Advertisements

Siapa bilang gajah tak bisa menari

Oleh: Ricky Suwarno

Beberapa saat yang lalu, salah satu perusahaan telekomunikasi terbesar Tiongkok, ZTE, menaiki roller coaster yang deg-degan. AS mengancam untuk tidak menjual chips lagi untuknya. Dan tentu saja, ini adalah salah satu cara Donald Trump dalam perang dagang melawan Tiongkok.

Meskipun alarm telah dicabut, tetapi insiden ini telah mengingatkan orang Cina bahwa perkembangan ekonomi mereka yang besar, ada sebagian besar berdasarkan teknologi yang disediakan AS.

Bila AS mencabut fondasi teknologi ini, perusahaan gede kayak ZTE dengan omzet lebih dari usd100T per tahun, bagaikan bangunan pencakar langit yang runtuh dalam sekejap. Dan lebih kejamnya lagi kalau AS mencabut dan tidak menjual lagi chips processing untuk semua perusahaan IT Tiongkok, bisa dibayangkan betapa bahayanya terhadap ekonomi Tiongkok.

Mungkin ada sebagian besar orang Cina beranggapan, dengan pasaran yang besar, dan investasi yang gede pasti bisa menciptakan chip tersendiri. Saya yakin orang yang beranggapan demikian mungkin kurang pengetahuan, atau terlalu memandang rendah pemerintahan Beijing. Apa yang bisa terpikirkan oleh sekelompok orang ini, pasti sudah terpikir jauh di hari-hari sebelumnya.

Tahukah anda bahwa teknologi dan lingkungan pasar yang bagaimana baru bisa menciptakan universal chip seperti intel atau Nvidia. Pemerintah tahu bahwa dalam waktu dekat mereka tidak memenuhi persyaratan untuk itu.

Sebenarnya, pada tahun 1999, pemerintah Beijing pernah mengaktivitaskan projek chip. Dan menghabiskan ratusan juta usd. Sampai akhirnya, di tahun 2011 tanpa hasil.

Kesulitan dalam teknologi adalah salah satu penyebab. Tetapi masalah yang utama, adalah tidak ada paket software atau perangkat lunak terkait. Bahkan walaupun chip sudah terciptakan, tetapi bila masih tidak dilampirkan dengan software pasti tidak ada yang bersedia memakai. Tidak ada pemakai, pasti tidak bisa membuat kemajuan. Di masa lalu, perusahaan giant kayak IBM, Microsoft ataupun intel juga pernah mengalami kegagalan serupa.

Dalam hal ini, kita bisa melihat jelas bahwa chip tidak hanya sirkuit terintegrasi. Inti dasarnya adalah menciptakan jaringan industry secara global. Bagian yang tersulit bukanlah pada teknologi chip itu sendiri. Tetapi penciptaan kembali suatu jaringan.

Sama seperti Wechat, atau Facebook. Bila anda mengembangkan software aplikasi yang teknologinya jauh lebih baik dari Wechat atau FB. Anda masih tidak dapat mengalahkan mereka. Karena esensi dari Wechat bukanlah produk. Tetapi jaringan orang. Karena walaupun Anda memiliki inti teknologi produk, Bila migrasi jaringan tidak teratasi. Sama dengan nol.

Betapa sulitnya misi menciptakan chip sendiri.

Pertama-tama, harus Melewatkan semua hak paten chip yang ada, membangun CPU sendiri. Membangun platform pengembangan sendiri. Merancang system operasi yang tersedia dan software dasar. Mengharuskan seluruh system beroperasi sepenuhnya. Dan setingkat dengan industry chip internasional. Artinya Anda harus melakukan kembali pekerjaan seperti dari intel ke Microsoft atau perusahaan besar lainnya dari semula. Ini ibarat menyalin dalam beberapa generasi. Dan, kemungkinan untuk berhasil juga terlalu kecil.

Lalu bagaimana. Apakah harus selalu mengangtungkan diri atas AS. Dan Senantiasa di cekik leher.

Industry chip adalah jaringan global. Cina adalah salah satu bagian yang sangat penting. Bila AS ingin memotong penyediaan chip untuk China, pada dasarnya bukan hanya menghancurkan ekonomi China. Melainkan menghancurkan ekonomi dunia. menghancurkan ekonomi AS sendiri. Karena AS sendiri juga bagian dari jaringan ini.

Berdasarkan statistic terakhir, lebih dari 54% chip dunia di jual ke China. Dimana Menghasilkan lebih dari usd 200 milyar perdagangan setiap tahun bagi AS. Melebihi minyak dan komoditas lainnya. AS menuntut China untuk lebih banyak membeli dalam perang dagang AS-China. Jadi kalau mencekik leher ekspor chip ke TIongkok, berarti bertentangan dengan kepentingan AS sendiri.

Ya, harus di akui, dalam soal chip, AS memang lebih kuat dibanding China. Namun dalam jaringan nilai, yang kuat belum tentu bisa menindas yang lemah. Mengapa? Saling ketergantungan. Inilah makna persaingan dasar jaringan nilai. Misalnya dalam pasar tenaga kerja, majikan pada dasarnya kuat. Tenaga kerja lebih lemah. Namun jika hubungan kerja yang sangat interdependen, masalah ini menjadi terbalik.

Sebagai contoh lagi, seorang majikan mempekerjakan baby sitter. Mungkin majikan terlihat lebih banyak duit karena mampu memakai baby sitter. Tetapi kenyataannya siapa yang kuat, dan siapa yang lemah. Bila keluarga sangat mengantungkan kepada baby sitter ini, berarti majikan lebih lemah. Karena baby sitter bisa mencari kerja baru dengan gaji yang hampir sama. Tetapi bagi majikan ini tatanan kehidupannya langsung lumpuh.

Jadi bila China membuat chip sendiri, berarti menendang AS keluar dari jaringan industry chip global. Tetapi dari perspektif AS, China telah mengisolasi diri dari jaringan industry chip global juga. Hal ini tidak mungkin terjadi. Karena jaringan itu saling menggantungkan. Siapapun tidak bisa terlepas satu sama lain.

China selalu takut suatu hari AS tidak lagi menjual chip kepadanya. Dan bila China menciptakan jaringan chip tersendiri, orang AS tidak lagi membeli alat elektonik mereka. Kerugian AS akan jauh lebih kecil. Karena chip buatan China hanya bisa dipakai oleh China sendiri. China akan kehilangan pasaran global dalam jaringan nilai ini. China adalah Negara besar, dan harus menjadi pemain dunia. Jadi kerugian nantinya sangatlah tidak layak bagi mereka. Jadi apa cara China dalam mengatasi masalah ini.

Berdasarkan pengamatan saya, China akhirnya menggabungkan diri dengan jaringan ini. Meningkatkan ketergantungan AS terhadap jaringan nilai ini terhadap mereka. Kedua, menunggu kesempatan transformasi besar, dan tancap gas melewati tikungan. Untuk berdansa dengan gajah, tidak perlu menggantikan gajah. Melainkan hanya dengan menciptakan semakin ketergantungannya pada kita. Bagaimana caranya? Yah, lebih banyak terlibatlah. Dengan lebih banyak berpartisipasi, jaringan ini pasti akan ditugaskan pada kita.

Inilah inti perkembangan China dalam 40 tahun ini. Terlibat semakin banyak dalam jaringan dan distribusi global. Buktinya, Huawei bisa tumbuh menjadi produser dan designer chip nomor 7 terbesar di dunia.

Singkatnya, like my grandma says, tidak peduli seberapa lemah pada awalnya. Logika permainan untuk bisa berdansa dengan gajah adalah, bergabung dengannya. Bantu dia. Menjadi bagian penting darinya. Ciptakan ketergantungannya pada kita. Tunggu peluang transformasi. Dan lingkungan eksternal. Dan kemudian cobalah dapatkan kendali.

Nasib dan peluang suatu Negara seperti ini. Perusahaan juga seperti ini. Dan begitu pula kita sebagai individu.

Semoga sharing ini bisa menjadi inspirasi bagi perkembangan Negara kita. Belajar dari pengalaman orang lain. Sampai kita akhirnya menjadi raksasa.

Advertisements
Categories: artificial intelligence indonesia, Bekraf, Big data, Blockchain, Data, Huawei, IoT, Kecerdasan buatan, Machine learning, Making Indonesia 4.0, Presiden Jokowi Widodo, Smart cityTags: , , , , , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: