Pasien Covid-19 tanpa gejala

Pasien Covid-19 tanpa gejala akan hidup berdampingan dengan manusia untuk jangka waktu yang cukup lama. Pada akhir Maret 2020, epidemi virus Corona di China telah terkontrol secara efektif. Jumlah kasus baru terdiagnosis setiap hari dapat dikendalikan pada tingkat puluhan orang. Sebagian besar adalah orang asing yang masuk ke China. Secara global, peningkatan epidemi Covid-19 masih belum menunjukkan perlambatan. Jumlah diagnosis seluruh dunia telah melampaui 1 juta orang.

Pada saat yang sama, fakta yang relatif asing muncul di depan kita belum lama ini. Yaitu, Pasien Covid-19 tanpa gejala. Munculnya konsep ini telah menakutkan banyak orang. “Akankah ada banyak infeksi tanpa gejala yang tidak terdeteksi di sekitar kita?”  

“Apakah kita akan terinfeksi oleh mereka secara tidak disadari?”

“Jika ada banyak orang seperti itu, apakah masih mungkin untuk mengendalikan epidemi Covid-19?”

Pasien Covid-19 tanpa gejala

Jika kita melihat lebih dekat, kita akan menemukan infeksi asimptomatik sebenarnya mengandung beberapa situasi yang sama sekali berbeda. Secara khusus, ada standar untuk menilai apakah seseorang dampak positif virus Corona. Standar dunia adalah “pengetesan  asam nukleat.” Sederhananya, dokter menguji sampel saluran pernapasan bagian atas seseorang, umumnya dikenal sebagai “sampel sputum atau faring.” Jika dikonfirmasi ada fragmen gen dari virus corona, dapat dipastikan bahwa orang tersebut terinfeksi virus.

Namun, teknologi pengetesan asam nukleat memiliki masalah “sensitivitas”. Dengan kata lain, sebagian besar orang yang telah terinfeksi tidak dapat dideteksi. Jika deteksi tidak cukup standar, proporsinya mungkin hanya mencapai 50%.  

Jika pasien tidak memiliki gejala tetapi tes asam nukleatnya positif, pasien tersebut mungkin berada dalam tiga situasi yang berbeda.

Pertama, pasien tanpa gejala sebelum onset.

Seseorang sudah terinfeksi virus, tetapi selama masa inkubasi penyakit, ia belum menunjukkan gejala apapun. Periode ini biasanya berlangsung 3-5 hari. Bahkan, juga ada periode inkubasi hingga beberapa minggu.

Kedua, pasien yang tidak menunjukkan gejala sama sekali.

Seseorang memang terinfeksi virus, tetapi dari infeksi sampai ke penghapusan virus dari tubuh, ia tidak menunjukkan gejala sama sekali. Atau, gejala penyakitnya sangat ringan, dan mungkin sedikit batuk, kelelahan atau demam. Mungkin cuma dengan istirahat beberapa hari sakit menjadi hilang, sehingga orang itu sendiri tidak menyadarinya, atau tidak menganggapnya serius.

Ketiga, Pasien tidak menunjukkan gejala setelah onset.

Seseorang memang terinfeksi virus dan juga memiliki gejala khas pneumonia virus Corona, tetapi setelah istirahat atau perawatan di rumah sakit, gejalanya hilang. Tetapi meskipun gejala penyakit sudah hilang, tes asam nukleat masih positif, atau setelah menjadi negatif, kembali menjadi positif lagi.

Ketiga jenis orang ini dapat didefinisikan sebagai “Pasien Covid-19 tanpa gejala”. Tetapi di dunia nyata, pemahaman seseorang terhadap keadaan fisiknya bervariasi dari orang ke orang. Selain itu, manusia juga dipengaruhi oleh keadaan emosi dan pikiran. Jadi kadang Sulit untuk membedakan antara hitam dan putih.

Harap di ingat, klasifikasi diatas bukan tanpa bukti. Berbagai jenis infeksi tanpa gejala akan menentukan tindakan pengendalian yang berbeda.

Baik di China, Korea Selatan maupun Singapura di mana pengujian asam nukleat sangat intensif, hanya orang-orang dengan gejala atau mereka yang telah melakukan kontak dekat dengan pasien Covid-19 baru diuji asam nukleat. Menurut data komite kesehatan Nasional Tiongkok, saat ini terdapat lebih dari 1.500 pasien tanpa gejala di China yang sedang menjalani pengamatan medis. Hampir semuanya ditemukan telah berkontak dekat dengan pasien Covid-19.

Sebaliknya, Langkah-langkah dari negara-negara Eropa dan Amerika terhadap virus Corona hanya ditargetkan pada orang kaya atau jika seseorang tidak menunjukkan gejala, mereka tidak diminta untuk melakukan pengujian asam nukleat. Dengan kata lain, jalur diagnosis mereka tidak dapat menemukan orang yang terinfeksi tanpa gejala sama sekali.

Ini tentu saja memunculkan masalah yang sangat besar dan bahaya. Negara Eropa dan Amerika tidak memiliki cara sistematis untuk menyaring orang yang benar-benar tidak bergejala di dalam populasi, mereka dapat menjadi sumber infeksi potensial dan terus menyebarkan virus corona kepada orang lain.

Anda mungkin bertanya, “bisakah pemerintah melakukan tes asam nukleat untuk semua Warga?”

Jawabannya, “tidak Mungkin.”

Alasan Utama, biaya yang sangat tinggi. Pada periode puncak wabah Covid-19 di Tiongkok, kemampuan Tes asam nukleat virus corona hanya mencapai ratusan ribu salinan per hari.

Bahkan jika Upaya ini meningkat sepuluh kali lipat, China meperlukan beberapa tahun untuk menyaring seluruh populasinya. Dalam proses ini, apakah penyakit akan menyebar karena kerumunan orang banyak merupakan Risiko yang tersembunyi.

Di sisi lain, masalah sensitivitas deteksi asam nukleat bisa menjadi faktor pembatas yang fatal. Sebagai metode pendeteksian yang sensitivitasnya tidak terlalu tinggi, dalam beberapa kasus mungkin serendah 50%. Bahkan jika seluruh populasi diskrining, sebagian besar  “orang yang terinfeksi tanpa gejala” akan terlewatkan. Nilai penyaringan semacam itu sangat terbatas.

Para ilmuwan Jepang telah secara sistematis memeriksa ratusan warga Jepang yang  dievakuasi dari Wuhan dan menemukan 4 pasien infeksi tanpa gejala, dan 9 pasien dengan gejala. Proporsi infeksi tanpa gejala melebihi 30%.  

Para ilmuwan Jepang juga meneliti para penumpang kapal pesisir Princess Diamond, 634 orang berdampak positif asam nukleat. Di antaranya, 328 orang tidak menunjukkan gejala ketika mereka diTes.

Contoh lainnya, British Medical Journal menunjukkan pemeriksaan asam nukleat di sebuah desa Italia terhadap 3.000 orang pada tanggal 25 Maret, ada sekitar 50-75% dari orang yang terinfeksi tidak menunjukkan gejala.  

Bagaimana cara menangani “Pasien Covid-19 tanpa gejala” yang berbeda?

Ilmuwan China telah membuktikan dalam banyak kasus penularan keluarga, pembawa asimptomatik juga dapat menyebarkan virus ke anggota keluarga dekat.  

Untuk menjawab pertanyaan diatas, kita harus kembali ke tiga “infeksi tanpa gejala” diatas. Meskipun semuanya adalah infeksi tanpa gejala, tindakan pengobatannya juga sangat berbeda. Secara khusus, yang lebih mudah ditanggulangi adalah Gejala ketiga dan pertama yang memiliki pendekatan yang lebih sistematis. Tantangan lebih rumit terletak pada gejala kedua.

Kasus ketiga, setelah gejala penyakit menghilang, namun tes asam nukleat masih positif. Pasien dipulangkan setelah di rawat di RS, diobati, lalu gejala menghilang, kemudian asam nukleat berubah menjadi negatif. Tetapi setelah itu, tes asam nukleat kembali tampak positif.

Anda mungkin merasa bahwa penyakit ini seperti hantu, sulit dipahami. Pada kenyataannya, situasi ini lebih mudah diidentifikasi dan dikontrol, karena pasien akan sakit. Selama standar perawatan diperketat dalam waktu agak panjang, para ilmuwan masih dapat mengendalikan meluasnya infeksi tanpa gejala.

Banyak penelitian telah menunjukkan bahwa virus juga dapat dibawa lewat tinja pasien virus Corona. Standar pelepasan pasien untuk kembali ke rumah yang diterapkan di Shanghai, “Konsensus Ahli Pengobatan Komprehensif Pengobatan virus Corona Shanghai 2019” secara khusus menekankan, selain deteksi sampel pernapasan, uji asam nukleat dari sampel tinja pasien juga harus negatif sebelum diperbolehkan pulang kerumah.

Standar ini menunjukkan sangat sedikit pasien yang kembali berdampak positif di Shanghai.

Menurut klasifikasi para ilmuwan China mengenai Pasien tanpa gejala sebelum onset, pasien golongan ini akan sakit setelah masa inkubasi berakhir. Selama sistem kesehatan masyarakat dapat diidentifikasi, perawatan terisolasi, pelacakan kontak dekat dengan pasien dan kemudian mengisolasikan mereka untuk perawatan dalam periode waktu tertentu, kemungkinan mengendalikan wabah akan sangat efektif.

Pasien Covid-19 tanpa gejala
Pasien Covid-19 tanpa gejala akan hidup berdampingan dengan manusia untuk jangka waktu yang cukup lama (Image: NBC News)

Yang benar-benar perlu dikhawatirkan adalah jenis kedua, infeksi tanpa gejala sama sekali.

Proporsi orang-orang ini tidak rendah. Menurut studi kapal pesiar “Princess Diamond” di Jepang, para ilmuwan Jepang berspekulasi sekitar 20% orang dengan infeksi virus corona tidak mengalami gejala dari awal hingga akhir.  

Sehingga, sulit untuk menggunakan cara karantina diri dan cara lain untuk mencegah penyebaran penyakit orang golongan ini.

Statistik Chinese Journal of Epidemiology menunjukkan orang yang pernah kontak dekat dengan pasien virus Corona, ada 6,3% kemudian sakit. Sebagian besar didiagnosis sebagai pasien positif. Di antara kontak dekat orang yang terinfeksi tanpa gejala, ada 4,1% menjadi sakit. Setengah dari mereka dikonfirmasi sebagai orang yang terinfeksi tanpa gejala.

Jika fenomena ini mendapat lebih banyak dukungan, berarti patogenisitas virus corona akan  melemah setiap kali proses transmisi ke inang baru. Virus ini Akhirnya, akan meneruskan pekerjaan “parasitnya” yang stabil dan kurang berbahaya dalam tubuh manusia.  

Just like grandma says, “Pasien Covid-19 tanpa gejala” bisa disimpulkan sebagai berikut:

Pertama, infeksi tanpa gejala dapat dibagi menjadi tiga situasi yang berbeda. Kita dapat menyebutnya “infeksi tanpa gejala sebelum timbul, infeksi tanpa gejala selama sakit, dan infeksi tanpa gejala setelah timbul.”

Kedua, hasil penelitian terbaru, sekitar 50% dari pasien infeksi virus corona berada dalam tahap infeksi tanpa gejala.

Ketiga, terhadap berbagai jenis pasien infeksi tanpa gejala, para ilmuwan memperketat standar pulang kerumah setelah di rawat di RS. Dengan diagnosis dan isolasi terus menerus, dan mempertahankan langkah-langkah pengendalian epidemi.

Keempat, pasien dengan infeksi asimptomatik mungkin ada di mana-mana dan jumlahnya  tidak rendah. Hal ini sangat memungkinkan virus corona akan hidup berdampingan dengan manusia untuk jangka waktu yang cukup lama.  

Namun, selama tindakan penanganan pemerintah dapat dilakukan dengan tepat, keberadaan pasien-pasien seperti itu tidak akan mengarah pada meletusnya wabah kedua epidemi. Jadi, kita tidak perlu panik.

Sumber Referensi:

 [1] https://www.ijidonline.com/article/S1201-9712(20)30139-9/pdf

 [2] https://www.eurosurveillance.org/content/10.2807/1560-7917.ES.2020.25.10.2000180

 [3] https://www.bmj.com/content/368/bmj.m1165

 [4] https://www.medrxiv.org/content/10.1101/2020.03.03.20030593v1

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.