Persaingan kepentingan dibalik Vaksin Covid-19

Persaingan kepentingan dibalik Vaksin Covid-19 dalam produksi distibusi antar negara untuk melindungi kepentingan masing-masing. Menurut edisi terbaru The Economist, ketika vaksin Covid-19 dirilis akan timbul mekanisme operasi yang lebih kompleks. Karena Tidak hanya perusahaan atau pemerintah akan bersaing dalam hal modal, termasuk juga persaingan kepentingan negara-negara di dunia. Sekalipun vaksin berhasil dirilis, masih harus menempuh jalan panjang sebelum benar-benar berfungsi secara global.

Minggu lalu, Yang Xiaoming, Kepala ilmuwan proyek vaksin rencana “863” dari Kementerian Sains dan Teknologi Tiongkok mengatakan Uji klinis Pertama yang disetujui di dunia untuk vaksin virus Corona telah mengakhiri fase pertama uji klinis. Uji klinis fase 2 saat ini sedang dipercepat.

Ini tentu saja kabar baik bagi Dunia. Menurut perkiraan WHO, vaksin Covid-19 akan tersedia setelah 18 bulan. Namun, tampaknya “China Speed” dapat mempersingkat proses ini.

Persaingan kepentingan dibalik Vaksin Covid-19

Siklus pengembangan vaksin sangat panjang dengan proses yang sangat ketat. Untuk memastikan keamanan vaksin, biasanya harus melalui tiga fase uji klinis. Terkadang, fase pertama uji coba membutuhkan beberapa tahun.

Namun, masalah utama penundaan vaksin bukanlah waktu penelitian dan pengembangan yang lama, melainkan Vaksin adalah pasar yang sepenuhnya didominasi oleh “permintaan.” Khususnya, pengembangan dan produksi vaksin pandemi semacam Covid-19 sangat tergantung pada dorongan seberapa parahnya wabah. Jika tidak ada Pandemi, pengembangan vaksin akan melambat atau bahkan mandek.

Vaksin virus Ebola adalah contoh paling tipikal. Wabah Ebola yang terjadi pada tahun 2013 di Afrika Barat sangatlah serius. Merupakan wabah terbesar dalam sejarah dunia. Dalam waktu Tiga tahun, lebih dari 1 juta kematian terjadi di Guinea, Liberia dan Sierra Leone dan negara-negara lainnya.

Sebenarnya, pada akhir tahun 1990an, ilmuwan Kanada telah berhasil meneliti vaksin Ebola yang memiliki kekebalan tubuh pada tikus. Sampai pada tahun 2005 telah berkembang menjadi vaksin yang dapat digunakan pada manusia. Namun, wabah Ebola telah menghilang waktu itu, jadi tidak ada perusahaan farmasi yang bersedia melanjutkan penelitian dan pengembangan. Sehingga, vaksin Ebola tidak memasuki tahap uji klinis.

Oleh karena itu, pada tahun 2013 wabah Ebola terjadi lagi dan menyebar cepat di tahun 2014. Lembaga pendanaan penelitian medis British Wellcome Trust (Wellcome Trust) menginvestasikan uang dalam jumlah besar untuk membuat Uji Klinis fase pertama vaksin Ebola yang tertunda.

Pada pertengahan 2015, uji klinis Fase III berhasil dicapai. Vaksin Ebola secara resmi diluncurkan dan disetujui untuk digunakan di seluruh dunia. Namun, saat itu wabah Ebola di Afrika Barat sudah mereda, dan berakhir pada awal 2016 . Meskipun vaksin telah berhasil dikembangkan, tetapi tidak diproduksi secara massal.

Singkat cerita, jika tidak ada Pandemi, penelitian dan pengembangan maupun produksi vaksin pasti akan mengalami stagnasi.

Demikian pula halnya denga vaksin SARS , yang telah dikembangkan di Lab waktu itu. Tetapi SARS dapat terkendalikan sebelum vaksin memasuki tahap uji klinis. Maka dari itu, vaksin SARS tidak dikeluarkan setelah bertahun-tahun.

Fitur ini jelas mempengaruhi seluruh rantai industri vaksin, mulai dari Litbang, produksi hingga vaksinasi. Majalah “The Economist” menekankan, meskipun vaksin Covid-19 telah mencapai kemajuan pesat dalam R&D, namun tidaklah mudah untuk mencapai vaksinasi skala besar walaupun vaksin Covid-19 dirilis nantinya. Alasan utama adalah vaksin akan terbatasi oleh seluruh rantai industri.

Keterbatasan pertama berasal dari “masalah jumlah kapasitas.” Mengingat penyebaran Pandemi virus Corona saat ini, diperlukan skala produksi massal untuk mencapai efek perlindungan, tetapi kapasitas produksi industri vaksin sangat terbatas.

Hal Ini dikarenakan penelitian dan pengembangan vaksin membutuhkan investasi modal besar, tetapi keuntungannya sangat minim. Selain itu, pembuatan vaksin jauh lebih rumit daripada pembuatan obat-obatan biasa. Virus harus dibudidayakan dan dimurnikan secara standar. Setiap langkah memerlukan pemeriksaan kualitas berulang-ulang. Dapat dikatakan, persyaratan teknis yang cukup keras. Jadi menyebabkan hanya beberapa perusahaan besar yang mampu melakukannya.

Hampir semua teknologi produksi vaksin ada di tangan perusahaan Amerika Serikat seperti GlaxoSmithKline, Johnson & Johnson, Pfizer dan Sanofi. Terlebih lagi, keempat perusahaan ini selalu sangat berhati-hati dalam pengembangan vaksin epidemi. Karena keuntungannya tidak tinggi namun dengan risiko yang sangat besar. Bilamana gagal, akan merupakan investasi  besar yang sia-sia.

Pada tahun 2009, virus influenza H1N1 asal Amerika Serikat dan menyebar ke 214 negara termasuk wilayah telah menewaskan hampir 200.000 orang. Pada saat itu, pemerintah AS memesan pembelian 250 juta dosis vaksin influenza H1N1 dari GlaxoSmithKline, Sanofi dan perusahaan lainnya. 

Namun, pada saat epidemi Flu AS mereda pada 2010, pemerintah AS segera mengumumkan pengurangan pesanan. Untuk menghindari kerugian, Prancis dan Spanyol juga membatalkan pesanan puluhan juta dosis vaksin influenza H1N1. Akibatnya, perusahaan farmasi diatas yang telah menginvestasikan ratusan juta dolar biaya mengalami kerugian sangat besar.

Dari pelajaran ini, sulit bagi produsen vaksin berminat untuk memperluas kapasitas produksi. 

Belum lama ini WHO mengatakan, vaksin influenza musiman menempati sebagian besar kapasitas produksi vaksin global. Bahkan jika vaksin Covid-19 berhasil dikembangkan, dan jika kebetulan bertabrakan dengan musim influenza, kemungkinan besar produksi vaksin Covid-19 akan terpaksa diundurkan demi mendahulukan produksi vaksin influenza.

Keterbatasan kedua berasal dari masalah distribusi Vaksin. Cara ideal membagi vaksin adalah memberikan prioritas vaksin pada populasi yang rentan, mencapai cakupan 90% di antara penduduk. Sehingga, kelompok imunisasi dapat terbentuk untuk melindungi orang-orang yang belum divaksinasi. 

Ini tidak hanya membutuhkan produksi massal, tetapi juga distribusi vaksin yang masuk akal. Namun, karena epidemi pneumonia virus Corona adalah wabah global, maka sangat wajar kalau terjadi Persaingan kepentingan dibalik Vaksin Covid-19 ini.

Jadi, pertanyaannya, “Siapa yang harus mendapatkan vaksin terlebih dahulu?”

“The Economist” khawatir Negara-negara Maju yang memiliki kemampuan memproduksi vaksin cenderung memprioritaskan kepentingan negara mereka terlebih dahulu. Ini jelas  membawa dampak negatif pada efektivitas vaksin. Karena virus tidak mengenal batas. Sekali lagi, Persaingan kepentingan dibalik Vaksin Covid-19 juga tidak dapat terhindarkan.

Saat ini, ada lebih dari 100 Lab di seluruh dunia berinvestasi dalam ” kontes ” R&D vaksin Covid-19. Skala besar yang belum pernah terjadi sebelumnya. 

Di antara persaingan tersebut, China dengan kekuatan nasionalnya tampak paling menonjol. Beijing telah menginvestasikan banyak Pakar Medis dan sumber daya material, sehingga penelitian vaksin China saat ini berada di posisi terdepan.

Produsen vaksin Sanofi dan Johnson&Johnson baru-baru ini mengumumkan, mereka bersedia memproduksi vaksin massal tanpa pertimbangan keuntungan besar. Just fyi, perusahaan farmasi selalu berfokus pada profit Terbesar, sehingga Tindakan mereka seperti ini merupakan keputusan yang sangat berani.

Persaingan kepentingan dibalik Vaksin Covid-19
Uji Klinis Vaksin Covid-19 CHina memasuki fase ke dua (Image: Xinhuanet)

Pada saat yang sama, kekuatan pihak ketiga seperti organisasi kesejahteraan masyarakat juga ikut berpartisipasi. Misalnya, Gates Foundation telah menginvestasikan puluhan miliar dolar untuk mendanai laboratorium R&D vaksin.

Mereka mulai membangun pabrik untuk produksi vaksin. Bill Gates mengakui miliaran dolar mungkin akan terbuang sia-sia, tetapi untuk kesehatan masyarakat global, pemborosan ini patut dilakukan.

Just like grandma says, Saat ini ada dua Lembaga Swadaya Masyarakat atau Non Government Organisation (NGO) mendesak G20 untuk mencapai kesepakatan kerja sama internasional tentang produksi dan koordinasi vaksin. Respons Negara G20 juga sangat positif. Mereka meminta WHO untuk mengembangkan rencana distribusi global yang masuk akal dan ilmiah untuk vaksin Covid-19.

1 thought on “Persaingan kepentingan dibalik Vaksin Covid-19

Apa Pendapat Anda

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: