Perubahan dalam pendidikan Bisnis

Perubahan dalam pendidikan Bisnis di dunia Dalam satu tahun terakhir sangat jelas. Karena perlambatan ekonomi, banyak orang mulai mempertimbangkan apakah akan menggunakan waktu ini untuk kembali ke sekolah studi lebih lanjut. Bagi mereka yang memiliki pengalaman kerja tertentu, sekolah bisnis sering menjadi pilihan utama.  

Pendidikan sekolah bisnis global sebenarnya telah mengalami perubahan yang menarik.  Financial Times dan Wall Street Journal baru-baru ini memperhatikan fenomena yang sama. Sekolah bisnis Amerika mulai menurun, sebaliknya sekolah bisnis Asia diam-diam mulai bertumbuh pesat.

Perubahan dalam pendidikan Bisnis

GMAC-Graduate Management Admission Council, sejenis lembaga statistik penerimaan pendidikan bisnis internasional yang menghitung jumlah aplikasi dari sekolah bisnis global setiap tahun. Bulan lalu, GMAC baru saja merilis laporan untuk tahun ajaran 2019-2020. Data menunjukkan, jumlah aplikasi sekolah bisnis telah turun 3,1% dari tahun-ke-tahun. Jumlah siswa aplikasi AS telah turun sebesar 9%. Jumlah aplikasi dari lokal AS sendiri turun 3,6%. Sementara jumlah aplikasi dari siswa internasional turun 13,7%.

Di antara sekolah-sekolah bisnis di Amerika Serikat, 23% dari perguruan tinggi menunjukkan bahwa jumlah aplikasi “menurun secara serius”. Pengalaman dalam perusahaan startup yang telah bekerja selama dua tahun, keterampilan yang diasah dan pengalaman yang diperoleh bahkan jauh melebihi teori pendidikan disekolah bisnis.

Sehingga, banyak sekolah bisnis mulai melakukan inovasi kurikulum.Misalnya, menambahkan kursus populer dan praktis seperti analisis data besar dan manajemen logistik. Namun baik dalam hal pendapatan atau umpan balik dari employer, lulusan sekolah bisnis tetap menjadi rebutan dan sangat kompetitif di pasar talenta.  

Gaji rata-rata siswa lulusan sekolah bisnis di AS sekitar $115.000 per tahun. Selain MBA, gelar terkait sekolah bisnis lainnya seperti Magister Analisis Data, Magister Keuangan, Magister Akuntansi, gaji awal sekitar 75.000 dolar AS.

Menurut data survei, 90% dari 500 perusahaan top dunia memiliki rencana untuk merekrut lulusan sekolah bisnis. Lebih dari 85% pengusaha percaya siswa yang lulus dari sekolah bisnis telah mempersiapkan karier yang sukses. Bahkan perusahaan-perusahaan di Silicon Valley mulai mementingkan siswa lulusan sekolah Bisnis. Alasannya telah banyak startup awal mulai bertumbuh menjadi perusahaan yang lebih matang. Pengalaman manajemen mereka sangat berguna pada tahap ini.

Menurut analisis, perubahan dalam pendidikan bisnis dan jumlah siswa pelamar dari Amerika Serikat telah menurun drastis. Karena biaya yang sangat tinggi. Jumlah aplikasi siswa internasional juga menurun. Penyebab utamanya adalah masalah politik.

Di satu sisi, pemerintahan Trump secara konsisten menciptakan suasana yang kurang bersahabat dengan para imigran di masyarakat Amerika. Di sisi lain, kebijakan imigrasi yang semakin dipersulit. Prospek pekerjaan setelah lulus juga mengkhawatirkan.  Kombinasi faktor-faktor diatas membuat proyek sekolah bisnis tidak lagi menjadi favorit di mata siswa internasional.

Banyak sekolah bisnis peringkat teratas, mengalami penurunan aplikasi drastis. Misalnya, 50 sekolah bisnis teratas di AS mengalami penurunan hampir 90% dalam aplikasi program MBA selama dua tahun. Sementara Harvard Business School dan Stanford Business School mengalami penurunan sekitar 6% tahun lalu. Ini menunjukkan bahwa daya tarik sekolah bisnis Amerika telah menurun dalam persaingan untuk talenta terbaik. Sebaliknya, proyek sekolah bisnis Asia telah berkembang pesat.

Peningkatan jumlah aplikasi untuk program MBA Asian Business School telah melampaui sekolah bisnis di Amerika dan Eropa selama dua tahun berturut-turut. Di Tiongkok, jumlah aplikasi sekolah bisnis meningkat sebesar 5,2% pada tahun 2019. Jumlah siswa lokal meningkat 6,8%, dan jumlah aplikasi siswa internasional meningkat sebesar 3,9%.

Alasan utamanya adalah semakin banyak perusahaan multinasional yang mencari peluang pengembangan di kawasan Asia-Pasifik. Beberapa perusahaan yang berbasis di Asia telah mulai berkembang secara internasional. Sehingga, menciptakan ruang yang lebih luas untuk pengembangan talenta-talenta terbaik.  

Dalam Peringkat Sekolah Bisnis Global 2019 yang diterbitkan oleh Financial Times, di antara Top 100 sekolah Bisnis, hanya ada 15 sekolah berasal dari Asia. Di antara mereka, ada tiga sekolah bisnis dari Tiongkok. Seperti Sekolah Pascasarjana Bisnis Cheung Kong (pendirinya adalah orang terkaya di Hongkong namanya Li Ka Hsing), Sekolah Tinggi Ekonomi dan Manajemen Shanghai Jiaotong University, dan Fakultas Manajemen Universitas Fudan. Termasuk Universitas Peking dan Universitas Tsinghua menurut US News & World Report.

Tujuan pendidikan elit adalah meningkatkan kemampuan siswa untuk mengambil tanggung jawab sosial melalui pelatihan intensitas tinggi. Melatih mereka menjadi pemimpin yang dapat memikul tanggung jawab yang berat.

Tentu saja, kemampuan yang dibutuhkan para pemimpin mencakup banyak dimensi. Seperti kemampuan menemukan masalah, menyelesaikan masalah, kesadaran akan inovasi, wawasan dan sebagainya. Namun, ada lapisan kemampuan mendasar yang mutlak diperlukan, yaitu kemampuan memahami tuntutan dari berbagai kelompok. Kemampuan Ini bukan berasal dari buku teks, bukan dari guru, tetapi dari interaksi para siswa, interaksi antara siswa dan kelompok sosial.

Jumlah aplikasi dari siswa internasional untuk sekolah bisnis yang kian menurun di AS mengakibatkan pendidikan semacam ini cendrung memiliki perspektif yang tunggal. Atau Dalam kata Financial Times, “Kami sepertinya kembali ke abad 18, ketika para pemimpin hanya memahami masalah tunggal yang mereka hadapi.” Mengunci dalam dilema sendiri adalah suatu hal yang sangat buruk bagi seorang pemimpin.

Pada dasarnya, model pendidikan sekolah bisnis adalah pengajaran kasus atau study case. Kebanyakan kasus klasik berasal dari perusahaan Barat seperti Disney, Microsoft, McDonald’s. Hari ini, jika Anda ingin mempelajari kasus bisnis paling inovatif di Era globalisasi, Anda harus melihat ke Tiongkok.

Misalnya, bagaimana Cheetah Mobile Go internasional. Cheetah hanya menggunakan 20 orang untuk membuat produk internasional dengan pengguna aktif sebanyak 10 juta sebulan. Cheetah Mobile didirikan pada tahun 2010, dan Go Publik di NYSE di tahun 2014.

Perubahan dalam pendidikan Bisnis
Perubahan dalam pendidikan Bisnis mulai bergeser dari Barat ke Timur

Misalnya lagi, untuk ekspansi secara global kita harus melihat Huawei. Bagaimana mereka menyelesaikan globalisasi selangkah demi selangkah mulai dari produksi, operasi hingga penelitian dan pengembangan. Kita bisa memahami mengapa mereka ingin membangun pusat logistik di Meksiko, pusat keuangan di Mauritius. Lalu, Mengapa mereka menggunakan orang India khusus untuk bernegosiasi? Atau, menggunakan orang Rusia untuk menyelesaikan tantangan algoritma?

Secara singkatnya, ketika setiap perusahaan Tiongkok ingin memperluas bisnis luar negerinya, mereka pasti akan mencari sumber daya manusia atau karyawan lama Huawei.

Perubahan dalam pendidikan bisnis, sumber pengetahuan mulai bergeser dari pengalaman Barat ke pengalaman Asia.

Just like grandma says, perubahan dalam pendidikan bisnis Dalam jangka pendek adalah dampak dari faktor politik Perang Dagang AS-China. Tetapi dalam jangka panjang, kita juga dapat mengamati “variabel lambat” di balik fenomena ini. Dalam Pendidikan sekolah bisnis, sumber pengetahuan mulai bergeser. Dan ini adalah kesempatan untuk pendidikan di Asia.

Advertisements
Categories: Perubahan dalam pendidikan Bisnis

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: