung racun seperti merkuri dan timbal. Racun ini berpotensi mempengaruhi ratusan mil perairan dan ekosistem di sekitarnya.

Karena itu, bagaimana menangani sedimen berbahaya selama penambangan selalu menjadi fokus para ilmuwan. Karena dampak sedimen terhadap lingkungan ekologi laut tidak mudah diprediksi. Para ilmuwan masih memperdebatkan seberapa jauh endapan akan tersebar dan terpolusi.

Perlindungan ekologis lautan hanyalah satu faktor lingkungan. Dibandingkan dengan pengembangan mineral di bawah laut, sumber daya yang lebih besar dan peluang yang terkandung di dasar laut justru berada di ekosistem laut itu sendiri. Keanekaragaman sumber daya bawah laut mungkin merupakan harta yang belum dijelajahi untuk memecahkan masalah utama manusia, seperti masalah energi dan medis.

“Mengapa?”

Ilmuwan biologi Amerika Serikat bernama Craig Venter yang dikenal sebagai “bapak kehidupan buatan” dalam bukunya, A life Decoded: My Genome, My Life. Dia menghabiskan waktu dua tahun mengumpulkan sampel berbagai bakteri dan virus dari bawah laut di seluruh dunia. Melalui metode ini, ia menemukan ratusan ribu spesies baru di dasar laut. Apa gunanya spesies baru ini?  

Dari spesies-spesies baru, ia menemukan bakteri aneh yang dapat menyerap karbon dioksida dan kemudian memancarkan metana. Metana adalah sumber energi yang bisa dibakar. Karena itu, jika kita berharap menyelesaikan masalah daur ulang energi fosil di bumi, maka mungkin bakteri ini akan sangat bermanfaat di masa depan. Craig Venter berusaha mempelajari cara menggunakan gen bakteri untuk mensintesis organisme jenis baru.

Dia percaya bakteri di dasar laut juga dapat membantu dalam bidang pengobatan. Misalnya, obat antibiotik. Saat ini, Craig Venter telah merangkai ratusan ribu spesies dasar laut baru yang ia temukan dan diteliti di laboratoriumnya. Dari sekuensing genetik, ia berhasil mengidentifikasikan 60 juta gen unik. Jumlah ini 2.500 kali jumlah gen manusia.

Namun, sampai sekarang pengetahuan kita tentang makhluk di lautan dalam masih terlalu dangkal. Karena deteksi bawah laut terlalu sulit. Sebagai contoh Palung Mariana. Palung paling dalam didunia. Lebih dari 10.000 meter di bawah permukaan laut.  

Tapi tahukah Anda, membangun perangkat pendeteksi yang dapat mencapai Palung Mariana ini jauh lebih sulit daripada membangun perangkat yang dapat mendeteksi Planet Mars. Karena tekanan air di dasar laut terlalu besar. misalnya, Pada kedalaman 20 meter di bawah dasar laut, tekanan itu setara dengan tiga kali tekanan atmosfer di darat. Kedalaman 90 meter di bawah dasar laut, tekanannya setara dengan 10 kali tekanan atmosfer. Oleh karena itu, setiap peralatan untuk menjelajahi laut dalam harus memiliki ketahanan tekanan yang sangat kuat. Perlu teknologi yang sangat maju.

Ada seorang ilmuwan Amerika Serikat yang telah mempelajari laut dalam selama hampir 30 tahun bernama Timothy Shank.Dia pernah membentuk tim ahli top dunia dan menghabiskan 10 tahun merancang penyelidikan laut dalam yang paling canggih yang pernah ada di dunia ini.

Perangkatnya pernah mencapai kedalaman lebih dari 9.000 meter. Namun sayangnya, dalam pendeteksian di tahun 2014, ketika mesin mencapai jarak 9910 meter dan hampir melewati batas 10.000 meter, layar hitam tiba-tiba kehilangan kontak. Sampai saat ini tidak ada seorangpun tahu apa yang telah terjadi.

Saat ini, salah satu peralatan menyelam paling canggih di dunia adalah Made in China.

Operasi Penambangan Terbesar bawah laut
Palung Mariana memiliki kedalaman lebih dari 10.000 meter, merupakan palung terdalam di dunia (image: the atlantic)

Kapal selam berawak namanya “Jiaolong” dapat menyelam hingga 7500 meter. Merupakan kapal selam terbesar di dunia yang mampu menyelam sangat dalam. China juga telah mengembangkan alat peluncur bawah laut namanya “Haiyan”. Alat peluncur ini pertama di dunia dan berhasil menerobos kedalaman laut 8000 meter.

Sebagian besar ilmuwan yang mempelajari lautan, karena kurangnya peralatan eksplorasi laut dalam yang canggih, mereka saat ini hanya dapat menggunakan metode yang sangat primitif untuk mempelajari sistem biologi laut dalam.

Misalnya, Mengemudikan perahu ke lokasi yang ditentukan. Melemparkan alat penangkap ke lautan. Menunggu beberapa jam. Kemudian menariknya keatas lagi.

Hal ini persis dengan, kita menerbangkan pesawat terbang yang menggantungkan sangkar burung dibawahnya. Dan terbang di atas benua Afrika dari ketinggian 10.000 meter. Kemudian kita mempelajari serangga atau bangkai serangga yang terperangkap di dalam sangkar burung tadi. Dengan cara ini, menentukan makhluk mana yang ada di seluruh dataran Afrika.

Itulah cara primitif kita memahami lautan dalam. Kita menelitinya dalam kondisi yang sangat terbatas. Tidak heran kalau manusia tahu lebih banyak tentang Mars daripada keadaan di lautan dalam.

Just like grandma says, Operasi Penambangan terbesar bawah laut dalam sejarah akan segera dimulai adalah salah satu hal paling besar yang patut kita perhatikan di tahun 2020.

Eksplorasi dan pengembangan lautan dalam tidak hanya berarti kompetisi dan perlombaan antara negara besar, tetapi juga manusia dapat memperoleh pemahaman baru tentang kehidupan. Keingintahuan manusia akan hal-hal yang belum diketahui, justru merupakan awal dari pengetahuan. Itulah sebabnya mengapa kita perlu memperhatikan penambangan bawah lautan.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.