Advertisements

Semangka dan Wijen

Oleh: Ricky Suwarno

30 Juni 2019

Hari ini hari Minggu. Hari beristirahat. Jadi saya akan bercerita. Mendongeng tentang sebuah kisah yang sering saya bicarakan kepada teman baik.

Ibu Wati melahirkan tiga anak laki-laki. Anak laki tertua baru saja lulus SMP. Bu Wati meminta anaknya tidak sekolah lagi. Melainkan, pergi bekerja untuk mencari nafkat. Anak ini menjadi pendendara Gojek. Dengan sepeda motor ibunya yang sudah tua.

Anak laki pertama menghasilkan Rp 6 juta sebulan. Cowok kecil ini sangat berbakti. Sebagian gaji dipakai dan ditabung sendiri. Selebihnya, dikasih ke ibunya setiap bulan. Ibu Wati merasa sangat gembira.

Beberapa saat kemudian, Putra keduanya menyelesaikan SMP. Bu Wati memintanya berhenti sekolah dan jadi gojek juga. Putra kedua kemudian mendapatkan penghasilan. Tentu saja, ibu Wati juga mendapatkan penghasilan kedua. Setiap kali dia mengirim seorang anak putra untuk bekerja, dia akan mendapatkan lebih banyak pendapatan. Tetapi hidupnya masih sangat susah. Dan dia tidak bisa melihat masa depan.

Lain halnya, dengan Pendiri Gojek. Yang mendapatkan 20% nilai surplus dari setiap pemotor gojek. Dan memiliki ratusan ribu pemotor gojek seperti anaknya. Sehingga, kekayaannya menjadikan gojek sebagai unicorn terbesar di Indonesia.

Cara berpikir ibu Wati sangat berbeda dengan pendiri Gojek. Sehingga Ibu Wati tidak bisa mengerti mengapa dia selalu miskin. Ibu Wati justru berpikir untuk memiliki sepuluh anak laki-laki. Jadi ada sepuluh penghasilan.

Untungnya, putra tertua dan kedua telah sekian waktu mengojek di luar. Dan mulai mengenali dunia ini. Mereka tahu tidak boleh mengandalkan pekerjaan kuli penghasilan 6 juta sebulan. Mereka memberitahu ibunya, bahwa Dia harus memberikan pendidikan tinggi terhadap adik terkecil.

Ibu Wati merasa tercerahkan. Dan membimbing putra ketiga melanjutkan ke perguruan tinggi. Sehingga, anak ketiga menjadi orang yang terampil. Bukan hanya mencari nafkah. Walaupun kita tahu, anak ketiga mungkin tidak bisa mencapai taraf pendiri Gojek, tetapi telah menjajaki awal yang lebih baik.

Pendiri Gojek adalah adalah pemungut semangka. Dan Ibu Wati adalah pemungut wijen. Berat semangka adalah 20.000 kali lipat dari wijen. Oleh karena itu, seberapa keras bekerja untuk memungut biji wijen, hampir tidak mungkin bisa memungut berat setara semangka.

Sebenarnya, banyak orang dalam kehidupan kita benar-benar tidak memahami philosofi ini. Misalnya, untuk menghemat uang 1000 perak, harus berjalan 10 menit. Atau, demi sedikit diskon harus shopping keluar kota, atau berjam-jam mencari 5% diskon di tokopedia.

Orang-orang ini tidak menggunakan waktu secara effisien. Tetapi, mereka telah terbiasa dengan tujuan hidup yang sangat rendah. Begitu mental seseorang menjadi sangat rendah, sulit bagi dia untuk meningkatkan diri mereka ke tingkat yang lebih tinggi.

Sering kali, banyak juga orang dengan kondisi keuangan yang lebih baik berusaha memungut wijen. Contohnya, Beberapa teman meminta saya untuk titip membawa beberapa barang mewah ke Indonesia. Produksi China mungkin kadang bisa menghemat 10-20% dari harga daripada di Indonesia. Ponsel atau tas mungkin bisa menghemat ratusan hingga jutaan Rupiah. Ini adalah pekerjaan memungut wijen. Karena membutuhkan banyak pemikiran untuk menghemat sedikit uang. Dan harus menitip orang lain. Sehingga harus berhutang budi kepadanya.

Saya tidak ingin mengomentari metode belanja seseorang. Tetapi maksud saya ketika pikiran seseorang diletakkan pada bagaimana memungut sebiji wijen, ia selamanya akan kehilangan peluang mendapatkan semangka.

Hal ini tidak hanya terjadi pada individu, tetapi juga pada perusahaan. Misalnya, Yahoo. Yang telah mengembangkan banyak layanan Internet yang tak terhitung. Tetapi tidak ada satu pun dari mereka yang menduduki peringkat nomor satu di dunia. Mereka mencopas dengan keuntungan yang sangat terbatas. Dan pada akhirnya, mereka kalah dan mundur dari pasaran.

Mental dan cara berpikir Orang yang memungut wijen dan semangka, sangatlah berbeda. Pemungut semangka tidak tergoda oleh keuntungan kecil. Mereka selalu melihat jangka panjang.

Ketika Steve Jobs kembali ke Apple lagi (sesudah diusir dari perusahaannya sendiri), ia menghentikan banyak projek yang berpenghasilan wijen. Dan menyisakan beberapa projek digital yang akhirnya mengubah Apple menjadi buah Semangka gede yang kita kenal hari ini.

Sayangnya, sebagian besar pemikiran orang masih berhenti pada cara memungut wijen. Namun, justru karena hal inilah yang memberikan peluang besar bagi kita. Karena jumlah semangka jauh lebih sedikit dibanding biji wijen di dunia ini.

Just like grandma says, kita dapat memberi tahu lebih banyak orang tentang rahasia ini. Jangan takut mereka akan datang merebut semangka darimu. Karena kebanyakan orang masih akan memungut biji wijen. Dan lama kelamaan akan menjadi kebiasaan mereka. Dan akhirnya, semangka akan tersisa buat kita. Semoga Anda bisa memungut semangka gede dalam hidupMu.

Advertisements
Categories: artificial intelligence indonesia, Semangka dan wijenTags: , , ,

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: