Persaingan Era Kecerdasan Buatan

Persaingan Era Kecerdasan Buatan memicu pada “Winner takes All” atau Pemenang Mengambil Semua. Barang siapa lebih dulu mengadopsi teknologi ini dalam perusahaannya, akan memperoleh keuntungan bawaan dibanding pesaingnya yang belum bertindak sama sekali.

Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan adalah masa depan. Bukan lagi science fiction yang kita lihat di film Hollywood. Melainkan, kehidupan nyata kita bersama di Masa Depan. Tetapi di balik semua itu, banyak orang kuatir, mampukah kita tetap mempertahankan sisi kemanusiaan kita, ketika kita berhadapan dengan teknologi yang memiliki potensi menggantikan peran kita sebagai manusia di kemudian hari.

Sejak eksistensi manusia di muka bumi ini, semua spesies memiliki instinct untuk bersaing, Agar kita dapat terus bertahan hidup dan tumbuh berkembang. Agar kehidupan kita lestari. Bisa dilanjutkan turun temurun ke generasi berikutnya.

Persaingan Era Kecerdasan Buatan

Namun sekarang, manusia menghadapi pesaing baru. Mesin ciptaan Manusia sendiri. Yang semakin canggih. Yang pintar belajar sendiri. Dan semakin sempurna. Kehebatannya, pada suatu saat akan menyaingi atau menyamai atau bahkan melebihi segala kemampuan manusia sebagai penakluk alam semesta ini.

Pengembangan mesin pintar ini, berpusat pada teknologi AI atau Kecerdasan Buatan. Yang dianggap sebagai dasar pengembangan teknologi di masa depan.

Indonesia telah memasuki “Era baru Industri 4.0” atau di Tiongkok lebih dikenal sebagai “Made in China 2025.” Yang di tandai dengan meningkatnya konektivitas, interaksi serta masyarakat, mesin dan sumber daya lainnya yang semakin konvergen sebagai hasil kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. Era Baru Industri 4.0 diharapkan akan membawa Indonesia menuju Top 10 negara Perekonomian terbesar pada tahun 2030.

Dewasa ini, Raksasa Internet seperti Google, Facebook, Amazon ataupun Alibaba dan Tencent, memfokuskan pengembangan atas jaringan (grid) kecerdasan buatan. Jenis jaringan ini mirip dengan jaringan listrik dalam kehidupan kita sehari-hari. Dan kemungkinan memiliki kemampuan kecerdasan buatan secara komersial.

Misalnya, machine learning dapat menjadi layanan standar yang dapat di beli oleh setiap Pebisnis. Bahkan dapat di tawarkan kepada akademis maupun individu secara gratis. Jenis platform seperti Google, Alibaba maupun Amazon akan digunakan sebagai utilitas untuk mengelola jaringan (grid).

Persaingan Era Kecerdasan Buatan
Persaingan Era Kecerdasan Buatan (Image:Becoming Human)

Sedangkan, fokus dari Startup adalah menciptakan “baterai pintar buatan.” Para startup ini tidak mengharapkan dapat bersaing dalam pengembangan jaringan atau grid pintar buatan. Tetapi, menciptakan produk kecerdasan buatan dengan “baterai-driven” untuk berbagai bidang. Fokus dari jenis bisnis ini adalah pada kedalaman dan profesionalisme. Mentargetkan area khusus seperti diagnosa medis, Hipotek, drone atau Mobil otonom.

Just like grandma says, Persaingan Era Kecerdasan Buatan atau AI adalah tipe kekuatan baru yang pada dasarnya akan menggerakkan segala sektor bisnis. Apakah kecerdasan buatan ini akan memicu persaingan “Winner takes All”, adalah proposisi penting yang perlu kita pertimbangkan.