Advertisements

Pencerahan dari US Navy Seal

Oleh: Ricky Suwarno

3 Juli 2019

Di dunia ini tidak ada yang abadi. Atau tidak berubah kecuali perubahan itu sendiri. Misalnya perubahan akibat kecerdasan buatan atau AI. Yang akan membawa banyak perubahan disegala bidang.

Dalam sejarah manusia, yang seringkali pertama merespons terhadap perubahan besar adalah pihak militer. Karena teknologi canggih pada awalnya dikembangkan untuk keperluan militer. demi meningkatkan efektivitas tempur, militer sering membuat inovasi struktur organisasi untuk meningkatkan efisiensi peperangan.

Artikel majalah bulanan “Atlantic” edisi Juli mengungkapkan fakta. Sejak 1990-an, Navy Seal AS telah mencoba merangkul AI dan mengotomatiskan kapal perang mereka. Untuk beradaptasi dengan perubahan teknologi, mereka membuat penyesuaian organisasi utama pada kapal. Mendefinisikan ulang kualitas inti kru mereka.

Sejak1995, Angkatan Laut AS berusaha membangun “kapal pintar.” Memodifikasi kapal tua bernama “USS Yorktown”. Ruang kontrol mesin dikonversi menjadi tak berawak. Para kru hanya berkomunikasi dengan walkie-talkie genggam. Yang meningkatkan kebebasan bergerak dalam kapal.

Pada tahun 2001, pada masa Presiden Bush, Sekretaris Pertahanan Donald Rumsfeld mengambil langkah besar kedepan dalam intelijen Angkatan Laut AS.

Rumsfeld meminta personil AL dikurangi secara besar-besaran. Desain kapal harus direkayasa ulang. Pasukan Angkatan Laut AS harus sepenuhnya diubah dengan teknologi revolusioner. Kapal perang cerdas dengan cepat berkembang dari satu ide ke praktik lainnya. Sehingga, muncullah “Kapal Tempur Littoral” yang cocok untuk operasi pantai.

Jenis kapal perang ini ditandai dengan tingkat otomatisasi yang sangat tinggi. Sebagian besar peralatan tidak memerlukan pemantauan oleh kru. Persenjataan dan sistem sensor kapal terotomatisasi, seperti identifikasi diri, penentuan tugas otomatis, dan analisis adegan otomatis.

Namun, yang paling istimewa adalah konsep manajemen baru. Namanya “Minimal Manning (Meminimalkan jumlah Kru)”. Ketika kapal perang dirancang, jumlah awak yang direncanakan adalah 75 kru. Ada 1/4 kru berkurang dari kapal perang dengan tonase yang sama. Jumlah kru inti semakin kecil. Total 40 orang. Cuma 20% kru dibandingkan dengan kapal perang Perang Dunia II.

Namun, logika “meminimalkan personil” tidak berarti karena kapal diotomatisasi. Beberapa pekerjaan digantikan oleh mesin. Sehingga jumlah tenaga kerja berkurang. Melainkan, sifat pekerjaan anggota kru, bentuk pekerjaan mereka dan kualitas para kru telah mengalami perubahan besar. perubahan yang menjadikan semua kru menjadi generalis. Serba bisa dengan beberapa jenis keterampilan.

Misalnya, pekerjaan menarik tali. Kedengarannya sederhana. Tapi sangat berbahaya. Begitu tidak waspada, mungkin akan menyebabkan jari atau kaki terputus. Namun, di Kapal Tempur Littoral, tidak ada Kru yang khusus menarik tali. Pekerjaan ini dilakukan oleh tiga orang dengan pekerjaan paruh waktu. Satunya, mekanik sistem informasi. Satunya, adalah sersan senjata. Dan yang satunya lagi, adalah juru masak kapal.

Si juru masak, selain memasak, harus mengoperasikan tali. Juga harus melakukan petugas patrol. Termasuk bertugas perbatasan. Artinya, mengawasi bila ada air masuk ke dalam kabin, serta mencegah asap menyebar ketika kebakaran terjadi.

Atau contoh lainnya, kapten tim pemadam kebakaran. Yang bertanggung jawab atas pencarian, operator derek, patroli, dan koordinator penyelamatan helikopter. Mungkin kedengarannya banyak pekerjaaan. Tetapi kenyataannya, hanya dijalani oleh dua Kru.

Contoh diatas menunjukkan bahwa dengan kemajuan kecerdasan buatan atau AI, kecerdasan dan generalisasi adalah dua tren yang saling melengkapi dan tersinkronisasi. Bukannya, di gantikan total. Karena, mesin akan melakukan pekerjaan yang lebih rutin dan efisien. Dan sisa pekerjaan yang tidak dapat dikerjakan mesin, akan diserahkan kepada manusia. Pekerjaan Yang memerlukan respons cepat dan kurang teratur.

Disamping itu, kecerdasan dan perubahan sosial yang dipercepat akan memperpendek keterampilan professional seseorang. Dengan kata lain, keterampilan inti manusia di saat ini akan segera kedaluwarsa.

Menurut World Economic Forum, pada tahun 2016-2020 ada sepertiga pekerjaan yang memerlukan keterampilan inti akan berkurang selama periode ini.

Atau singkatnya, keterampilan profesional menjadi semakin tidak berharga untuk pengembangan karir seseorang di zaman AI. “Di masa depan, Orang yang paling berpengaruh dalam masyarakat mungkin bukan pakar dalam bidang tertentu. Tetapi, seorang generalis yang dapat memecahkan berbagai jenis masalah kompleks.”

Menurut prediksi Deloitte Consulting, dalam 10 tahun mendatang, 70%-90% pekerjaan adalah pekerjaan super-keterampilan. Maksudnya, satu pekerjaan yang mengintegrasikan pekerjaan beberapa orang dizaman now.

Untuk bisa beradaptasi dengan pekerjaan beberapa keterampilan, Angkatan Laut AS mencari pakar psikolog untuk menguji pelaut mereka. Hasilnya, keterampilan yang membuat seseorang sukses di tempat kerja dimasa sekarang dan masa lalu, Justru akan menjadi kerugian di masa depan (zaman AI). Pada gilirannya, beberapa kualitas yang kedengarannya seperti suatu kecacatan, justru akan menjadi keuntungan dalam lingkungan baru nanti.

Dalam tes ini, pelaut yang tidak berkinerja baik seringkali mendapat skor yang sangat tinggi dalam hal “tanggungjawab”. Mereka adalah tipe orang yang selalu datang lebih awal di pagi hari. Sangat berhati-hati dengan segala detail atau apa yang mereka lakukan. Tapi, pelaut jenis ini, ketika aturan tes tiba-tiba berubah, mereka sering harus berpegang teguh pada posisi mereka. Yang mengarah pada kurangnya respons mereka terhadap aturan baru.

Disamping itu, orang yang berprestasi baik dalam ujian sering menunjukkan sikap terbuka terhadap hal-hal baru. Jenis kualitas ini, tidak mudah berfokus. Hasil Tes ini tidak hanya merongrong “persepsi kita tentang keterampilan” di tempat kerja, tetapi juga merongrong persepsi kita tentang “pendidikan” di masa lalu.

Di masa lalu, kita sering mendengar untuk menjadi seorang pakar apapun, kita hanya perlu menerapkan aturan “10.000 jam”. Namun, sebaliknya Tes dan kehidupan Navy Seal AS menunjukkan perubahan sosial yang sangat cepat, atau peran yang berubah dari waktu ke waktu, maka ketekunan kualitas atau prinsip 10.000 jam, mungkin tidak akan berlaku dalam beradaptasi dengan kenyataan baru di masa AI.

Just like grandma says, untuk menjadi pemenang di masa kecerdasan buatan, pembelajaran seumur hidup adalah kunci. Saya sangat mengagumi respon cepat dan tegas dari Navy Seal AS terhadap perubahan teknologi.

Semua orang memiliki “gambaran masa depan” di dalam otaknya. Mungkin ada yang telah melihat masa depan, tetapi masih berdiri ditempat asal tanpa Action. Dilain pihak, mungkin ada yang baru saja mencium sedikit gejala masa depan, langsung berlari dengan kecepatan penuh. karena takut ketinggalan dan kehilangan peluang. Daripada menunggu dalam kecemasan, lebih baik segera bertindak. berlari cepat sambil menyesuaikan pernapasan, kecepatan dan ritme seperti US Navy Seal.

Advertisements
Categories: artificial intelligence indonesia, US Navy sealTags: , , , , , ,

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: