Advertisements

Siapakah yang harus panik? Pembeli atau Penjual?

Oleh: Ricky Suwarno

4 Juli 2019

Perang Dagang AS-China telah berlangsung satu tahun. Banyak orang khawatir Donald Trump akan “mencekik leher” perusahaan-perusahaan China dalam ekspor produk chipset. Sebaliknya, produsen chipset seperti Qualcomm atau Intel juga sangat khawatir. Bila suatu hari China tidak lagi membeli produk mereka.

Bahan inti untuk membuat chipset adalah semikonduktor. Pada tahun 2018, nilai semikonduktor yang diimpor oleh China adalah $ 312 miliar dolar. Dua pertiga dari penjualan semikonduktor global. Setengahnya untuk kebutuhan dalam negeri China. Selebihnya, untuk produk ekspor. Boleh dibilang ketergantungan China terhadap chipset import cukup besar.

Dalam hal penjualan, perusahaan AS mensupplai setengah dari pasar semikonduktor chipset global. Sekitar $ 230 miliar Dolar. Namun, menurut statistik Departemen Perdagangan AS, AS hanya mengekspor 10 miliar dolar chipset ke China. Alasannya, sebagian besar produk chipset dirancang di AS. Diproses di Taiwan. Dikemas di Malaysia. Dan akhirnya diekspor ke China.

Karena itu, jika China ingin mengenakan tarif semikonduktor chipset yang diekspor AS, itu tidak membuat AS merasa sakit. Karena secara nominal hanya 10 miliar dolar. Namun, Asosiasi Industri Semikonduktor AS memiliki metode statistik lain. Menurutnya, nilai total produk chipset AS yang diekspor ke China adalah 100 miliar dolar. Dengan kata lain, setengah dari total penjualan chipset AS diekspor ke China.

Melalui dua set data ini, sebenarnya industri chipset antara China dan AS saling bergantungan. Dan ketergantungan yang sangat tinggi.

“Jadi, Haruskah China panik di cekik leher pada masalah chipset ini?”

Di bidang semikonduktor, rantai pasokan global telah lama terbentuk. Jika China harus menghancurkannya sekarang, membangun kembali rantai pasokan tidak bergantung pada AS, atau sebaliknya, Amerika Serikat tidak bergantung pada China adalah hal terburuk bagi kedua negara. AS-China itu ibarat suami-istri. Belahan jiwa atau “Garwo” yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain. AS-China sudah menjadi satu kesatuan jiwa. Yang terikat. Makanya dalam menjalani hubungan bilateral harus saling menguatkan dan saling menjaga kebersamaan. Bukannya, saling melukai atau menyakiti. Karena kalau dua raksasa (suami-istri) ini berkelahi, pasti membawa dampak pada anak-anaknya (negara lain didunia).

Ini adalah hipotesis salah satu pihak tidak berpikir rasional. Seperti Perang Dagang yang dilancarkan oleh DT saat ini.

Selama bertahun-tahun, industri semikonduktor China tidak memiliki tata letak nasional. Pangsa pasar globalnya kurang dari 5%. Harga produk keseluruhan tidak terlalu tinggi. Namun, ketika menghadapi Perang Dagang, China tidak punya pilihan. Makanya, hanya dapat menggunakan produk mereka sendiri.

Ambil Huawei sebagai contoh. Huawei mempunyai $ 70 miliar Dolar budget import setiap tahun. 11 miliar untuk perusahaan AS. Jika terhadang, Huawei memiliki ban cadangan sendiri. Di sisi lain, Huawei juga memiliki pemasok lain dari perusahaan China sendiri.

Selama Huawei bersedia, ia dapat sepenuhnya memobilisasi perusahaan China lainnya untuk membantunya.

Industri mikroelektronika China memiliki satu karakteristik. Meskipun kurang memenuhi standar, tetapi China memiliki segala rantai pasokan yang paling lengkap. Namun, jika benar-benar perlu untuk membangun rantai pasokan global tanpa Amerika Serikat, masalah ini sangat berisiko.

So, Just like grandma says, dari sudut pandang data statistik, China telah membeli dua pertiga dari chipset dunia. Sepertiga untuk penggunaan sendiri. Setengah dari chipset yang dijual AS kepada dunia, di beli oleh China. Kedua negara saling bergantungan.

China sangat khawatir perusahaan AS akan memutuskan persediaan chipset untuk mereka. Sebaliknya, perusahaan AS juga sangat khawatir China tidak lagi membeli chipset dalam skala besar. Jadi, bila memisahkan suami-istri ini secara paksa, akan sangat berbahaya bagi kedua belah pihak. Anak-anaknya akan terlantar (Qualcomm, Intel atau Huawei). Sehingga, kurang memungkinkan terjadi pemutusan penyediaan chipset berjangka panjang. Itulah sebabnya pada saat pertemuan G20 di Osaka Jepang minggu lalu, DT mengumumkan untuk mengijinkan perusahaan chipset seperti Qualcomm terus menjual ke Huawei.

Jadi, siapa yang harus panik?Pembeli atau Penjual?

Advertisements
Categories: artificial intelligence indonesia, ChipsetTags: , , , , ,

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: