Peluang dan tantangan startup AI Indonesia

Peluang dan tantangan startup AI Indonesia adalah Raksasa Internet seperti Google, Facebook, Amazon maupun Alibaba. Artificial intelligence alias kecerdasan buatan, dipercaya akan menjadi salah satu pilar dalam usaha bisnis di masa depan di indonesia dan di dunia.

Karena banyak keunggulannya di banding manusia. AI lebih berpotensi dan membuat bisnis lebih efisien. Hemat biaya. Istilahnya tahan banting. Serta menelurkan banyak peluang baru. Namun, adopsi teknologi kecerdasan buatan, dalam bidang industri di Indonesia mungkin perlu waktu yang agak lama. 5 tahun mungkin Atau bahkan lebih. Karena kalau di banding negara Asia lainnya, masih banyak PR yang perlu kita sempurnakan.

Peluang dan tantangan startup AI Indonesia

Sebaliknya, peluang yang mungkin bisa ditangkap oleh pendiri startup AI ada dua pada umumnya. Misalnya, peluang teknologi murni AI. Dan peluang to B (Business). Kewirausahaan berbasis teknologi AI murni, pada dasarnya bergantung pada keunggulan teknologi yang dipegang. Tetapi peluang dalam ruang lingkup ini telah berlalu. Semuanya telah dikerjakan oleh perusahaan Amerika. Jadi tidak ada gunanya memperdalami bidang ini lagi. Menurut saya.

Sebelumnya, pakar AI tidak banyak dalam teknologi murni ini. Tetapi sekarang telah melahirkan banyak pakar. Pasaran berharap para pakar ini memiliki keunggulan berkelanjutan. Untuk menyelesaikan masalah teknologi baru. Seperti mobil otonom. Robotik. Dan chip AI.

Sedangkan, untuk startup AI to B, yakni menggunakan AI untuk memberdayakan skenario bisnis tertentu. Mengembangkan produk dari solusi. Tumbuh dari satu pelanggan sampai ke banyak pelanggan. Dari pendapatan satu kali kependapatan berkelanjutan.

Para startup AI to B harus menyadari pengembangan bisnis ini tidak akan berkembang secepat to C (consumer). Sehingga, sangat dianjurkan para CEO harus selalu berpartisipasi dalam kegiatan sales perusahaannya. Paling ideal kalau CEO startup ini punya banyak pengalaman sales sebelumnya. Dengan sales team yang sangat kuat.

Saya rasa untuk waktu dekat, sangatlah sulit untuk bisa menelurkan perusahaan puluhan milliar dollar atau Unicorn atau Decacorn. Karena beberapa tantangan dibawah ini.

Tantangan pertama, AI telah lama menjadi teknologi top-notch yang bukan hanya dimainkan oleh beberapa orang pakar. Tetapi telah menjadi platform atau wadah yang berkembang cepat. Oleh karena itu, sangat sulit bagi startup yang cuma menggantungkan teknologi murni AI untuk survive. Atau berkelanjutan.

Para AI startup ini harus lebih memperhatikan dan memperluas bisnis mereka. Dan menyelesaikan masalah pelanggan yang lebih banyak.

Tantangan berikutnya, AI + cloud datang sangat cepat. Seperti halilintar. Bagi perusahaan tradisional, meskipun mereka bersedia membeli layanan AI. Mereka akan terus membandingkan biaya pengembangan internal + cloud nya sendiri. Dan biaya untuk pembelian satu set lengkap solusi AI.

Begitu biaya mencapai titik rendahnya, perusahaan tradisional ini dapat membangun sendiri. Bukannya menjadi domba terus, yang setiap saat bisa di cukur bulunya. Sehingga mereka tidak lagi perlu bisnis layanan to B dari startup AI.

Peluang dan tantangan startup AI Indonesia
Peluang dan tantangan startup AI Indonesia (Image:KrAsia)

Tantangan terakhir, kecerdasan buatan atau AI masih dalam proses menuju kematangan teknologi. Yah, meskipun AI pada dasarnya dapat membawa nilai besar bagi perusahaan tradisional. Tetapi perusahaan tradisional ini tidak bersedia menghabiskan banyak anggaran untuk berkembang dan maju bersama startup AI.

Just like grandma says, Peluang dan tantangan startup AI Indonesia di satu sisi berasal dari raksasa teknologi AI selalu mencari peluang di berbagai sektor. Sementara, Raksasa internet lainnya seperti google dan facebook, dengan cepat memasukkan teknologi AI dalam layanan cloud. Disisi lain, pelanggan tradisional mulai menolak harga permintaan perusahaan AI yang semakin tinggi.

1 thought on “Peluang dan tantangan startup AI Indonesia

  1. yup. I agree with you .. salah satu tantangan lagi untuk AI to B, projectnya harus realistis for business.
    1. understand the business pain, business process, and domain knowledge of the industry / business.
    This means, AI practicioner need to find and combine their knowledge with the industry expert of have deep knowledge in that industry.
    2. cost nya harus realistic,
    really undertand how to calculate the ROI.
    3. AI adoption di business will not be something yang instant juga, this may means culture change in the company, change of business process, dan change of people skills.

Comments are closed.

%d bloggers like this: