Perkembangan Big Data dan AI

Perkembangan Big Data dan AI merupakan Revolusi peradaban Manusia. Seperti kutipan kata Jack Ma, “big data adalah Tambang minyak di masa depan.” Alibaba bukanlah perusahaan e-commerce. Alibaba adalah perusahaan teknologi data. Paling tidak itu pengakuan Jack Ma. Semua orang merasa mengerti. Tapi secara nyata tidak benar-benar tahu apa maksud sebenarnya.

“Apa itu peradaban?”

Semua hasil perkembangan manusia secara total. Secara total? Merangkup apa? Barang Produk, kekayaan, teknologi, kebudayaan dan systematic.

“Kekuatan manusia berasal dari mana? Mengapa manusia bisa menang dalam pertandingan menaklukkan alam?”

Menurut hukum alam, barangsiapa yang bisa mengumpulkan kekuatan menjadi satu, dan dilepaskan secara bersamaan pada satu titik. Dialah yang bakal menang. Misalnya, Binatang dengan badan yang gede, gigi yang tajam, jumlah yang banyak adalah satu kekuatan.

Perkembangan Big Data dan AI

Sebaliknya, karena Manusia menguasai bahasa, bisa saling berkomunikasi, Bekerjasama. Sehingga bisa mengumpulkan kekuatan menjadi satu. Itulah sebabnya manusia bisa menang melawan binatang. Menjadi penguasa dunia. Ekonomi-melalui mekanisme dan integrasi, menguatkan kekuatan bersama.

Systematic-melalui kekuatan organisasi dan integrasi bersama menjadi kuat. Kebudayaan-melalui mekanisme komunikasi simbolik mengintegrasikan kekuatan manusia.

Demikian juga dengan teknologi. Semuanya Tidak bisa lepas dari “big data.” Mengapa kuliner bisnis atau franchising seperti bisa berkembang cepat. Banyak orang berpikir mungkin karena dapur pusat. Transportasi rantai dingin yang sudah matang.?

Sebenarnya, dibalik semua itu karena adanya Wechat Pay atau Alipay atau Gopay di Indonesia. Kok bisa? Bayangkan, pada dasarnya, restoran cuma terima cash. Sehingga pendapatannya sulit dilacak. Makanya bisnis restoran yang bisa IPO di masa lalu sangatlah sulit. Tetapi dengan munculnya mobile payment, selain membawa kenyamanan, setiap transaksi bisa di simpan.

Bukan hanya di bidang komersial, sebenarnya semua pembangunan masyarakat secara keseluruhan mengandalkan pada kemampuan data. Pernahkah Anda mengamati bahwa daerah dengan peradaban terbelakang, nama keluarga sering memiliki tingkat kebetulan yang tinggi. Misalnya, orang Amish di AS dikenal karena menolak peradaban modern.

Sepertiga dari orang Amish bermarga “Lampu”. Ini bukan kasus spesial sebenarnya. Bahkan sebelum abad ke14, kebanyakan penduduk didunia hanya memiliki nama dan tidak ada nama keluarga. Nama keluarga adalah produk dari tatanan administrasi suatu Negara.

Umpamanya, Budaya China memang agak lain, karena mereka telah menyelesaikan pembangunan komunitas nasional yang sangat tinggi sejak awal. Misalnya lagi, di Jepang. Walaupun penduduknya bukan yang terbanyak di dunia. Tetapi nama keluarga mereka adalah yang terbanyak. Total semuanya ada 110.000 marga. Nomor dua selain Negara imigrasi AS.

Ketika Restorasi Meiji, kebanyakan orang jepang tidak memiliki nama keluarga. Pada tahun 1870, pada saat pemerintah bermaksud memodernisasi Jepang. Mereka Menemukan Banyak kesulitan dalam memungut pajak, wajib militer atau memanajemen tiap kepala keluarga.

Perkembangan Big Data dan AI
Perkembangan Big Data dan AI (Image: Marketwatch)

Sehingga dalam waktu singkat setiap orang diharuskan memungut satu nama keluarga untuk dilaporkan ke pemerintah. Sehingga apa yang mereka lihat atau alami di lingkungan sekitarnya, langsung dikaitkan dengan nama keluarga mereka. Misalnya, yang tinggal dekat jembatan, mereka akan memberi nama Jembatan.

Ketika ada pohon pinus tumbuh disamping pintu, makanya keluarga tersebut di panggil “Panasonic”. Atau, Di depan dusun terletak satu gunung, sehingga keluarga itu di kasih nama Yamaguchi. Dan bagi keluarga petani, makanya namanya di panggil Tanzhong.

Mengapa suatu Negara begitu tertarik untuk membuat nama keluarga? Karena populasi adalah data paling dasar dari suatu masyarakat. Negara harus di modernisasi, pendaftaran rumah tangga, perpajakan, wajib militer, keamanan publik, kesejahteraan, dan property semuanya didasarkan atas big data.

Menguasai data demografi yang jelas merupakan syarat utama bagi pemerintahan nasional. Oleh karena itu, nama keluarga adalah desain institusional paling awal masyarakat manusia dari yang tidak jelas hingga yang jelas.

Hari ini, Manusia bukan saja suatu data. Melainkan seekor belenggu yang punya ekor. Tidak peduli di mana dan apa yang kita lakukan. Kita semua pasti akan meninggalkan data. Data adalah dimensi penting untuk mempromosikan perkembangan peradaban manusia. Saat ini, begitu kita melangkah keluar dari pintu rumah, muka kita akan di rekam puluhan kali dalam sehari lewat face recognition CCTV atau Teknologi Pengenalan Wajah.

Just like grandma says, peradaban manusia harus menyelesaikan lompatan besar atas ketepatan data-data ini. Tidak peduli Suka atau tidak suka, kita semua akan memasuki yang namanya “peradaban data”.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.