Advertisements

Semakin banyak Startup, semakin terbelakang suatu negara

Oleh: Ricky Suwarno

24 Juni 2019

Kewirausahaan, bagi seluruh rakyat mungkin bukan hal yang selalu baik. Sebaliknya, Mungkin merupakan simbol keterbelakangan suatu negara. Semakin tinggi indeks, semakin aktif kegiatan kewirausahaan di negara tersebut. Global Entrepreneurship Survey, melakukan penelitian dalam 10 tahun terakhir. Mengenai empat ekonomi Dunia, Amerika Serikat, China, Jepang dan Jerman.

Indeks aktivitas kewirausahaan awal Tiongkok jauh memimpin di depan. Lebih tinggi dari Jerman dan Jepang. Bahkan Amerika Serikat tidak sebanding dengan Tiongkok.

Dalam beberapa tahun ini, Ada beberapa Negara yang paling aktif dalam awal indeks kewirausahaan. Bukan AS. Bukan Israel. Bukan Jepang, atau negara-negara UE. Melainkan, beberapa negara miskin dengan PDB per kapita rendah. Seperti Kamerun, Uganda, Ekuador, Peru, dan Bolivia di Amerika Selatan. Afrika dan Amerika Selatan adalah kewirausahawan terbanyak saat ini. But why?

Negara dengan tingkat perkembangan ekonomi yang rendah, sistem jaminan sosialnya cendrung lemah. Tidak ada jaminan apapun dari pemerintah. Tingkat pengangguran sangat tinggi. Untuk keluar dari kemiskinan, mereka kebanyakan berwirausaha sendiri. Dengan kata lain, tingkat ekonomi berkorelasi negatif dengan aktivitas wirausaha. Semakin buruk ekonomi, semakin tinggi aktivitas wirausaha.

Lain halnya, dengan negara-negara Barat. Peningkatan kewirausahaan baik di Tiongkok maupun Indonesia, terutama disebabkan oleh perubahan kelembagaan berskala besar. Dan, banyak hubungannya dengan advokasi pemerintah. Seperti 1000 Startup Digital yang didukung oleh Pemerintah Jokowi. Norma-norma sosial memiliki dampak yang sangat besar pada kewirausahaan.

Saat ini, ada dua jenis kewirausahaan atau Startups di Indonesia. Pertama, Startups berkualitas tinggi. Dan satunya lagi, startup berkualitas rendah.

Pemerintah seharusnya tidak hanya peduli dengan jumlah Startups. Tetapi juga harus peduli dengan kualitas. Dari segi motivasi, Startups bisa dibagi atas: kewirausahaan berbasis kelangsungan hidup dan kewirausahaan berbasis peluang.

Misalnya, seorang karyawan di PHK. Untuk bertahan hidup, untuk melindungi diri sendiri, dia membuka toko dan berjualan di Tokopedia. Kewirausahaan ini berbasis kelangsungan hidup.

Di lain pihak, demi mengejar kekayaan, dan menciptakan peluang pasar baru. Adalah contoh startups berbasis peluang. Misalnya, Gojek dan Tokopedia.

Rasio kedua jenis wirausahaan ini menentukan kualitas Startups Indonesia. Semakin tinggi proporsi kewirausahaan oportunistik, semakin baik kualitas wirausaha. Atau, sebaliknya.

Misalnya, Pada tahun 2002 di Tiongkok. Lebih dari setengah wirausahawan adalah berbasis kelangsungan hidup. Dan kualitas wirausaha sangatlah rendah. Dalam 5-10 tahun terakhir, situasinya telah membaik. Kewirausahaan berbasis kelangsungan hidup telah berkurang sekitar seperlima hingga sepersepuluh.

Just like grandma says, kewirausahaan atau startups Indonesia mungkin sedang booming sekarang. Kelihatannya cukup bagus. Pada kenyataannya, kita akan menemukan banyak celah dan masalah. Terutama dalam kualitas kewirausahaan Startups. Seperti kata pepatah Charles Dickens tentang “Tale of Two Cities”, It was the best of times, and it was the worst of times”

“Ini adalah Era terbaik, Ini juga adalah Era terburuk.” Mungkin kata yang tepat untuk menggambarkan pasar kewirausahaan atau Startups Indonesia saat ini.

Advertisements
Categories: artificial intelligence indonesia, Kewirausahaan, StartupTags: , , ,

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: