Advertisements

Perang Artificial intelligence antara AS vs China

AI Superpowers, China, Silicon Valley and the New world order

Oleh: Ricky Suwarno

peperangan antara China dan Amerika Serikat (AS) tampaknya tak hanya berkutat pada soal perdagangan. Kedua Negara adidaya ini juga bakal berseteru di bidang teknologi. Terutama kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence.

Saat ini negeri paman Sam sedang khawatir sikap keras China berhubung perang dagang akan menular ke sengketa tentang teknologi AI. Trump dan administrasinya tahu bahwa China telah membangun ekosistem AI yang bakal direalisasikan pada tahun 2030.

Banyak teman dan partner digital internet, dari Indonesia ataupun India sering bertanya kepada saya, siapa yang bakal memenangkan balapan AI ini. Berdasarkan pengalaman saya hidup dan menetap di sini selama dua decade, dari lulus universitas sampai karir. Saya telah menyaksikan perkembangan China yang sangat pesat. Yang mungkin tidak bisa Anda temui di planet bumi ini. Lebih-lebih peningkatan ekonomi dan teknologi mereka. Baik digital maupun militer. Banyak pakar dan insinyur AI, bahkan dari AS sendiri, yakin bahwa China punya 1001 alasan untuk memenangkan balapan teknologi ini. Tetapi apakah benar demikian?

Seabad yang lalu, untuk memanfaatkan listrik yang baru ditemukan, manusia memerlukan bbrp unsur penting. Seperti Bahan bakar fosil. Pengusaha. Insinyur. Dan infrastruktur. Demikian juga, dengan AI (yang dianggap sebagai listrik di abad 21). Big data. Pengusaha. Ilmuwan. Dan lingkungan dan kebijakan yang cocok untuk AI. Dari perbandingan ini, bisa diketahui balancing power tentang perubahan new world order di masa depan. Barat ke Timur.

Hari ini, AI memasuki perkembangan era tahap baru. Dari tahap penemuan beralih ke tahap aplikasi fisik. Dan dari tingkat pakar, beralih ke tahap big data. Peralihan ini sangat menguntungkan China. Karena dua perubahan ini memburamkan kelemahan China, tetapi menguatkan kelebihannya. Dari tahap penemuan ke tahap aplikasi fisik, memburamkan salah satu kelemahan China. Dari penelitian yang menekankan pelompatan pemikiran, menguatkan China. Dari peralihan pakar ke masa big data, juga sangat menguntungkan China. Sehingga pentingnya peneliti terhebat menjadi kurang penting (salah satu kelemahan China). Tetapi, Pentingnya big data, adalah kelebihan yang dimiliki China. Bahkan sangat banyak dan terrinci. Mungkin semua orang di dunia sependapat bahwa Silicon Valley adalah yang sekelompok anak muda yang sangat hebat, bekerja keras, punya semangat, optimistic dan haus dengan teknologi masa depan. terus terang, mereka memang pekerja keras. Tetapi, berdasarkan pengamatan saya sejak menginjakin kaki pertama kalinya ke silicon valley di tahun 2016, pada saat technology exchange sampai recruitment terhadap talenta di hollwood, Pixar, marvel, dream works (dalam bisnis animasi dan mobile gaming saya dulu). Sampai saat ini secara berturut-turut. Saya berani menyimpulkan bahwa, bila pengusaha-pengusaha di pasifik utara ini dibandingkan dengan pengusaha China, pengusaha dari Silicon Valley boleh dikatakan rata-rata sangat malas. Hidup mereka terlalu nyaman.

Tetapi, Bila anda punya kesempatan mengalami dan melihat bagaimana seorang pengusaha China bisa berhasil dari kompetisi yang kejam dan ketat. Mereka rata-rata semua adalah pemikir, dan sangat pintar. pekerja keras. Di barat, atau silicon valley, mereka bekerja 8-12 jam. Tetapi di China, 12-14 jam dianggap normal. Mereka bahkan akan kerja lembur sampai 2-3hari tidak tidur hanya untuk mengejar dan mengganti versi baru. Menjaga supaya Selalu ter-update dan tercepat dari competitor. Dalam dunia mereka, kecepatan adalah syarat mutlak dan utama. Copycat adalah hal yang bisa diterima. Dan untuk menang harus mengorbankan segalanya. Inilah keadan di China. Kehidupan mereka ibarat arena pertarungan para warrior di jaman Romawi kuno. Kamu yang mati, atau aku yang hidup. Jadi untuk bisa hidup dalam situasi begini, cara satu-satunya adalah perbaikan produk terus menerus. Meng-update versi1-2 kali dalam seminggu. Atau lebih. Inovasi bisnis model. Bahkan termasuk langkah-langkah perlindungan. Dan penghalang buat competitor baru. Bila kamu merasa ada ide yang bagus, dan merasa ini kelebihan kamu. Dalam waktu singkat ide ini akan di copy, karyawan terhebatmu akan di gali dan di rekrut dengan gaji jauh lebih tinggi dari yang kamu kasih. Sampai akhirnya, kamu tidak bisa bersaing dan harus drop out. Ini jauh berbeda dengan silicon valley. Copycat adalah suatu hal yang sangat memalukan di silicon valley. Banyak perusahaan yang naik daun mungkin dari ide yang bagus. Dan hoki. Jumlah persaingan yang agak kurang keras di silicon valley membuat orang menjadi santai dan angkuh. Mereka kurang kesadaran untuk memperbaiki dan iterasi terhadap inovasi yang semula. Sedangkan di China, Pasar yang kacau, copycat dan cara yang kotor, mungkin melahirkan perusahaan yang kurang layak. Tetapi justru menghasilkan pengusaha baru yang yang paling lincah, kompeten dan pekerja keras di dunia. Pengusaha inilah yang akan membuat China menjadi Negara yang paling kuat dan sukses di aplikasi fisik AI ini. Mereka bisa memperoleh sumber dukungan alami yakni data yang sangat banyak dan mengejutkan.

China telah melampaui AS dalam proses data paling banyak di dunia. Banyaknya data tersebut ibarat khusus tailor-made untuk membuat perusahaan AI paling berhasil di dunia.

Sejak tahun 2013, perusahaan internet China mengejar AS dengan cepat. Dan tidak lagi mengikuti di belakang langkah AS. Melainkan mulai meneliti barang dan jasa yang tidak dimiliki Silicon valley. Dulu, banyak analisis AS sering menggunakan kata sifat untuk mendeskripsi internet China. Misalnya Facebooknya China. Googlenya China. Amazonnya China. Applenya China. Atau Twitternya China. Tetapi sejak tahun 2013, kata-kata sifat itu tidak lagi cocok dipakai. Karena digital internet China telah menjadi alam semesta atau galaxy yang lain. Yang unik atau tersendiri. Bahkan sebaliknya, AS harus balik mencontoh China. Disini, Kita memakai pembayaran lewat ponsel sejak tahun 2013.. Hanya dengan scan qr code. Revolusi baru yang jarang ditemui di Negara lain. Takeaway delivery bisa ditemukan dimana-mana. Anak muda yang Berkendara sepeda motor listrik memasuki jalan besar. Dan gang-gang. Mereka adalah lambang O2O (online to offline). Membawa kenyamanan e-commerce kedunia nyata. Kuliner, massage ataupun layanan manicure. Sampai ke sepeda yang berwarna-warni, bike-sharing, hanya dengan scan QR code.

WeChat—Super aplikasi yang menjaringkan semua kebutuhan jadi satu. Bagi orang China, Wechat itu ibarat pisau tentara swiss. Multi function. Dan sangat nyaman. Bisa mengirim data atau pesan. Shopping. Appointment untuk ke dokter. Pengajuan pajak. Beli tiket bioskop atau pesawat. Bayar listrik air. Booking hotel. Dan apapun yang mungkin terpikir anda. Sampai beli reksadana ataupun investasi saham. Semuanya lengkap. Dan dalam satu applikasi. Alam semesta inilah yang membantu China mengumpulkan semua data pengguna. Dari letak geographis atau location based pengguna, komuter, hobby, kapan dan shopping dimana, dll. Data-data ini sangat berharga untuk penggunaan AI. Digabungkan dengan deep learning, yang khusus tailor made. Dari ulasan keuangan moneter seseorang sampai ke perencanaan suatu kota dan sebagainya. Semua hasil perhitungan deep learning ini, akan jauh lebih akurat dibanding hasil searching engine silicon valley. Atau mark as read. Ataupun nge-likenya facebook dll.

Dalam waktu dekat, Data besar-besaran yang tidak tertandingi dari dunia nyata ini, akan menjadi keuntungan yang sangat besar bagi China dalam mengembangkan AI. Dan tentu saja, dukungan yang sangat kuat dari pemerintah pusat. Begitu satu perintah dikeluarkan, harus diikuti oleh semua pemda di semua propinsi. Termasuk perencanaan dan tujuan jangka panjang pemerintah China. Ini adalah hal yang tidak bisa dimengerti oleh orang AS. Misalnya, mengapa China bisa membangun kereta cepat secara kilat.

Akhirnya, Menurut perkiraan PWC, penggunaan AI akan mengkontribusi ke GDP dunia sebesar USD15.7Triliun pada tahun 2030. Dimana, usd 7 Triliun dihasilkan oleh China, dua kali lipat kontribusi Amerika Utara (USD3.7Trilliun).

Dengan perkembangan ekonomi China yang semakin kuat, pengaruh politik dan soft powernya akan muncul bersamaan. Dimana nantinya kebudayaan dan ideologinya akan ikut tersebar ke seluruh pelosok dunia.

Just like what my grandma says, Balapan ini baru mulai, kita masih tidak tahu bagaimana hasilnya nanti. Tetapi, bagaimanapun hasilnya, suatu hal yang sangat pasti. Yaitu situasi perkembangan AI di China dan AS sangat berbeda. Pemerintah AS memakai cara tidak campur tangan terhadap para pengusaha, dan lagian, pemerintah semakin mengurangi anggaran budget untuk penelitian AI. Dari ringkasan diatas, bisa terlihat China, sebagai pengusaha kelas dunia sangat optimistik. Dan pemerintah yang agresif. Dengan Gabungan ini, saya yakin perkembangan dan aplikasi China dalam AI, akan bisa bersaing dengan AS, dan dengan cepat melampauinya.

Anyway, siapa yang akan keluar jadi pemenang dalam duel AI China vs AS? Lalu, bagaimana dengan Indonesia?

Advertisements
Categories: AI Superpower, As vs indonesia, masa depan kecerdasan buatan AS-China, prediksi perang AI AS dengan ChinaTags: , , , , , , , , ,

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: