Robot Wanita dan Teknologi Gender

Robot Wanita dan Teknologi Gender menurut Amanda Hess, seorang komentator budaya untuk The New York Times, adalah seorang pakar budaya gender. Amanda juga merangkap pembawa acara video, “Networking Amanda Hess,” untuk New York Times.  

Dalam episodenya beberapa waktu yang lalu, Amanda membahas tentang kata majemuk untuk Fembot atau “Female Robot”, alias Robot Wanita. Amanda Hess mengakui wanita  bahkan robot wanita pun tidak luput dari perlakuan tidak adil dalam Dunia manusia. Karena itu, teknologi belum tentu netral.  

Robot Wanita dan Teknologi Gender

Saat ini, memang telah banyak teknologi gender muncul di sekitar kita. Misalnya, karakter robot pria dalam budaya populer yang memiliki berbagai misi seperti mengeksplorasi Planet Mars, membantu manusia, bersosialisasi, melakukan penelitian ilmiah dan bahkan tindakan kriminal.  

Tetapi untuk robot wanita, tugas mereka kebanyakan melayani dan menyenangkan manusia. Terutama manusia pria. Tentu saja, ada juga robot wanita dengan kesadaran kepribadian, seperti karakter robot wanita di film “Her”, “Ex Machina” dan drama serial Amerika “Westworld”.  Namun, momen ketika mereka mulai memiliki pemikiran otonom juga merupakan awal dari mimpi buruk dalam pengaturan plot.

Amanda Hess percaya bahwa di bidang robotika, pembagian peran gender sangat mirip dengan masyarakat manusia. Meskipun kecerdasan buatan bertekad untuk membuat robot tampak nyata. Namun, untuk desain robot wanita, pengembang atau developer lebih cenderung membuat jenis produk yang secara fisik sempurna, tetapi kurang sempurna secara mental. Mereka tampil seksi, sederhana dan dingin saat disentuh.

Amanda mengkritik bahwa ini masih merupakan prasangka dan pemikiran kuno yang terbentuk sejak lama tentang wanita dalam masyarakat pria. Pria selalu terobsesi dengan fantasi yang dapat mewujudkan gadis impian mereka.

Seiring perkembangan teknologi, manifestasi dari fantasi ini berupa fembot alias Robot wanita. Robot Wanita dan Teknologi gender yang secara program dapat dikendalikan menurut preferensi pembuatnya sebagai standar perilaku.

Demikian pula, robot wanita telah berada di mana-mana dalam kehidupan kita sekarang ini. Seperti panduan elektronik di museum, suara pengumuman di stasiun kereta cepat atau bandara, siaran penyambutan di mal. Ataupun, Robot AI Jangkar berita wanita pertama dari China. Suara-suara mekanis yang melakukan pekerjaan servis sederhana dan berulang, Biasanya adalah wanita.  

Disamping itu, untuk peran yang Lebih berteknologi tinggi seperti Apple Siri, Amazon Alexa, dan Microsoft Cortana. Semua asisten pintar ini juga telah diperankan oleh feminin atau Wanita.  

Robot Wanita dan Teknologi Gender
AI Robot Pertama Jangkar berita China dalam bentuk Perempuan (Image: Daily Mail)

Ekspresi suara dan bahasa mereka juga dirancang sesuai dengan kesan gender stereotip. Misalnya, jika Anda meminta Siri untuk membuat sandwich. Siri akan menggunakan suara yang imut dan kaku mengatakan, “Mungkin Agak sulit, karena saya tidak mempunyai bumbu.”  

Ataupun, robot seks yang menurut fantasi perancang, tubuh Robot Wanita dibuat menjadi bentuk yang super sempurna dan berlebihan.

Just like grandma says, munculnya robot wanita dan teknologi gender dikarenakan pengaruh kehidupan dunia nyata manusia. Tetapi Fembot pada gilirannya berdampak pada nilai-nilai wanita manusia. Di era Internet, seiring perkembangan teknologi, teknologi seharusnya menjadi lebih netral.

Advertisements
Categories: Robot Wanita dan Teknologi Gender

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: