Peluang AI bagi Indonesia

Peluang AI bagi Indonesia adalah 10 kali lebih besar dari internet seluler. AI atau Kecerdasan Artifisial tidak hanya akan menggantikan otak manusia, tetapi akan jauh lebih kuat daripada otak manusia. Tentu saja, bukan berarti di semua bidang, tetapi di bidang yang lebih sempit. Misalnya, Catur Go atau perdagangan kuantitatif.

Ini bisa sangat berguna karena dapat menggunakan data yang sangat besar untuk klasifikasi dan spekulasi. Penterjemah, wartawan, asisten, Satpam keamanan dan sebagainya mungkin tidak akan diperlukan lagi di masa depan. Karena tidak ada Satpam manusia yang dapat mengingat 200 Ribu Foto penjahat. Akan tetapi kecerdasan buatan dapat melakukannya. 

Oleh karena itu, dalam wilayah ini, manusia sama sekali tidak memiliki peluang untuk bersaing dengan AI. Disamping itu, Mobil Otonom atau pengemudi tanpa awak yang akan terjadi dalam waktu 5 – 10 tahun mendatang. Boleh dikatakan banyak pengemudi manusia di dunia mungkin harus berganti pekerjaan. Dalam industri yang disebutkan diatas, pada dasarnya tenaga kerja manusia tidak akan ada harapan lagi.

Peluang AI bagi Indonesia

“Era kewirausahaan bagi para ilmuwan telah tiba.” Di era Internet seluler, tiga anak muda sudah dapat memulai bisnis Startup. Tetapi di Era Kecerdasan Buatan, hal itu tidak mungkin dilakukan lagi. Karena mereka tidak memiliki mesin yang besar, Ilmuwan yang Top dibidangnya, atau Daya Komputasi dalam jumlah besar. 

Itulah sebabnya, Era kecerdasan buatan adalah Era kewirausahaan bagi ilmuwan, bukan Era kewirausahaan bagi anak-anak muda. Tidak bisa disangkali potensi besar kecerdasan buatan dalam mengubah kehidupan dan membentuk kembali kehidupan manusia. Di negara maju seperti Amerika Serikat, Tiongkok maupun Uni Eropa, kecerdasan buatan telah menempati kehidupan mereka dalam satu dekade terakhir. 

Dari mesin pencari hingga mobil tanpa pengemudi. AI telah mempengaruhi dan men-disrupsi banyak industri tradisional dengan menyediakan solusi semi-otomatis, otomatis penuh, dan yang paling penting hemat biaya. Ambil contoh industri periklanan.

Melalui penggunaan periklanan komputasi, periklanan menjadi semakin dipersonalisasi. Iklan tampilan berbasis penawaran waktu nyata (RTB) memungkinkan banyak perusahaan tradisional untuk langsung menargetkan pengguna tanpa harus membeli kata kunci iklan atau tampilan iklan. Semua sistem periklanan kompleks ini pada akhirnya bermuara pada teknologi ML sederhana.

Selain produk periklanan maupun medis, banyak negara berkembang seperti Indonesia  sangat membutuhkan sumber pangan yang aman dan terjamin. Proyek pertanian Digital Microsoft di desa-desa kecil di India seperti Telengana, Maharashtra, Karnataka dan Madhya Pradesh telah terbukti berhasil meningkatkan pangan mereka. 

Microsoft merancang aplikasi pembibitan berdasarkan Cortana Intelligence Suite. Aplikasi ini  menggabungkan pembelajaran mesin dan kecerdasan bisnis untuk mengingatkan petani mengenai tanggal pembibitan terbaik. Para Petani tidak perlu melakukan banyak investasi didalamnya. Mereka hanya membutuhkan ponsel yang dapat menerima SMS dari aplikasi Microsoft. 

Aplikasi ini sangat membantu petani untuk memprediksi tanggal tanam yang ideal. Sehingga sangat efektif meningkatkan hasil panen para petani India. Hal ini tentu saja memungkinkan para petani untuk merencanakan ke depan dengan memprediksi OPT secara akurat, termasuk potensi risiko lainnya seperti banjir di musim hujan.

Aspek terpenting Peluang AI bagi Indonesia sebagai negara berkembang adalah meningkatkan “kualitas pendidikan” anak bangsa. Banyak anak bangsa di daerah pedesaan terpencil mungkin harus berjalan kaki sejauh 5-10 kilometer ke sekolah di bawah terik matahari. Sehingga sulit bagi mereka untuk memperoleh pendidikan yang memadai. 

Squirrel AI, perusahaan pendidikan Online Raksasa Tiongkok memberikan insentif upaya AI dalam meningkatkan pembelajaran siswa, pelatihan guru, atau manajemen sekolah. Atau Perusahaan seperti Thirdspace Learning, Duolingo dan Carnegie Learning dari AS juga sedang mengembangkan perangkat lunak les AI untuk akses pendidikan instan yang dipersonalisasi. 

Dengan semakin bertambahnya investasi perusahaan ed-tech seperti Quizlet, Newton dan Thinkster Math, sangat diharapkan dalam waktu dekat AI dapat digunakan untuk menyediakan sumber daya pendidikan bagi daerah pedesaan di negara dunia ketiga.

Sejak ilmuwan komputer terkenal John McCarthy menciptakan istilah “kecerdasan buatan” pada tahun 1956, AI terus berkembang pesat dan mulai mengubah hidup kita di setiap aspek. 

Ada dua macam orang atau ilmuwan yang bisa berwirausaha dalam industri AI. Pertama, mereka yang memiliki Big Data. Misalnya, Gojek, Tokopedia, atau Traveloka.

Ini adalah hal yang paling penting. Mereka memiliki banyak data di tangan, termasuk ilmuwan lulusan Ivy League yang hebat. Mereka dapat menghasilkan nilai yang besar. 

Sedangkan orang Tipe kedua adalah perusahaan tradisional seperti industri Asuransi dan industri Perbankan. Mereka sangat kaya dengan Big Data para pelanggan. Tanpa pemahaman lintas bidang, mereka dapat dengan cepat menghasilkan nilai komersial.

Indonesia bisa mendominasi AI di Asia

Menurut Ricky, Peluang AI bagi Indonesia lebih cocok untuk menciptakan perusahaan Top dunia daripada di bidang Internet seluler. Seperti Kita ketahui bahwa banyak siswa sekolah menengah di Amerika Serikat sangat lemah dalam melakukan penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian.

Meskipun pendidikan kita di Indonesia masih memiliki banyak tantangan dan masalah, namun tingkat minoritas atau rata-rata siswa sains dan teknik Indonesia sangat berpotensi ditingkatkan. Sekarang ini, seluruh dunia sedang memperdalami Sains kecerdasan buatan. Diantaranya, 43% ilmuwan Sains AI Dunia berasal dari Tiongkok.

Meskipun kebanyakan anak-anak muda tidak cocok untuk memulai bisnis di dalam industri Kecerdasan Buatan, tetapi mereka dapat dengan cepat menjadi ilmuwan kecerdasan buatan setelah “pelatihan khusus.” 

Asalkan kita memiliki Pakar dalam “komputer, statistik, matematika, matematika terapan, sistem kelistrikan, dan sistem otomasi” yang merupakan 6 jurusan Siswa terbaik. Selama pelatihan 6 bulan keatas oleh Para Ahli dibidangnya, Anak-anak muda kita bisa menjadi Ilmuwan Hebat dalam Artificial Intelligence.

Karena salah satu fitur paling menonjol dalam kecerdasan buatan adalah pengembangan yang sangat cepat. Lain halnya dengan Ilmu Kimia, Bioteknologi, dan bidang lain yang sangat sulit dipelajari. Bagi para jenius matematika Indonesia ini bakalan sangat mudah dipelajari. Mereka dapat menciptakan nilai berharga dengan sangat cepat.

Di samping itu, Banyak perusahaan tradisional di Indonesia sangatlah lemah dalam bidang teknologi kecerdasan artifisial. Produk mereka saat ini belum menerapkan Aplikasi kecerdasan buatan. Sehingga masih banyak peluang bisnis untuk pengembangan bidang ini di Indonesia.

Pasar besar Indonesia dengan jumlah 260 juta konsumsi, dengan beberapa perusahaan Internet Raksasa Domestik, akan membawa banyak permintaan dari perusahaan non-kecerdasan buatan terhadap teknologi AI setelah mereka mencapai skala tertentu. 

Meskipun kecerdasan buatan Amerika dan Tiongkok jauh lebih maju daripada Indonesia, Namun teknologi dan aplikasi mereka sangat bersedia untuk dipublikasikan. Setelah mereka menulisnya, mereka akan taruh di Internet.

Peluang AI bagi Indonesia
Peluang AI bagi Indonesia (Image: Detikinet)

Jadi Perusahaan AI Indonesia bisa mempelajarinya pada saat yang sama. Mungkin dalam waktu 5-8 tahun anak muda dan ilmuwan kita juga dapat menghasilkan nilai yang sama dan mendominasi di Asia Tenggara.

Just like grandma says, Indonesia memiliki lebih sedikit batasan pada semua aspek pengembangan dan penetrasi kecerdasan buatan di banding negara maju seperti Uni Eropa. Hal ini sangat memungkinkan Indonesia untuk menjadi salah satu pemain besar AI di Asia.

Apa Pendapat Anda

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.