Pencegahan terhadap virus Corona

Pencegahan terhadap virus Corona sangat efektif dengan cara berikut seperti mengenakan masker dan menjauhi kerumunan orang banyak. Virus Corona yang menyebabkan penyakit pneumonia telah menjadi perhatian seluruh dunia dalam beberapa hari terakhir. Corona virus gejalanya hampir mirip dengan SARS. Bahkan sangat mirip juga dengan sakit flu biasa.

Yang bahaya dari virus corona ini adalah penularannya yang mudah dan tingkat mortalitas yang sangat tinggi. Penularan bisa terjadi lewat lendir, batuk, dahak, atau pegangan pintu. Upaya pencegahan secara langsung adalah memakai masker dan sering mencuci tangan.

Pencegahan terhadap virus Corona

Sebenarnya ada tiga prinsip pencegahan dan pengendalian dasar untuk penyakit menular ini. Secara umum, ketika berbicara tentang penyakit menular, banyak orang langsung berasosiasi tentang pneumonia atipikal pada tahun 2003.  

Sebenarnya, setelah memasuki abad ke-20, wabah penyakit menular terburuk di Cina adalah wabah pneumonia yang terjadi di Timur Laut Tiongkok di tahun 1910. dalam dua bulan, penyakit itu menyebar di sepanjang Jalur Kereta Api Timur Tengah, dari Hailar, Qiqihar ke Daqing. Kemudian menyebar sampai ke Harbin, Changchun, dan Shen Yang. Dari terjadinya wabah sampai akhir, penyakit pneumonia telah menewaskan 60.000 jiwa di Cina.

Jumlah ini memang cukup mengerikan. Namun, bila dibandingkan dengan wabah epidemi dalam sejarah, ini sudah merupakan keajaiban. Ketika wabah meletus di Eropa pada abad ke-14, yang telah menelan korban 25 juta orang. Wabah itu berlangsung selama tiga tahun. Untungnya saat itu Di China, hanya membutuhkan waktu empat bulan untuk mengendalikan penyebaran penyakit ini. Jumlah kematian ditekan sampai menjadi nol.

Melalui anatomi dan pengamatan mikroskopis dari tubuh pasien, para dokter di China berhasil menemukan bakteri yang menyebabkan penyakit tersebut. Namanya Yersinia pestis.  Namun, anehnya wabah di Eropa saat itu ditularkan oleh tikus. Tetapi di timur laut China pada waktu itu, sangat tidak memungkinkan tikus untuk memiliki banyak aktivitas di musim dingin. Hal ini membuat dokter harus membuat keputusan kritis terhadap pencegahan dan perawatan selanjutnya. Jenis wabah kali ini berbeda dari yang tradisional – tidak ditularkan melalui tikus. Melainkan melalui saluran pernapasan. Dari orang ke orang. Jadi penyakit ini dinamakan wabah pneumonia.

Pada saat itu, karena kurangnya pengetahuan dari masyarakat, banyak orang secara diam-diam menyembunyikan penyakit mereka. Atau lebih parahnya, sampai membuat pasien yang sakit kritis di letakkan dijalanan. Menyebabkan pasien di jalanan g menyebabkan sumber infeksi baru. Menanggapi situasi berbahaya ini, dokter mengirim tentara untuk menggeledah dari rumah ke rumah. Dan segera mengirim pasien ke rumah sakit untuk mencegah terjadinya epidemi. Selain itu, dokter menggunakan cara pembakaran terhadap mayat. Pada hari pertama tahun baru imlek di tahun 1911, lebih dari dua ribu mayat kasus wabah dibakar selama tiga hari tiga malam. Dengan cara ini, sumber infeksi akhirnya berhasil dikendalikan.

Disamping itu, para Dokter merekrut lebih dari 1.000 tentara untuk mengendalikan lalu lintas di sepanjang jalur kereta api. Pada saat itu, kereta api yang dikuasai oleh Jepang dan Rusia berhenti beroperasi. Stasiun karantina didirikan di Bea Cukai Shanghai. Para penumpang yang lewat harus tinggal dan diamati selama 5 hari sebelum mereka dibebaskan.

Untuk pasien yang sakit dan mencurigakan, dokter secara khusus mendirikan tiga lembaga berbeda di rumah sakit. Seperti lembaga untuk pasien yang dicurigai, lembaga sakit ringan dan lembaga sakit epidemi. Sehingga pasien dapat dirawat atau diamati dalam kategori yang berbeda, sesuai dengan kondisi mereka untuk menghindari infeksi silang.

Bagi mereka yang belum terinfeksi, dokter membagikan masker kasa untuk perlindungan. Menggunakan selembar kapas penyerap di antara dua lapisan kain kasa. Masker ini dapat  memblokir transmisi jalan napas. 

Melalui serangkaian langkah-langkah inilah, wabah pneumonia tidak tersebar dalam skala besar di Cina saat itu.  

“Siapa dokter yang berhasil mencegah terjadinya epidemi?”

Dia adalah patriark ilmu epidemiologi Tiongkok, Dokter Wu Liande. Dia kemudian menjadi orang Cina pertama yang mendapat Hadiah Nobel dalam ilmu Fisiologi atau Kedokteran.

Pengobatan dan Pencegahan terhadap virus Corona yang terjadi 100 tahun yang lalu, pada dasarnya memiliki beberapa prinsip yang sama dengan sekarang. Tautan pertama adalah mengendalikan sumber infeksi. Kedua, memotong jalur transmisi. Ketiga, melindungi orang yang rentan terhadap penyakit.

“Apa sumber infeksi? Dan karakteristiknya?”  

Sebagai contoh, pneumonia Wuhan misalnya. Informasi saat ini adalah kasus infeksi awal berasal dari Pasar Makanan seafood di Wuhan, sebuah propinsi daerah bagian Tengah China. Sampai akhirnya, penularan dari manusia ke manusia. Setidaknya ada dua jenis sumber infeksi. Pertama, kemungkinan dari hewan liar atau makanan laut. Kedua, pasien sendiri mungkin memiliki penularan tertentu. Namun, dua kemungkinan ini belum bisa dipastikan.

Seandainya, Anda mencurigai bahwa Anda mungkin telah melakukan kontak dengan sumber infeksi, tetapi Anda tidak memiliki gejala sakit. Cara terbaik, mengisolasikan diri di rumah. Mintalah anggota keluarga lain untuk menghindari kontak dekat dengan Anda. Semua anggota keluarga diwajibkan memakai masker. Dan yang terpenting juga, ventilasi rumah harus selalu terbuka.

Pencegahan terhadap virus Corona
Virus Corona yang menular melalui pernapasan

Gejala yang paling menonjol seperti, Batuk dan dahak, Demam (suhu tubuh> 38 ℃), menggigil, kesulitan bernapas, Nyeri saat menarik napas dalam, Detak jantung menjadi cepat, Setelah flu membaik, kondisi pasien tiba-tiba memburuk.

Secara umum, jika jalur penularannya adalah tetesan dan transmisi saluran pernapasan, maka harus diatasi sesuai dengan penyakit infeksi pernapasan. Jika penularan melalui saluran pencernaan, maka harus berfokus pada air minum, sampah, tinja, dan pengelolaan makanan dan pembuangan sungai.

Sampai saat ini, Rute transmisi spesifik pneumonia Wuhan belum bisa dikonfirmasi. Jika memang ditularkan melalui saluran pernapasan, maka kita harus mengurangi kunjungan ke tempat umum yang padat orangnya. Atau tempat berventilasi buruk seperti rumah sakit, teater atau bioskop. Mengenakan masker adalah metode perlindungan yang sangat dianjurkan.

Pada dasarnya, masker bedah medis yang dikenakan oleh dokter maupun masker N95 yang dikenakan pada masa polusi pm2.5 mempunyai perlindungan yang sangat baik untuk pencegahan terhadap virus Corona. Sayangnya, karakteristik virus baru ini belum  sepenuhnya dipastikan.

Namun, kedap udara masker ini sangat tinggi, sehingga pemakaian waktu lama dapat  menyebabkan hipoksia. Jadi sebaiknya tidak dipakai lebih dari 2 jam. Disamping itu, masker ini mungkin kurang cocok untuk pasien dengan penyakit paru-paru kronis dan penyakit jantung parah.

Ada jenis masker lain yang tidak terlalu efektif untuk perlindungan. Masker tersebut terbuat dari katun, kain kasa, kanvas, dan wol. Masker ini tidak memiliki perlindungan sama sekali. Dan harus dihindari.

Sebenarnya, penyebaran saluran pernapasan tidak hanya dapat ditularkan melalui tetesan yang disebabkan oleh bersin atau batuk. Penyakit bisa ditularkan melalui kontak mukosa. Misalnya menggosok mulut atau mata dengan tangan yang tertular virus akan meningkatkan kemungkinan penularan. Jadi ketika kita pulang ke rumah, Ada baiknya kita harus mencuci tangan dan mencuci hidung dengan air.

Just like grandma says, prinsip utama pengendalian dan pencegahan terhadap virus Corona atau penyakit pneumonia dapat diatasi dengan cara pengontrolan sumber infeksi; pemotongan jalur penularan, dan melindungi orang yang rentan. Meskipun ini adalah prinsip pencegahan dan perawatan yang diadopsi oleh badan kesehatan Negara, pada kenyataannya, kita sebagai orang biasa juga dapat mempraktekkannya dengan membuat daftar pemeriksaan sendiri sesuai dengan prinsip-prinsip ini.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.