Pengaruh globalisasi terhadap ekonomi

Pengaruh globalisasi terhadap ekonomi dalam kesan umum kita, globalisasi itu dimulai di Era Navigasi. Pada abad ke-15, orang-orang Eropa mulai berlayar. Mereka melewati Tanjung Harapan dan tiba di India. Mereka menemukan benua Amerika dan berlayar ke seluruh dunia. Pada akhirnya menghubungkan semua bagian dunia. Muncullah globalisasi. Sejak itu, Eropa menjadi pusat dunia. Dan seluruh dunia lainnya berada di tepi marjinal. Inilah pengaruh globalisasi terhadap ekonomi.

Tetapi menurut Layman Frank Baum dalam bukunya, “ReOrient: Global Economy in the Asian Age” mengungkapkan bahwa revolusi industri Eropa baru dimulai pada abad ke 18. Perbedaan 300 tahun sejak perlayaran orang Eropa ke dunia di abad ke 15.

Pengaruh globalisasi terhadap ekonomi

Bayangkan, seorang pengusaha di abad ke-16 dengan armada lautannya ingin berdagang antara Eropa dan Asia. Dari Asia ke Eropa, ada banyak produk yang bisa diperdagangkan. Misalnya sutra, porselen, dan teh dari China. Kapas dari India. Rempah-rempah dari Indonesia dan banyak lagi. Sebaliknya, apa yang bisa dibawa dalam perjalanan pulang dari Eropa?  

Pada saat itu, Eropa masih jauh dari revolusi industri. Eropa hanya memiliki tekstil wol, jam tangan, produk kaca. Apalagi barang-barang tersebut sangat terbatas jumlahnya. Dan bukan kebutuhan pokok bagi China ataupun negara Asia lainnya. Barang Eropa tersebut merupakan barang mewah saat itu. Komoditas ini tidak cukup untuk mendukung perdagangan laut skala besar antara Eropa, Cina dan Asia.

Sebenarnya, Globalisasi bukan dirintis oleh orang Eropa. Mereka adalah orang-orang yang naik perahu di tengah jalan. Jauh sebelum pelayaran orang Eropa, di Asia Timur yang berpusat di China, sudah memiliki jaringan perdagangan global yang sangat matang dengan beberapa fakta. Misalnya, pelayaran perdana yang dipimpin oleh Laksamana Cheng Ho pada tanggal 11 Juli 1405 bersama 27.000 tentaranya melakukan ekspedisi ke Samudera Hindia sampai ke Afrika.

Selama Dinasti Song, pedagang swasta China mulai berdagang dengan kapal daya angkut antara 150-300 ton. Jauh lebih tinggi dari muatan kapal Eropa di Era navigasi. Pada saat Dinasti Yuan, perdagangan antara China dan wilayah Samudra Hindia melonjak. Pengaruh globalisasi terhadap ekonomi Asia dan Eropa sudah cukup besar saat itu.

Pelayaran besar-besaran orang Eropa didukung dan didanai oleh negaranya sejak awal. Misalnya, Pelayar dari Portugal bernama Vasco Da Gama, ataupun Columbus dari Spanyol. Kehidupan dan petualangan para penjelajah ini telah di catat secara terperinci. Sumber-sumber sejarah memiliki hak bukti berbicara dan hak untuk menafsirkan sejarah. Jadi setelah beberapa ratus tahun kemudian, dunia baru memahami bahwa bukan orang Eropa yang membuka globalisasi dunia.

Orang Eropa kemudian menemukan Benua Amerika. Benua Amerika kaya akan simpanan perak. Orang Eropa memiliki kekuatan absolut di Amerika. Mereka dapat memaksa penduduk setempat untuk menambang perak. Yang kemudian digunakan untuk berdagang dengan China dan Asia lainnya.

Tambang Perak Barat Potos di Bolivia, Amerika Selatan adalah tambang perak terbesar di dunia pada saat itu. Pada tahun 1545 tambang perak ditemukan. Kemudian dipaksa tambang tanpa gangguan selama ratusan tahun hingga abad ke-19. Pada masa kejayaannya, produksi perak Eropa menyumbang setengah dari produksi perak dunia.

Sebaliknya, Tiongkok sangat kekurangan perak. Jarang ada tambang perak. Sehingga, Tiongkok tidak ada bentuk uang yang baik. Cuma mengandalkan koin tembaga. Selama berabad-abad berlalu, Tiongkok menderita deflasi. Selama Dinasti Tang, bahkan ada penasehat yang mengusulkan untuk meleburkan puluhan ribu patung-patung perunggu Budha di seluruh negeri. Sebelum akhirnya, Deflasi berhasil ditekan dan mereda.

Orang Eropa menggunakan hasil tambang peraknya dari Amerika untuk membeli tiket kereta ke Asia. Pada saat itu, terbentuklah segitiga besar di dunia. Orang Tiongkok menawarkan komoditi ke Eropa. Orang Eropa mengirim kolonis ke Amerika untuk menambang perak. Dan kemudian mengangkut peraknya dari Bolivia lewat lautan Pasifik ke Tiongkok. Itulah Siklus perdagangan globalisasi. Pengaruh globalisasi terhadap ekonomi dan dunia disekitarnya mulai terbentuk.

Sejak saat itu, globalisasi yang dipimpin Eropa baru dimulai. Eropa mengakumulasi modal, dan akhirnya memicu revolusi industri. Pusat dunia mulai beralih dari Asia Timur ke Eropa.

Di masa lalu, kita memahami globalisasi berdasarkan dua persepsi potensial. Pertama, bahwa globalisasi diprakarsai oleh orang Eropa pada abad ke 15. Kedua, globalisasi adalah pembentukan jaringan perdagangan yang setara.

Sebenarnya, ini adalah persepsi yang tidak benar. Globalisasi adalah proses yang berkelanjutan. Bukan diciptakan oleh siapa pun. Globalisasi telah ada sejak zaman kuno. Yang terus bertumbuh. Dengan semakin banyak orang yang berpartisipasi didalamnya. Globalisasi bukan jaringan tanpa pusat. Globalisasi sendiri adalah pusat dan marjinal. Selain itu, proses pengembangan globalisasi adalah proses persaingan yang berkelanjutan. Suatu konversi timbal balik antara pusat dan marjinal. Semacam Roda Dunia yang terus berputar.

Kunci persaingan adalah tiket untuk naik ke kapal. Untuk berdagang dan berbisnis bersama. Pada abad ke-16, orang-orang Eropa menggunakan tiket perak untuk mengejar globalisasi kapal ke Asia Timur. Mengumpulkan modal, mengubah cara persaingan, menyalakan revolusi industri, dan kemudian mengambil alih posisi sebagai pusat globalisasi Dunia.

Pengaruh globalisasi terhadap ekonom
Pengaruh globalisasi terhadap ekonomi

Namun, hari ini babak baru persaingan telah dimulai lagi. Dalam 40 tahun terakhir, Tiongkok telah bekerja sangat keras. Memanufaktur produk yang paling meletihkan dan kurang berharga dalam rantai pasokan dunia. Mati-matian membangun sistem manufaktur terbesar dan terlengkap di dunia. Ini juga merupakan tiket menuju persaingan global. Berusaha mengambil kembali pusat globalisasi dunia. Dan tentu saja, proses ini belum sepenuhnya selesai.

Just like grandma says, diantara Top 10 Pelabuhan terbesar di dunia saat ini ada 8 pelabuhan berasal dari China. Top 10 pelabuhan dunia dalam urutan sebagai berikut: Shanghai, Singapura, Shenzhen, Ningbo, Hong Kong, Busan, Guangzhou, Qingdao, Dubai, dan Tianjin. Tidak ada satupun dari AS maupun Eropa. Atau secara singkatnya boleh dikatakan bahwa 70% jumlah kapal yang masuk ke Asia lewat Selat malaka adalah barang perkapalan dari China.

Kita semua adalah generasi yang sangat beruntung. Kita bisa menyaksikan sungai panjang globalisasi ini. Yang telah mengalir sejak zaman kuno. Selalu ada faktor-faktor baru bergabung didalamnya. Ada kompetisi dan persaingan yang luar biasa. Dan selalu terjadi transformasi antara pusat dunia dan marjinal.

Advertisements
Categories: Pengaruh globalisasi terhadap ekonomi

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: