Perusahaan AI mulai bangkrut

Perusahaan AI mulai bangkrut dikarenakan Valuasi yang terlalu tinggi, profitabilitas yang rendah dan kerugian terus menerus adalah masalah umum di antara AI unicorn di AS dan China. Salah satu diantaranya, Wave Computing, sebuah perusahaan chip AI yang terkenal di dunia akan bangkrut. 

Perusahaan tersebut telah memecat semua karyawan di China dan mengajukan permohonan perlindungan kebangkrutan di AS. Wave Computing mungkin akan menjadi perusahaan chip AI pertama di dunia yang mengajukan kebangkrutan selama Pandemi Covid-19.

Berita ini memang telah menggemparkan kalangan industri teknologi. Wave Computing sangat dipuji sebagai salah satu perusahaan AI paling cemerlang di dunia. Wave Computing Pernah dianggap memiliki potensi untuk bersaing dengan Raksasa seperti Intel dan Nvidia

Pada akhir tahun 2018 yang lalu, Wave Computing baru mengumumkan penyelesaian pendanaan Putaran E sebesar 86 juta dolar. Artinya, perusahaan tersebut telah mengakumulasi jumlah pembiayaan lebih dari 2 miliar dolar secara total.    

Perusahaan AI mulai bangkrut

Demikian pula halnya dengan AI Unicorn di China. Dua tahun yang lalu, kompetisi pembiayaan gila-gilaan tampaknya telah menjadi pertandingan olahraga yang kompetitif antara Dua Superpower. Catatan pembiayaan dikalangan industri AI China semakin memecahkan rekor. Namun, Saat ini situasi telah berubah tajam. “Saya tidak melihat proyek startup AI untuk waktu yang cukup lama,” kata seorang VC investor dari Beijing kepada komunitas investasi.              

Setelah tidak ada transfusi darah, tidak ada banyak pilihan bagi perusahaan AI. Pertama, bangkrut secara diam-diam, atau Kedua, berusaha mencari jalan untuk Go IPO. Namun, IPO itu tidaklah mudah. AI Unicorn seperti Megvii yang mencoba untuk listing di Hong Kong mengalami banyak tantangan.

Pada awal tahun 2020, Pandemi virus Corona mulai merebak di seluruh dunia. Wabah Penumonia juga mempercepat perusahaan AI mulai bangkrut, tetapi Wave Computing tidak diragukan lagi menjadi perusahaan chip AI pertama yang mengajukan kebangkrutan selama wabah.      

Kebangkrutan Wave Computing adalah lambang berakhirnya para startup AI yang telah membengkak gila-gilaan.

Pada tahun 2016, ketika sistem AI DeepMind dari AlphaGo yang kemudian diakuisisi oleh Google, mencetak kemenangan 4: 1 pertandingan catur GO melawan Pecatur Manusia asal Korea, Lee Sedol. Kemenangan ini kemudian memicu gelombang ledakan investasi global dalam kecerdasan buatan atau AI.

Dalam dua tahun kemudian, tidak ada tempat yang lebih semarak dari konferensi kecerdasan buatan. Konferensi AI tingkat internasional satu demi satu diselenggarakan. Adalah norma bagi perusahaan Teknologi Top Dunia untuk tampil di panggung bertema AI.

Di atas panggung, Para manajemen eksekutif Teknologi Raksasa bercerita dengan penuh gairah. Halaman PPT yang berisi konten penuh dengan semua jenis fantasi dalam dunia AI. Penonton di bawah panggung melihat dan mendengarkan dengan sangat teliti. Mereka takut akan ketinggalan kereta untuk Era berikutnya.       

Pada saat yang sama, para Boss Raksasa Internet terus menambahkan minyak di atas api tentang AI. Boss Baidu, Robin Li pertama-tama memutuskan untuk menaruh semua harapan “All in AI”, sementara Boss Tencent Pony Ma juga menekankan “AI in All”. Di susul Jack Ma yang meluncurkan rencana NASA dan mendirikan Akademik Damo. Strategi AI Huawei juga tidak ketinggalan. Tampaknya Era AI selalau dalam jangkauan.                

AI memang telah menjadi topik pembicaraan di seluruh lingkaran teman investasi. Beberapa tahun yang lalu, Banyak perusahaan Startup tidak memiliki apa-apa. Hanya dengan beberapa lembar PPT bisa mendapatkan Valuasi yang tinggi, selama perusahaannya diberi label “AI.” 

“Sebenarnya, kebanyakan orang tidak cukup memahami model keuntungan dari AI pada saat itu, tapi semuanya percaya teknologi ini jelas canggih dan keren. Ini adalah sebuah ide umum dari kalangan investor terhadap AI startups. Sehingga, tahun 2016-2017 dana pasar VC/PE China yang sangat memadai mengalir ke industri AI.                         

“Tahukah Anda, seberapa gila Investasi AI saat itu?”

Sense Time Technology yang didirikan pada tahun 2014 di Hongkong China, telah melonjak hingga US $2 miliar dalam Valuasi hanya dalam waktu tiga tahun. Pada bulan Juli 2017 Sense Time mengumumkan penyelesaian pembiayaan 410 Juta Dolar untuk putaran B, menciptakan Rekor Dunia AI untuk satu putaran Funding.

Pada April 2018, Sense Time kemudian menyelesaikan Funding US$ 600 juta untuk putaran C yang dipimpin oleh Alibaba Group, yang kemudian menciptakan rekor global dalam sekali pembiayaan bidang kecerdasan buatan. Sebulan kemudian, Sense Time Technology menerima US$620 juta dalam pembiayaan C+ round. Beberapa bulan kemudian, Sense Time sekali lagi menerima pembiayaan $1 miliar dari Softbank  dengan total valuasinya melonjak hingga $6 Miliar Dolar sebagai Startup AI terbesar Dunia.

Startup AI lainnya yang mendapat julukan sebagai “Empat Naga Kecil” perusahaan AI China seperti “Sense Time, Megvii, Yi Tu, dan Cloud Walk” teknologi juga terus mengumpulkan dana besar selama periode ini. Pada Juni 2018 , Cloud Walk Technology mengumumkan Funding sebesar 1 miliar yuan dalam putaran B+. Sedangkan, Yitu Technology juga mengumumkan pada bulan Juni 2018, mendapatkan pembiayaan sebanyak $300 juta Dolar.                         

Ini memang benar-benar langka dalam sejarah modal ventura China. Pada setiap kesempatan ada ratusan juta dolar sampai miliaran dolar yang diinvestasikan pada Perusahaan AI. Tahun 2018, merupakan “Tahun Fantasi bagi Perusahaan AI di China dan AS.”

“Tanpa investasi, berapa lama para Unicorn AI dapat bertahan?”

Persaingan Funding yang gila ini telah menyebabkan AI Unicorn menjadi ” gemuk ” dengan cepat. Pada akhir tahun 2017, CEO Innovation Works yang sekalian juga penulis buku terkenal “AI Superpower China, Silicon Valley and the New World Order”, Kai Fu Lee memprediksikan secara terbuka: “Proyek pembiayaan AI dimulai pada paruh pertama tahun 2017, cukup untuk membiayai pengeluaran selama 18 bulan kemudian. Diperkirakan, ada sebagian besar Perusahaan AI mulai bangkrut di akhir tahun 2018.”

Setelah itu, kekhawatiran mulai menjadi kenyataan satu per satu. Pada tahun 2018, kesulitan mengumpulkan dana di pasar primer pecah secara menyeluruh. Musim dingin modal mulai menyebar ke industri AI.         

Semua orang mulai menyadari bahwa AI adalah mitos serius. Pada akhir 2018, Skandal Terjemahan buatan dan Teknologi pengenalan Suara terbesar, iFlytek yang berpura-pura menjadi terjemahan robot AI. Meskipun kemudian diklarifikasi, Perusahaan Raksasa Pengenalan Suara AI dengan branding paling terkenal ini hampir jatuh di pasar saham. Bahkan “Sophia”, warga Robot pertama di dunia dan Duta Inovasi robot pertama untuk Program Pembangunan PBB, juga terlibat skandal Robot dengan pembicara manusia yang mengejutkan Dunia.

Funding atau pembiayaan besar-besaran untuk perusahaan AI adalah pedang bermata dua, yang secara langsung mendorong penilaian perusahaan AI ke tingkat yang tidak berani dibayangkan oleh para VC/PE.     

Perusahaan AI mulai bangkrut
Perusahaan AI mulai bangkrut (Image: Caixin Global)

Pada tahun 2019, Frost & Sullivan perusahaan Studi Marketing terkenal di Dunia merilis “Evaluasi Industri dan Vendor Perusahaan AI antara China-AS” menunjukkan dari tahun 2013 hingga 2018, investasi sektor AI di China jauh lebih tinggi dibanding di Amerika Serikat. Jumlah investasi China telah melampaui Amerika Serikat sejak tahun 2015. Tetapi, pada 2019, Jumlah investasi China di bidang AI menurun tajam. 

Tidak ada banyak waktu tersisa untuk para Unicorn AI di tahun 2020. Mereka dihadapkan dengan dua kenyataan, Go Publik atau Bangkrut.

Just like grandma says, Fakta telah membuktikan bahwa hanya memiliki teknologi tidak bisa menjadi “Jimat Pelindung” Startup AI. Sebaliknya, Bagaimana Cara memonetisasi teknologi adalah prioritas utama bagi perusahaan AI. Adegan kebangkrutan mungkin baru saja dimulai pada kelompok perusahaan AI di Dunia termasuk Indonesia.