Pilpres 2019 dan Bangkitnya Indonesia

Oleh: Ricky Suwarno

13 april 2019

Seiring dengan mendekatnya pilpres 2019, maka hari ini saya akan menulis secara dangkal tentang pesta demokrasi yang dirayakan setiap 5 tahun sekali di negara tercinta ini.

Saat ini, kenyataan pemikiran ekstrem agama dan kekuatan konservatif politik Indonesia telah menjadi karakteristik integrasi. Dan pembangunan dalam beberapa tahun terakhir di tanah air. Dua belah kandidat, baik kandidat nomor 01 Presiden Jokowi-Ma’ruf dengan kerja nyata di lima tahun ini, maupun kandidat nomor 02 Bapak Prabowo-Sandi dengan segala visi-misinya berusaha menyakinkan pemilih untuk kemenangan.

Sebenarnya, selalu ada jalan dan cara mencapai kesuksesan. Seperti halnya, pemilihan presiden AS. Ketika Obama mencalonkan diri dalam pemilihan yang dulu.

Dia menggunakan cara yang sangat unik. Yang menjadi kunci untuk memenangkan pemilihan. Bagaimana resepnya?

Tim kampanye Obama memikirkan suatu langkah yang unik. Yakni berdasarkan big data, mengirim surat dan email kepada semua calon pemilih. Dan meminta pemilih untuk mencari tahu berapa banyak orang, dengan nama yang sama dengan pemilih telah memilih Obama. Penerima email juga dapat meneruskan tautan ini ke teman-teman mereka. Metode email inilah yang menjadi kunci kemenangan Obama.

Caranya, seorang pemilih bernama Susan. Menerima email yang mengatakan bahwa ada banyak orang bernama Susan yang memilih Obama. Susan, yang menerima email itu, akhirnya memutuskan untuk memilih Obama juga. Tentu saja, selain karisma dan pesona Obama sendiri, yang paling penting adalah prinsip identitas sosial setiap manusia.

Apa itu prinsip identitas sosial? Konsep ini berasal dari psikologi evolusioner, di jaman kuno, kita manusia adalah makhluk yang suka hidup bersama. Suka berkumpul. Jika Anda berbeda dari kebanyakan orang, Anda akan dianggap sebagai akar penyebab penyakit. Agar tidak mengancam seluruh suku, semua orang akan mendiskriminasi dan menolak Anda. Dan bahkan mungkin membunuh Anda.

Karena itu, perilaku kita akan dipengaruhi oleh orang lain. Dan mencoba untuk konsisten dengan praktik orang lain. Terutama dengan orang yang kita sukai. Namun, prinsip identitas sosial bukanlah perkawanan yang sederhana. Untuk dapat bekerja efektif harus memenuhi tiga motivasi internal.

Misalnya, harus dapat membuat keputusan secara efisien. Mendapatkan pengakuan dari orang lain. Dan memandang diri sendiri dari perspektif positif.

Puluhan tahun yang lalu, saat pengumpulan pajak oleh pemerintah Inggris. Menurut hukum Inggris, Departemen perpajakan tidak menagih pajak dari pintu ke pintu. Melainkan warga negara sendiri yang harus membayar pajak tepat waktu. Tentu saja bisa diterka, banyak warga yang berhutang dan tidak membayar tepat waktu. Dan jumlah total pajak yang tidak dapat dikumpulkan setiap tahun bernilai 650 juta pound.

Departemen perpajakan memikirkan segala macam cara dan solusi. Seperti mengancam jika pajak tidak dibayar tepat waktunya, pajak akan berlipat ganda. Atau bunganya akan berlipat ganda. Atau bahkan, tuntutan hukum akan digunakan. Atau dipenjarakan.

Sayangnya, semua cara diatas tidak ada gunanya. Akhirnya, pemerintah Inggris meminta bantuan kepada sebuah perusahaan konsultan. Konsultan memberi saran agar pemerintah mencetak suatu kalimat pada surat pembayaran pajak.

Kata apa yang di cetak? Yang begitu ajaib khasiatnya?

Yakni, Berapa banyak orang yang telah membayar pajak tepat waktunya. Dan Jumlah ini cukup besar. Sehingga Ketika warga yang menerima surat pemberitahuan melihatnya, Wooow, ternyata ada begitu banyak orang yang telah membayar pajak tepat waktu. Jadi saya juga harus mengirimkan cek ke otoritas pajak secepatnya. Dan tidak boleh ketinggalan.

Tindakan ini tidak memakan biaya berapa banyak. Tetapi efek tarif pajak naik hebat dari 50%, menjadi lebih dari 85%. Dan akhirnya pemerintah menerima pajak pendapatan sebesar 2,1 miliar pound. Wow, can you imagine?

Mengapa kalimat seperti itu memiliki efek yang begitu besar? Jawabannya, prinsip identitas sosial. Ketika orang-orang menerima surat pemberitahuan pembayaran pajak, jika Anda melihat telah ada begitu banyak orang membayar pajak tepat waktu, itu adalah keputusan yang bijaksana untuk mengikuti arus besar. Ini adalah kebutuhan untuk membuat keputusan secara efisien.

Kedua, jika Anda konsisten dengan kebanyakan orang, Anda bisa memperoleh persahabatan dengan mereka dan memperluas lingkaran sosial Anda. Ini adalah kebutuhan untuk mendapatkan persetujuan identitas.

Pada dasarnya, kebanyakan orang tidak suka berhutang. Ketika melihat begitu banyak warga negara membayar pajak tepat waktu, mereka akan ikut membayar segera. Dan tidak ingin di cap label sebagai orang yang cuma suka enaknya, atau mengambil keuntungan belaka. Karena Membayar pajak dapat membentuk diri Anda menjadi warga negara yang bertanggung jawab. Yang merupakan pandangan positif dari kebutuhan Anda. Dengan cara ini, tiga motif psikologis manusia bisa diaktifkan.

Just like grandma says, Prinsip identitas sosial dapat diterapkan di segala bidang. Terlepas dari siapapun yang bakalan naik menjadi presiden baru di tahun 2019. Yang sesuai dengan harapan dan kehendak rakyat, pemerintahan baru harus selalu mengutamakan kepentingan rakyat diatas segalanya. Tidak ada tempat satu senti pun buat para koruptor di negeri ini. Hanya pemimpin yang jelas dengan visi-misinya, dengan hati yang tulus membangun dan bisa membawa saudara-saudara kita yang 30 juta jiwa keluar dari garis kemiskinan baru layak menjadi pemimpin di negeri sebesar Indonesia.

Dan tentu saja, pertahanan dan keamanan harus diprioritaskan. Negara yang aman dan stabil, maka perekonomian negara secara otomatis akan membaik. Dan menarik Banyak investor luar membawa teknologi maju dan talenta menanamkan modalnya ke Indonesia.

Advertisements
Categories: artificial intelligence indonesia, pilpres 2019Tags: , , , , , , ,

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: