Advertisements

Peranan China dalam Era Revolusi Industri 4.0

Oleh: Ricky Suwarno

29 Juli 2019

Saat ini, tiga revolusi industri telah mengubah kehidupan manusia secara total. Revolusi Industri Yang pertama adalah mekanisasi produksi industry. Yang kedua ditandai oleh listrik. Dan yang ketiga adalah manufaktur skala besar yang dilambangi oleh semikonduktor dan mikroelektronika. Baik Indonesia maupun China telah ketinggalan dua revolusi industri sebelumnya. Dan kemudian, Mencoba mengejar ketinggalan revolusi industri ketiga.

Dalam sejarah modern, kemajuan teknologi selalu membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat. Mereka telah merekonstruksi bisnis model. Struktur ekonomi. Budaya hidup. Dan Struktur politik dengan cepat. Inilah “revolusi industri.” .

Revolusi industry 4.0 yang saat ini kita alami, adalah perubahan paradigma yang dipimpin oleh serangkaian teknologi inovatif. Seperti kecerdasan buatan atau AI. Internet of Things atau IoT. Blockchain. 5G. Pengeditan genetic. Ilmu kehidupan. Fisika kuantum. Energi baru. Material baru. VR/AR/MR dan sebagainya. Revolusi ini mengintegrasikan teknologi digital, teknologi fisik dan bioteknologi. Dibandingkan dengan tiga revolusi industri sebelumnya, industry 4.0 akan berkembang lebih cepat. Ruang lingkup pengaruhnya akan semakin luas. Dan lebih dalam.

Tidak diragukan lagi, teknologi baru membawa kita berbagai peningkatan efisiensi dan kemajuan sosial. Termasuk solusi baru untuk beberapa masalah sosial utama. Sebagai contoh:

“Pengobatan Presisi”: Memberikan perawatan khusus untuk pasien. Meningkatkan efisiensi perawatan. Serta, menurunkan biaya medis.

“Drones”: ambil alih transportasi manual. Bisa memasukkan bahan pertolongan utama ke daerah-daerah terpencil. Termasuk aplikasi pertanian, yang bisa meningkatkan hasil panen melalui irigasi presisi. Dan membantu daerah bencana berisiko tinggi dalam mencari bantuan;

“Blockchain”: Keterlacakan rantai pasokan untuk meningkatkan keamanan produk obat dan makanan;

“Mobil otonom”: Mengurangi risiko mengemudi kelelahan bagi pengemudi truk;

“Kecerdasan buatan atau AI”: Algoritma yang direkomendasikan dapat secara efektif menyediakan produk dan layanan yang dipersonalisasi, untuk kelompok orang yang berbeda. Mengurangi masalah asimetri informasi. Sedangkan, Teknologi visi komputer dapat membantu sistem keamanan nasional untuk menangkap criminal. Juga membantu pabrik melakukan inspeksi kualitas presisi tinggi yang berskala besar. ;

“Internet of Things atau IoT dan teknologi 5G”: menghubungkan infrastruktur perkotaan dengan mobil, bangunan, dan jalan. Singkatnya, memberdayakan kota semakin cerdas.

“Robot”: Menggantikan manusia untuk pekerjaan bernilai rendah, bahaya atau membosankan. Melepaskan kreativitas dan kecerdasan emosional manusia;

Revolusi industri 4.0 adalah kesempatan langka bagi Indonesia ataupun China untuk menyalip dan bersaing dengan negara maju.China memiliki jadwalnya sendiri untuk Industri 4.0. Namanya “Made in China 2025”

Banyak perusahaan China telah berkembang menjadi perusahaan global. Perusahaan baru terus melaju. Mencari titik pertumbuhan baru. Semakin banyak pelajar dan talenta China di AS, namanya “海龟“(di baca Hai Gui)” kembali ke China untuk bergabung dengan perusahaan lokal raksasa seperti Alibaba atau Tencent. Perusahaan China perlu memikirkan peran dan tanggung jawab mereka dalam revolusi industri 4.0.

China memiliki skenario paling kompleks dan data terkaya di dunia. Memiliki tanggung jawab berpartisipasi, bahkan memimpin tata kelola ilmu pengetahuan, dan teknologi global. Dengan mengembangkan “cara atau model China.”

Profesor Schwab, pendiri dan ketua eksekutif Forum Ekonomi Dunia, menunjukkan bahwa kita membutuhkan semua pemangku kepentingan untuk bekerja bersama. Memanfaatkan revolusi industri 4.0.

Beliau memperkenalkan kemitraan publik-swasta. Bersama menyelesaikan celah dalam hukum, melalui upaya timbal balik untuk mencari solusi win-win. Oleh karena itu, Forum ini mendirikan jaringan keempat pusat revolusi industri pada Maret 2017. Dengan fokus pada teknologi mutakhir seperti yang disebut diatas.

Baru-baru ini, semakin banyak negara, pemerintah, lembaga penelitian akademik dan organisasi nirlaba di luar negeri mulai mengharapkan arah dan cara kerja China.

“Kantor Promosi Perencanaan Pengembangan Kecerdasan Buatan Generasi Baru” China mengadakan pertemuan pertamanya pada bulan Maret tahun lalu. Li Meng, wakil menteri ilmu pengetahuan dan teknologi, mengusulkan “tata kelola adalah masalah penting dalam pengembangan kecerdasan buatan”. Termasuk bagaimana “memahami atribut teknologi kecerdasan buatan atau AI.”

Dalam “dua sesi meeting” sebelumnya, dua raksasa Internet China, Tencent dan Alibaba juga membuat saran terpisah. Upaya “meningkatkan kelembagaan etika sains dan teknologi. Mempercepat studi tentang masalah regulasi di bidang teknologi. Serta memperkuat propaganda sains dan etika teknologi”.

Just like grandma says, dalam pidato Wakil Presiden China, Bapak Wang Qishan pada Pertemuan Tahunan 2019 Forum Ekonomi Dunia, “Revolusi industri 4.0 terjadi sangat cepat. Dengan Skala yang begitu besar. Sistem yang sangat rumit. Perubahan yang begitu mendalam, menyebabkan proses globalisasi yang jauh pengaruhnya.

Kita harus membangun struktur global Era revolusi industri 4.0 dengan visi dan misi mencakup seluruh umat manusia. Dunia menantikan partisipasi aktif China dalam sains global dan tata kelola teknologi Dunia. Bersama negara maju lainnya berbagi tanggung jawab. Mendorong pembangunan global. Mencapai “baik secara ilmiah maupun teknologi”, dan mengimplementasikan tujuan membangun komunitas global bersama.

Advertisements
Categories: artificial intelligence indonesia, Revolusi Industri 4.0Tags: , ,

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: