Persaingan antara Microsoft Amazon

Persaingan antara microsoft amazon menjadi perusahaan USD 1 Triliun semakin memanas. Pada akhir tahun 2019, banyak majalah bisnis memilih pebisnis atau perusahaan terbaik tahun tersebut. Dalam jurnal bisnis asing, dua raksasa teknologi paling menonjol dan muncul paling banyak adalah, Amazon dan Microsoft.

Namun, Rating dan komentar tentang kedua perusahaan sangat jauh berbeda. Laporan tentang Amazon hampir semuanya negatif. Sebaliknya, Microsoft mendapatkan sambutan paling meriah. Perbandingan yang paling khas tercermin dalam daftar “100 CEO Terbaik Tahun 2019”. Yang diterbitkan setiap tahun oleh Harvard Business Review. CEO Amazon, Jeff Bezos sering muncul di daftar teratas sejak 2014. Tetapi, di tahun 2019 ia langsung terdampar keluar.

Persaingan antara Microsoft Amazon

CEO Microsoft, Satya Nadella yang semula berada di peringkat ke-46 sebelumnya, langsung naik ke urutan sembilan tahun lalu. Memang luar biasa. Tahun 2019, Microsoft menembus nilai pasar Club Triliun dolar. Setelah Apple dan Amazon. Kinerja laba Amazon memang kurang baik tahun lalu. Tapi, seharusnya tak mungkin sampai Jeff Bezos keluar dari Daftar CEO Terbaik.

Sebenarnya, Harvard Business Review mengubah indeks seleksi yang menyebabkan Bezos keluar dari Peringkat. Yaitu indikator yang berkaitan dengan tanggung jawab sosial perusahaan. Indikator ini bermula 20%. Tetapi tahun lalu dinaikkan menjadi 30%. Dengan penyesuaian ini, Bezos terlempar keluar.

“Sama-sama Raksasa teknologi, apakah perbedaan Microsoft dan Amazon dalam kinerja tanggung jawab sosial perusahaan?”

Laporan media internasional menunjukkan perbedaan yang sangat menonjol mengenai Persaingan antara Microsoft Amazon dalam cara berbisnis. Microsoft menekankan persaingan yang saling menguntungkan. Namun, Amazon maunya zero-sum, Hanya ada satu pemenang. Naik turunnya peringkat kedua perusahaan ini, sebenarnya adalah persaingan antara dua cara nilai bisnis dan budaya perusahaan.

Siapa yang kalah atau menang, tidak hanya memengaruhi Raksasa Teknologi itu sendiri. Namun, juga mempengaruhi ekologi inovasi seluruh industri teknologi Amerika. Bahkan, akan muncul kebencian terhadap Perusahaan Teknologi dari masyarakat. Atau biasa dikenal sebagai “Techlash”.

The New York Times pernah menerbitkan laporan mendalam di Desember 2019. Artikel yang bertopik “Amazon ada di mana-mana: Bagaimana Amazon Mempengaruhi Dunia Teknologi”. Dengan, salah satu bisnis inti Amazon, layanan komputasi awan. Atau, Cloud computing dengan pendapatan tahunan 35 miliar Dolar.

Tetapi departemen ini, mencopas banyak produk asli dari perusahaan perangkat lunak kecil. Perusahaan-perusahaan kecil atau UMKM ini tahu Amazon akan merebut bisnis mereka. Tetapi, mereka masih harus bekerja sama dengan Amazon. Sambil bekerja sama, sambil diperas oleh Amazon. Tanpa pilihan dan tak berdaya.

Cloud computing, setara dengan platform infrastruktur perangkat keras. Setelah pelanggan menyewa Amazon Cloud Computing, mereka tidak perlu membeli banyak server sendiri. Untuk memberikan lebih banyak layanan bernilai tambah, Amazon memberikan layanan perangkat lunak tambahan berdasarkan produk yang dibeli pelanggan.

Layanan perangkat lunak ini awalnya gratis. Berasal dari perangkat lunak pihak ketiga sumber terbuka. Sebagai contoh, bersumber dari sebuah startup Belanda bernama Elastic analisis data. Pada awalnya merupakan bisnis win-win saling menguntungkan. Elastic menyediakan layanan tambahan untuk pelanggan Amazon Cloud. Sebagai gantinya, Amazon Cloud juga membawa paparan dan pelanggan ke Elastic.

Akan tetapi, pada Oktober 2015, Amazon mengemas perangkat lunak open source Elastic menjadi layanan berbayar. Menjualnya kepada pelanggan Amazon Cloud. Lebih parahnya lagi, Amazon bahkan menamakan Layanan ini “Elasticsearch”, persis sama dengan nama perusahaan aslinya.

Dalam setahun, Amazon justru cuan lebih banyak uang dibanding Elastis.

Bagaimana cara Amazon dari meniru dan cuan lebih banyak daripada versi aslinya?

Bayangkan sebuah skenario, ketika Anda masuk ke Supermarket Amazon. Anda akan melihat produk yang dipenuhi oleh produk Amazon. Misalnya, dari sabun sampai handuk. Sementara produk merek lain tersembunyi di paling sudut. Atau kadang tidak ditampilkan sama sekali. Inilah cara kerja Amazon.  

Jika Anda adalah pelanggan Amazon Cloud. Anda akan memasuki halaman situs mereka. Anda akan melihat lebih dari 150 perangkat lunak terdaftar di halaman tersebut. Semuanya adalah produk Amazon Cloud sendiri. Tidak ada yang berasal dari pihak ketiga.

Bahkan, jika Anda ingin melewati produk rekomendasi Amazon, bermaksud mencari perangkat lunak pihak ketiga sangat tidak mudah. Anda tahu nama perusahaan dengan produk yang Anda inginkan. Dan, Anda mencari produk ini di cloud Amazon. Tetapi, hasil pencarian tidak menunjukkan informasi perusahaan tersebut. Melainkan, rekomendasi Amazon lagi yang mirip sekali dengan produk itu. Produk itu, tentu saja, adalah produk hasil tiruan Amazon sendiri.

“Apakah hanya sampai disini? NO!

Masih Ada lagi. Perang Harga.”

Selama Anda membeli produk merek Amazon Cloud, Amazon akan memberikan diskon hingga 50% dari pembelian layanan tambahan berbayar 1 Dolar. Tetapi jika Anda membeli produk perusahaan lain, Anda tidak dapat menikmati diskon apapun.

Amazon Cloud tidak hanya meniru perangkat lunak UMKM, membuat rekomendasi ke produk sendiri, juga menggunakan perang harga menekan semua lawan atau supplier di dalam Amazon sendiri. Amazon hari ini ibarat suatu hutan rimba. Dan Amazon adalah raja satu-satunya di hutan ini. Itulah, sebabnya Amazon bisa monopoli dan cuan lebih banyak melalui semua produk salinan atau tiruan dari perusahaan perangkat lunak aslinya.

Di bidang cloud computing, Amazon Cloud mendominasi setengah dari pangsa pasar global. Bahkan, Apple iCloud dan Netflix juga menggunakan layanan cloud computing Amazon.

Sebenarnya, Apple maupun Netflix  juga merupakan pelanggan potensial UMKM lainnya. Dengan kata lain, Amazon Cloud adalah satu-satunya cara bagi banyak perusahaan kecil untuk menjangkau pelanggan seperti Apple dan Netflix.

Tetapi biaya kerja sama bagi UMKM tersebut adalah mereka harus membayar Biaya jalan Tol. Artinya, Jika UMKM memperoleh bisnis melalui cloud Amazon, 15% dari pendapatan bisnis harus dibayar kepada Amazon. Serangkaian tindakan Amazon ini dinamakan “Penambangan Predator” oleh para UMKM.

Sebenarnya, mode persaingan zero-sum Game bukan hal baru lagi. Di masa lalu, banyak perusahaan besar telah mengadopsi cara persaingan ini. Misalnya, Tencent dari China yang terkenal dengan sebutan “Tencent meniru jalan orang, sampai orang lain (maksudnya UMKM disini) tidak mempunyai jalan keluar lagi”.

Ataupun, Microsoft masa lalu juga mengadopsi cara intimidasi kayak gitu. Pada saat itu, Microsoft menggunakan monopolinya dalam Windows menguasai dan mengendalikan dunia teknologi. Dari perspektif ini, Amazon hari ini justru mengikuti jalan lama yang telah diambil Microsoft. Tetapi hari ini, Microsoft telah bergeser ke mode kompetisi lain yang saling menguntungkan.

Satya Nadella, CEO Microsoft saat ini, berhasil menciptakan nilai $1 triliun untuk para pemegang saham dalam waktu 6 tahun. “Financial Times” menyebut Nadella sebagai orang terhebat tahun 2019. Ketika Nadella mengambil alih Microsoft enam tahun yang lalu, Microsoft berisiko dipinggirkan oleh dunia teknologi.

Cara permainan zero-sum Game tidak membuat Microsoft terus menjadi perusahaan yang dikagumi. Justru, sebaliknya jatuh ke palung. Akibatnya, Microsoft melewatkan semua tren gelombang teknologi utama.

Persaingan antara Microsoft Amazon
Persaingan antara Microsoft Amazon semakin sengit dalam Cloud computing (Image: winbuzzer)

Misalnya, dalam bidang searching engine tidak bisa bersaing dengan Google. Atau dalam ponsel pintar dikalahkan oleh Apple. Namun munculnya Azure, layanan cloud Microsoft, berhasil mengubah kekalahan Microsoft menjadi kemenangan. Walaupun, pada awalnya juga jauh di belakang Amazon.

Pada awal 2014, Satya Nadella diangkat menjadi CEO Microsoft. Hal terpenting yang ia lakukan setelah menjabat adalah mengubah budaya perusahaan Microsoft. Di masa lalu, karakteristik budaya orang Microsoft itu sok dan cenderung berjuang sendirian. Tapi Satya Nadella sangat berbeda. Dia penuh rendah hati dan bersedia bekerja sama dengan orang lain.

Mengapa Nadella tidak dipengaruhi oleh kesombongan Microsoft masa lalu? Itu karena cobaan berat dalam keluarganya di masa lalu.

Putra pertama Nadella menderita cerebral palsy bawaan. Membuatnya sangat menderita bertahun-tahun. Hal ini mengajari dia untuk merendah hati dan pantang mundur. Tidak boleh sombong atau egois. Pengalaman ini juga memberikan dia menyadari pentingnya makna empati kepada orang lain.

Satya Nadella menekankan kepemimpinan dengan Dua filosofi. Pertama, para karyawan Microsoft diharuskan belajar merendah diri dan mulai aktif berinvestasi di bidang baru. Seperti layanan komputasi awan Azure. Bisnis ini kemudian berkembang sangat cepat. Hanya ditahun 2019, cloud computing Microsoft berhasil merebut bisnis $10 miliar dari Departemen Pertahanan Pentagon, Amerika.

Kedua, Microsoft mengubah hubungannya dengan para pesaingnya. Terutama dengan UMKM. Berupa kompetisi terbuka. Seperti kita ketahui, Microsoft mendominasi pengguna di seluruh dunia melalui Windows. Dalam hal ini, posisi Microsoft dalam ekosistem persaingan bisnis sebenarnya mirip dengan Amazon Cloud. Tetapi Microsoft kemudian menganut cara yang berbeda sama sekali dari Amazon.

Misalnya Sekarang ini, Microsoft menemukan persaingan terberat dari sebuah startup namanya “Slack”. Kita dapat memahaminya sebagai WeChat dari China versi AS. Dalam beberapa tahun terakhir, telah banyak perusahaan Amerika yang meniru Teknologi asal China. Tahun 2019, Microsoft Windows juga telah meluncurkan versi WeChat tersendiri untuk bersaing langsung dengan Slack.

Tetapi tidak seperti pendekatan Amazon, persaingan antara Microsoft Amazon, Microsoft masih memungkinkan Slack untuk menjangkau dan mendapatkan users di platform Windows. Semuanya gratis lagi. Ini tentu saja sangat kontras dengan cara ekstrim Amazon. Amazon Cloud menghalangi UMKM mendapatkan users, bahkan mengharuskan mereka untuk membayar biaya jalan tol di Amazon Cloud.

Model persaingan terbuka ini memungkinkan mitra Microsoft untuk mendapatkan lebih banyak profit melalui platform Windows. Seperti, Satya Nadella pernah berpidato tentang kompetitornya, Google. Google cuan sangat banyak uang lewat platform Windows. Tidak ada platform lain yang bisa melakukan ini, tambahnya.

Ini adalah mode kompetisi lain yang diwakili Microsoft dalam dunia teknologi. Mode yang saling menguntungkan.

Tentu saja, ketika Microsoft bangkit kembali mencapai Perusahaan dengan nilai Triliunan dolar (saat ini hanya ada 3 perusahaan), banyak perusahaan lainnya juga mencapai hasil saling menguntungkan. Namun, apakah mode ini Akan berkelanjutan? Apakah Microsoft akan bangkit kembali dan menjadi Microsoft lama yang dominan dan monopoli seperti Amazon hari ini?

Just like grandma says, suatu perusahaan dapat berkembang dan menjadi Raksasa. Tetapi, mereka tidak harus “monopoli.” Semakin besar suatu perusahaan, semakin besar peluang untuk mencapai Hasil win-win. Pada saat kita mengakumulasi kekayaan sendiri, sebenarnya kita juga bisa sekalian membantu mitra untuk berkembang secara inovatif. Bukannya, menutup jalan keberuntungan orang lain.

Jika jalur baru Microsoft ini dapat berkelanjutan, saya percaya ini akan menjadi obat paling mujarab untuk mencegah “Gelombang anti-teknologi” atau Techlash.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.