RCEP sebagai kemenangan Multilateralisme

RCEP sebagai kemenangan Multilateralisme perjanjian dagang dunia. RCEP adalah kawasan perdagangan bebas tanpa Amerika Serikat, Uni Eropa, dan India. RCEP, Regional Comprehensive Economic Partnership berarti “Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional.” Perjanjian ini pada awalnya diprakarsai oleh Indonesia pada tahun 2011. Kemudian disetujui oleh 10 negara ASEAN lainnya. Di tambah China, Jepang, Korea Selatan, Australia, dan Selandia Baru. 

Penandatanganan kesepakatan RCEP oleh 15 negara kali ini sebenarnya sudah diputuskan pada akhir tahun lalu. Jadi Tidak banyak kejutan saat penandatanganan tahun ini. Namun, Terlepas dari ukuran ekonomi dan populasi, RCEP telah melampaui UE dan Area Perdagangan Bebas Amerika Utara.

Persetujuan penandatanganan RCEP sangatlah berliku-liku. Sampai pada akhir tahun 2019, Jepang mengatakan jika India tidak ikut, Jepang juga tidak akan menandatangani. Menurut beberapa pakar ekonomi, kali ini Jepang secara aktif menandatangani perjanjian, dikarenakan tekanan ekonomi dalam negeri karena wabah pandemi virus Corona. Termasuk Trump gagal terpilih kembali sebagai presiden AS.

Dalam hal ini, kita bisa memahami adanya persaingan yang jelas antara Amerika Serikat, Uni Eropa, dan Asia-Pasifik. Tiga Ekonomi utama di dunia dalam masalah zona perdagangan bebas.

RCEP sebagai kemenangan Multilateralisme

Untuk memahami pentingnya RCEP, tidak terlepas dari TPP dan CPTPP. Ketiganya melambangkan perjanjian perdagangan negara anggota yang mereka wakili. Pada Masa jabatan Presiden AS Barack Obama sangat aktif mempromosikan TPP. TPP adalah “Perjanjian Kemitraan Trans-Pasifik”. Ada 12 negara berpartisipasi dalam TPP saat itu. Diantaranya, Amerika Serikat, Kanada, Meksiko, Australia, Selandia Baru, Jepang, Vietnam, Singapura, Malaysia, dan Brunei, Chili, dan Peru.

TPP adalah perjanjian Manufaktur dan perdagangan khusus untuk mengisolasikan China dari perdagangan di dunia. Tujuan TPP untuk menempatkan AS di posisi teratas dalam pembagian kerja di rantai industri internasional. Jepang di kelas menengah ke atas. Bertugas menggantikan produksi kelas menengah dan bawah dari China ke Vietnam. Sedangkan, Kanada, Australia, Selandia Baru, Chili, Peru bertanggung jawab menyediakan bahan mentah.

TPP sebelumnya telah ditandatangani pada tahun 2016. Akan tetapi, ketika Trump terpilih sebagai Presiden AS langsung mengundurkan diri dari TPP di hari pertama. Apa yang disetujui oleh Obama, akan digulingkan oleh Trump satu persatu. Terpilihnya Trump sebagai presiden AS justru Anti-Globalisasi. Juga Anti-reformasi asuransi kesehatan yang dipromosikan oleh Obama.

Trump hanya memprioritaskan kepentingan Amerika Serikat di atas segalanya (MAGA). Industri manufaktur harus kembali ke Amerika Serikat. Bukannya pergi ke Asia Tenggara atau China.

Jadi cuma tersisa 11 negara, tanpa AS. Makanya, TPP di ubah menjadi CPTPP. CP singkatan dari ” komprehensif dan progresif “. Nama baru ini terdengar lebih keren. Tetapi tanpa Amerika Serikat, Organisasi tampak tidak berbobot. Apalagi  dampaknya terhadap perdagangan China juga sangat terbatas. 

Kini setelah Joe Biden terpilih menjadi presiden baru Amerika Serikat, salah satu prioritasnya adalah memulihkan CPTPP menjadi TPP kembali. Dan harus dipimpin oleh Amerika Serikat. Tapi Trump telah melukai hubungan antara Amerika Serikat dan mitra dagangnya selama empat tahun. Apalagi, ditambah epidemi Covid-19 di Amerika Serikat sangat parah. 

Kepercayaan mitra ekonomi dan perdagangan di pasar manufaktur dan konsumen AS telah  berkurang. Sebaliknya, keberhasilan China dalam pengendalian epidemi dan kinerja ekonomi begitu sukses. Negosiasi RCEP pun berlangsung sangat lancar. Sehingga, RCEP berhasil mencapai perjanjian bersama adalah hal yang wajar.

Perlu di ketahui, walaupun AS berusaha mengisolasikan China dalam perdagangan internasional ibarat “Mission Impossible”. China kini telah menjadi mitra dagang terbesar dari 135 negara di dunia. Sedangkan Negeri Paman Sam ini hanya menjalin mitra dagang dengan 55 negara.

Kesepakatan yang melibatkan investasi biasanya memiliki lebih banyak kendala. Misalnya, negosiasi TTIP ditakdirkan tidak berjalan mulus. Perdagangan Transatlantik dan Kemitraan Investasi (TTIP), adalah perjanjian perdagangan yang diusulkan antara Uni Eropa dan Amerika Serikat. Tujuannya untuk mempromosikan perdagangan dan pertumbuhan ekonomi multilateral AS dan Eropa.

Eropa menentang sangat keras terhadap TTIP. Mereka tidak ingin melihat perusahaan besar Amerika mendominasi pasar Eropa. Karena AS bermaksud menggantikan standar Eropa dengan standar kesehatan, keselamatan, dan lingkungan Amerika. Ketika Trump berkuasa, perjanjian itu mandek. Sekarang, pada dasarnya telah hilang.

Dalam hal ini, China sudah melakukan tindakan pencegahan dalam merespon TPP dan TTIP pimpinan AS. Seperti Program “Belt and Road” atau BRI yang lazim bagi China untuk menghubungkan Asia dan Eropa. RCEP di kawasan Asia-Pasifik. Perjanjian Perdagangan Bebas antara China-Jepang-Korea. Maupun, Perjanjian Investasi China-UE, dan seterusnya.

Mengapa RCEP dapat mencapai terobosan pada 2019 setelah negosiasi bertahun-tahun? Mengapa penandatanganan RCEP berjalan begitu lancar walaupun wabah pandemi menyebabkan penurunan ekonomi di berbagai negara tahun ini?

Hal ini berkaitan erat dengan Perang Dagang yang diluncurkan Trump pada tahun 2018 lalu. Akibatnya, pada 2019, ASEAN menggantikan AS sebagai mitra dagang terbesar kedua Tiongkok. Mitra dagang terbesar pertama dan keempat Tiongkok adalah Uni Eropa dan Jepang. 

Pada 2019, total perdagangan China dengan Amerika Serikat turun 10,7%. Namun meningkat 14% dan 8% dengan ASEAN dan UE. Selain itu, total perdagangan China dengan negara-negara di sepanjang ” Belt and Road ” meningkat sebesar 10,8%.

Dalam tiga kuartal pertama tahun ini, volume perdagangan antara Tiongkok dan ASEAN mencapai US$ 481,81 miliar. Meningkat 5% dari tahun ke tahun. ASEAN secara historis melampaui UE sebagai mitra dagang terbesar Tiongkok. Investasi Tiongkok di ASEAN meningkat sebesar 76,6%.

Setelah ASEAN mengintegrasikan China, Jepang, Korea Selatan, Australia, dan Selandia Baru dalam RCEP, RCEP menjadi bisnis perdagangan bebas paling besar. Suatu hasil yang saling menguntungkan bagi semua pihak.

Penerapan RCEP akan menghapus lebih dari 95% hambatan tarif, hambatan non tarif dan hambatan investasi. Hal ini diharapkan menjadi mesin penggerak untuk pemulihan ekonomi global di tengah dan akhir tahap epidemi.

RCEP sebagai kemenangan Multilateralisme
RCEP sebagai kemenangan Multilateralisme (Image: Global Times)

RCEP secara tidak langsung mengharuskan Indonesia untuk meningkatkan kualitas manufaktur dan SDM supaya bisa bersaing dikalangan anggota lainnya. Sementara itu, Pemblokiran AS terhadap China tidak hanya akan gagal, tetapi juga akan mempercepat Modernisasi China.

Just like grandma says, RCEP sebagai kemenangan Multilateralisme mungkin bukan kabar baik bagi India dan Taiwan. Sebaliknya, India dan Taiwan yang tidak termasuk dalam RCEP kali ini, justru akan merasakan tekanan yang lebih besar di masa mendatang. 

Di lain pihak, bagi AS sendiri, Donald Trump yang mengundurkan diri dari berbagai Organisasi Dunia dan, Provokasi Sekretaris Negaranya Mike Pompeo di mana-mana justru semakin mendekatkan negara-negara Asia-Pasifik dalam hubungan ekonomi dan perdagangan. Jadi, sangat Tidak mudah bagi Presiden Baru Joe Biden untuk memperbaiki hubungan antara Amerika Serikat dan Asia Pasifik di masa mendatang.

Apa Pendapat Anda

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.