Perkembangan terkini Kecerdasan Buatan

Perkembangan terkini Kecerdasan Buatan dengan sisi pemberdayaannya juga sekalian memacu kita secara profesional. Seperti prediksi para pakar AI atau “Kecerdasan buatan akan menggantikan manusia menyelesaikan berbagai pekerjaan yang berulang dan membosankan.” Bagi manusia, tantangan terbesar bukanlah kehilangan pekerjaan, tetapi kehilangan makna kehidupan.”

Bila Dibandingkan dengan kecerdasan buatan, keunggulan manusia terletak pada kreativitas dan cinta atau kasih sayang.

Perkembangan terkini Kecerdasan Buatan

Konsep AI memang telah menjadi salah satu topik yang sangat panas dalam beberapa tahun terakhir. Setiap startups yang mengklaim perusahaan AI lebih mudah mendapatkan pendanaan. Namun, tampaknya masa indah telah berlalu. Banyak perusahaan startup berbasis kecerdasan buatan mulai bangkrut di China maupun Amerika Serikat dalam dua tahun terakhir.

Mengapa perusahaan AI belum dapat menghasilkan uang? 

Saya pikir pertama-tama, banyak perusahaan yang tidak dianggap sebagai perusahaan AI sebenarnya adalah perusahaan AI seperti Tencent, Alibaba, Google, Facebook, maupun Amazon. Mereka justru mengandalkan AI untuk mengoptimalkan pengiriman barang, meningkatkan pendapatan, dan memperpanjang durasi pengguna dalam menjelajahi situs mereka.

Perusahaan mereka telah menghasilkan uang banyak tanpa diragukan. Dalam kasus perusahaan AI murni, beberapa perusahaan AI yang didirikan sejak awal mungkin terlalu memperhatikan jumlah talenta PhD dan jumlah makalah yang diterbitkan. Perusahaan-perusahaan seperti ini sangat berkemungkinan menghadapi masalah besar di masa depan.

Karena selama ada talenta dengan latar belakang komputer, mereka akan dapat menguasai teknologi AI setelah pembelajaran beberapa minggu. Dari perspektif ini, kelangkaan bakat yang dibawa oleh para Dokter PhD tadi tidak lagi banyak manfaatnya.

Setiap perusahaan teknologi yang ingin tumbuh dan berkembang besar harus selalu mempertimbangkan logika bisnis. Banyak perusahaan AI murni tadi sudah dalam perjalanan untuk menghasilkan profit. 

Saat ini, AI tidak lagi seperti Rocket Science beberapa tahun yang lalu. AI bukan lagi jenis Black Technology yang sangat langka. Sekarang banyak startups dapat menggunakan AI. Sehingga, menjadikan AI begitu populer sekarang ini. 

Salah satu alasan adalah dengan munculnya alat seperti TensorFlow dan PyTorch yang semakin mudah digunakan. Selain itu, Graphic Processing Unit (GPU), sejenis chip yang dapat di program untuk keperluan display atau tampilan telah berkembang semakin cepat. Banyak fungsi AI sudah ditempatkan di cloud. sehingga, dapat diperoleh dengan mudah.

Misalnya, teknologi Google Transformer dalam beberapa tahun terakhir hanya butuh waktu dua tahun dari publikasi makalah, hingga Aplikasi penggunaan Google, dan sampai meluasnya penggunaan oleh perusahaan raksasa lainnya. Jendela waktu ini benar-benar terkompresi menjadi pendek bila dibandingkan dengan masa lalu.

Setiap startup yang berlabel AI atau kecerdasan buatan akan mudah memotong daun bawang para investor, artinya mudah mendapatkan fundraising. Apakah situasi ini telah berubah sekarang atau masih berlaku di Indonesia? 

Sampai saat ini, AI memang benar-benar lebih mudah mendapatkan pendanaan, terutama aplikasi pertanian. Di bidang AI, kita dapat melihat berbagai fenomena aneh beberapa tahun yang lalu. Misalnya pendiri sebuah perusahaan merupakan tiga pakar sektor AI. Pada tahap awal pendirian perusahaan, dengan ketiga otak ini pendiri dapat mencapai Evaluasi 700 juta yuan atau lebih dari USD100juta.

Pendiri Startup mengatakan kepada investor: “Apakah Anda bersedia melewatkan  kesempatan baik ini?” Saya adalah pakar AI yang sangat berbakat di sektor tertentu.” Para Investor tentu saja enggan kehilangan peluang, Namun mereka juga enggan menginvestasikan seratus atau dua ratus juta Yuan.

Akhirnya, mereka berkata: “Begini saja, Saya menginvestasi 20 juta Yuan atau USD3juta.” Sebagai hasilnya, pendiri perusahaan ini berhasil memperoleh 7-8 investor dengan masing-masing 3 juta Dolar pendanaan, dan akhirnya mencapai total 200 juta Yuan Fundraising dengan Evaluasi perusahaan 700 juta Yuan.

Memang kedengarannya sangat disayangkan, dikarenakan banyak VC memiliki kesombongan yang terlalu ingin berpartisipasi dalam proyek AI. Tentu saja, tahap ini telah berlalu. 

Sekarang, pada saat epidemi Covid-19 ini, para investor telah belajar dan harus melihat apakah suatu proyek dapat menghasilkan uang serta bagaimana cara menghemat arus kas ketika berniat mendanai suatu startups. Bukannya seperti dulu, hanya mendengar cerita yang menakjubkan.

Dalam beberapa tahun terakhir, mengemudi otonom telah berubah dari fiksi ilmiah menjadi kisah nyata dalam kehidupan sehari-hari, yang juga sekaligus membuat banyak orang khawatir. Apakah AI benar-benar dapat dipercaya? 

Jika skenario ini sesuai dengan posisi produknya, mengemudi Otonom itu dapat dipercaya dan boleh digunakan. Sebagai contoh, Mobil Otonom di bandara airport terbesar Dunia, Beijing Daxing yang memiliki fungsi koneksi mengantar jemput penumpang. Dimana Koneksi bandara pada dasarnya tidak memiliki persimpangan dan tidak melaju dengan kecepatan tinggi.

Dalam skenario ini, mengemudi otonom jauh lebih aman daripada Supir manusia. Tetapi yang lebih mengerikan adalah inersia kognitif. Banyak yang mengira bilamana Mobil Otonom dapat mengendarai dengan baik di jalan raya, maka seharusnya tidak ada masalah bila mengendarai di dalam kota.

Ketika mobil otonom mengendarai selama dua atau tiga jam tanpa kecelakaan atau, tanpa ambil alih oleh manusia satu kalipun, supir manusia mulai kehilangan kewaspadaannya. Mereka mulai main ponsel. Ini jelas sangat berbahaya. Jangan berpikir bahwa AI telah aman dan bisa melakukan semua hal seperti manusia.

Meskipun AI kelihatannya sangat cerdas, namun saat ini AI masih merupakan Algoritma optimasi dengan pemikiran yang sangat sederhana. 

Pada tahun 2016, ketika AI DeepMind bernama AlphaGo berhasil mengalahkan pecatur Go Nomor Satu Dunia manusia bernama Lee Sedol, langsung menghebohkan dunia. Dalam beberapa tahun terakhir AI juga telah melampaui manusia dalam dunia Gaming, namun itu tidak begitu mengejutkan dunia seperti sebelumnya.

Apakah karena perkembangan AI telah melambat?

Jawabannya, mungkin karena harapan kita yang terlalu tinggi. Sebelum pertandingan AlphaGo dengan Lee Sedol, semua orang merasa bahwa AI saat itu masih terlalu dini, dan AI tidak mungkin bersaing dengan manusia. Prediksi semua orang AI masih membutuhkan waktu sepuluh atau dua puluh tahun. Akan tetapi, hasilnya tiba-tiba AlphaGo berhasil mengalahkan manusia.

Akibatnya, membuat harapan kita terhadap AI langsung meningkat. 

Banyak orang berpikir bahwa permainan catur Go adalah kinerja cerdas paling tinggi, tetapi sebenarnya permainan Game DOTA jauh lebih sulit bagi AI dibanding bermain catur Go. Karena di DOTA , banyak orang harus saling berkolaborasi, melihat gambar, membuat keputusan, berkomunikasi, dan mempelajari karakteristik masing-masing monster. 

Bila AI harus belajar bermain DOTA, AI tidak ada cara untuk membaca banyak strategi atau bertanya kepada para pakar Game, jadi ini bakalan berkali lipat lebih sulit daripada bermain catur Go. 

Pertanyaan selanjutnya, perkembangan terkini kecerdasan buatan atau Masalah apa yang berhasil diselesaikan oleh perusahaan AI terkemuka sekarang ini?

Setiap perusahaan AI memiliki arah pengembangannya sendiri. AI pada dasarnya adalah Teknologi untuk memberdayakan perusahaan To B. Misalnya, bandara airport di Beijing maupun Guangzhou, China. Ada beberapa perusahaan Mobil Otonom yang khusus mengantar penumpang dari bandara ke hotel. Mereka telah mempraktikkan bisnis ini secara vertikal dan sangat dalam. Kemudian diperluas ke kota-kota lain setelah model bisnis ini berhasil diverifikasi.

Bayangkan, 10 tahun tahun kemudian dengan asumsi di tahun 2030, Mobil Otonom pasti telah matang dan menjadi standar. Pada saat itu, kita mungkin tidak perlu membeli mobil lagi. Bahkan, ada kemungkinan supir manusia menjadi illegal di kemudian hari.

Kita tinggal memencet aplikasi, dan mobil otonom telah tiba didepan kita. Mobil Otonom akan lebih aman daripada mengemudi manual. Kemacetan akan berkurang. Polusi akan menurun. Tempat parkir tidak lagi banyak dibutuhkan. 

Tetapi dari sudut lain, jika manusia tidak perlu mengemudi lagi, sekitar 5% -7% orang di dunia mungkin akan kehilangan pekerjaan. Akibatnya, dalam sepuluh hingga dua puluh tahun ke depan, pengangguran mungkin menjadi tantangan terbesar pemerintah. Banyak Pekerja kerah putih dan kerah biru akan tergantikan. Mereka akan sulit mendapatkan pekerjaan lagi. Karena AI khusus menggantikan pekerjaan monoton yang berulang-ulang.

Misalnya, wartawan yang hanya dapat menulis artikel berulang dan sederhana tidak lagi diperlukan. Akuntan atau sekretaris yang hanya pandai mengetik tidak lagi diperlukan. Ataupun, pengacara muda yang hanya dapat membantu bos mendeteksi kesalahan tidak lagi diperlukan. Tetapi staf senior masih akan dibutuhkan. Pokoknya, seluruh industri bisnis akan mengalami perubahan besar.

Walaupun AI akan menggantikan dan menghilangkan banyak pekerjaan, namun sebaliknya, AI juga akan menciptakan lebih banyak peluang lainnya. AI hanya menggantikan pekerjaan berulang-ulang, sehingga dapat membebaskan dan memungkinkan kita melakukan hal-hal yang lebih kita minati.

Dalam beberapa tahun terakhir, orang – orang seperti Elon Musk khawatir tentang AI yang akan lepas kendali. Jadi dalam satu dekade mendatang, apa yang perlu manusia fokuskan untuk mencegah masalah besar yang mungkin diakibatkan oleh AI nantinya? 

Pada dasarnya, Perkembangan terkini kecerdasan buatan Dunia dibagi menjadi dua kelompok. Satu kelompok percaya bahwa singularitas akan semakin dipercepat. Robot atau mesin mulai bangkit dan semakin kuat. Mungkin, Hari ini AI masih seperti serangga. Besok seperti manusia. Lusa akan melampaui manusia. 

Kelompok kedua memiliki cara pandang yang tidak sama. Mereka berpendapat AI hanya menggantikan beberapa kognisi dan pengenalan manusia yang sederhana, misalnya sistem 1 dan sistem 2. Segala sesuatu yang terlihat, terdengar, dan dikenali dalam Sistem 1 dapat direalisasikan.

Tetapi sistem 2 seperti kesadaran diri, perasaan, pemikiran strategis dan perencanaan, masih belum dapat dilakukan oleh AI hari ini. Jadi untuk Anti AI saat ini kurang masuk logika.

Paling tidak dalam beberapa dekade mendatang, AI tidak akan memiliki kesadaran diri. Kita hanya perlu mencabut saklar daya AlphaGo, dan dia akan berhenti seketika. AlphaGo juga Tidak tahu mengapa Dia bermain caturGo. Dia juga tidak akan gembira jika menang. Atau, tidak akan bersedih jika kalah. AlphaGo Tidak punya hasrat untuk mengendalikan manusia.

Tentu saja, pencegahan dan pengawasan terhadap AI patut dilakukan. Terutama AI telah menjadi alat yang sangat kuat. Sebagai contoh, Aplikasi Deepfake mengubah wajah. Jika dipakai oleh orang jahat sebagai kesaksian palsu dipengadilan untuk merugikan orang yang tidak bersalah. Bagaimana jika Mobil Otonom menabrak mati seseorang? Atau, bagaimana jika dokter AI salah mengobati pasien? Atau lagi, Drone dengan teknologi pengenalan wajah yang membawa bom dan membunuh orang?

Yang harus kita pertimbangkan adalah bagaimana kriminal menggunakan AI untuk berbuat kejahatan. Bagaimana kita bisa menggunakan UU yang efisien dan ketat atau cara teknis untuk mencegah masalah, sama seperti perangkat lunak antivirus. 

Di sisi lain, mengenai hegemoni data terutama ketidakadilan perusahaan internet raksasa menggunakan data pribadi pengguna akan tak terhindarkan. Karena jaman AI adalah Era “Winner takes All”.

Barangsiapa yang memiliki AI di masa depan akan menjadi lebih kuat. Sebaliknya,  tanpa AI akan rentan.

Di lain pihak, sebenarnya AI adalah lingkaran yang baik untuk perusahaan komersial dan tidak berbahaya untuk perusahaan raksasa. Mereka mengumpulkan data untuk melatih produk yang lebih baik, mendapatkan lebih banyak pengguna, memperoleh lebih banyak pendapatan. Mereka menggunakan uang ini untuk mengumpulkan data, dan mendapatkan lebih banyak pengguna lagi.

Memang benar, banyak organisasi perlindungan kepentingan pribadi di Eropa dan Amerika yang mengatakan bahwa data adalah masalah privasi dan milik perorangan. Perusahaan komersial yang menghasilkan uang dengan menggunakan data pribadi pengguna, mereka seharusnya mendapatkan otorisasi atau paling tidak berbagi manfaat dengan pengguna. 

Saya pikir ini adalah impian utopis utama yang akan terjadi suatu hari. Tetapi akan sangat sulit untuk beralih di antara kedua kondisi ini. 

Jika suatu hari perusahaan internet raksasa mengembalikan data kita, mungkin akan menggembirakan kita sesaat. Tapi kita mungkin tiba-tiba menemukan bahwa Tokopedia tidak dapat mencari apa yang kita inginkan. Lingkaran teman tidak dapat lagi merekomendasikan teman. Atau, restoran yang direkomendasikan oleh Zomato tidak dapat diandalkan.

Ini karena data kita telah dikembalikan dan perusahaan internet tidak memiliki cara untuk merekomendasi produk sesuai hobi dan keinginan kita. Ketika kita mempertimbangkan masalah data, kita memang harus mempertimbangkan perlindungan dan kepemilikan informasi pribadi.

perkembangan terkini kecerdasan buatan
perkembangan terkini kecerdasan buatan (Image:Built in)

Tetapi di sisi lain, kita juga harus mempertimbangkan kenyamanan dan keamanan produk-produk Internet. Arah pemikiran kita seharusnya adalah bagaimana menghukum orang yang menggunakan data kita untuk melakukan hal-hal buruk, daripada sekedar mengembalikan data. 

Just like grandma says, Dalam jangka panjang, Mengembalikan kepemilikan data kepada individu dapat menjadi aplikasi baru di masa depan seperti penggunaan teknologi blockchain atau teknologi lainnya. Dalam keseluruhan proses perkembangan terkini kecerdasan buatan memang ada banyak sisi pemberdayaan, dan ada juga sisi yang mendesak kita secara profesional.