Advertisements

Sikap dan mental terhadap AI

Oleh: Ricky Suwarno

20 maret 2019

Dengan kelahiran komputer digital elektronik, dan kode yang dihasilkan telah tersebar di seluruh dunia. Pada dasarnya, sejarah komputasi dapat dibagi menjadi dua tahap. Seperti alkitab. Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.

Para pionir Perjanjian Lama menyediakan logika dasar. Seperti Thomas Hobbes. Dan Gottfried Wilhelm Leibniz. Sedangkan, Perintis Perjanjian Baru termasuk Alan Turing. John von Neumann. Claude Shannon. Dan Norbert Wiener. Yang membawa kecerdasan ke mesin.

Alan Turing pernah memikirkan bagaimana cara membuat mesin lebih pintar.

John von Neumann, ingin tahu apa yang dibutuhkan mesin untuk mencapai replikasi diri.

Claude Shannon, pernah meneliti apa yang perlu dilakukan, agar mesin bisa berkomunikasi dengan lancar walau dalam gangguan.

Sedangkan Norbert Wiener, merenungkan fungsi kontrol mesin.

Pada tahun 1949, pertama kalinya, manusia, Wiener memperingatkan. Sistem kontrol suatu saat mungkin berada di luar kendali manusia.

Pada saat itu, generasi pertama dari program penyimpanan, komputer digital elektronik, baru saja dirilis. Sistem ini membutuhkan operasi langsung oleh pemrogram manusia. Yang akhirnya melemahkan kekhawatiran Wiener. Kalau programmer mengendalikan mesin, di mana masalahnya?

Sejak itu, perdebatan tentang risiko kontrol otonom telah berputar di sekitar perdebatan tentang kontrol mengontrol. Dan keterbatasan mesin yang dikodekan secara digital. Meskipun kemampuan mesin luar biasa. Tetapi tidak ada bukti mereka benar-benar bisa berpikir. Tetapi, demi keamanan manusia, dan penjagaan was was. Bagaimana jika perhitungan digital digantikan oleh sesuatu yang lain?

Dalam 100 tahun terakhir, ilmu elektronik telah mengalami dua perubahan yang sangat mendasar: Dari analog ke digital; dan Dari tabung vakum ke perangkat padat.

Dua perubahan yang hampir bersamaan ini tidak berarti bahwa mereka tidak dapat dipisahkan. Sama seperti perakitan tabung vakum juga dapat digunakan untuk menerapkan perhitungan digital. Perhitungan analog juga dapat diimplementasikan di bawah perangkat solid-state. Meskipun tabung vakum sudah punah secara komersial, tetapi, perhitungan simulasi masih berkelangsungan.

Sebenarnya, Tidak ada perbedaan tepat antara perhitungan analog dan perhitungan numerik.

Secara umum, perhitungan digital selalu berkaitan erat dengan bilangan bulat. Urutan biner. Logika deterministik. Dan kenaikan diskrit. Sementara perhitungan analog berkaitan dengan bilangan real. Logika non-deterministik. Dan fungsi kontinu. Termasuk waktu-waktu sebagai kontinum di dunia nyata.

Banyak sistem yang beroperasi bisa melintasi perhitungan analog dan digital. Sebagai contoh, sebuah pohon yang mengintegrasikan sejumlah besar input. Yang dianggap sebagai fungsi berkelanjutan. Tetapi jika Anda menebang pohon itu, Anda akan menemukan bahwa dia terus menghitung tahun secara numerik.

Dalam komputasi analog, kompleksitas ada dalam topologi jaringan. Bukan dalam kode. Informasi, seperti tegangan listrik dan frekuensi pulsa relatif, adalah fungsi kontinu yang diperlakukan sebagai nilai. Bukan operasi logis pada string bit diskrit.

Perhitungan digital tidak bisa mentolerir kesalahan. Atau ambiguitas. Dan mereka bergantung pada koreksi kesalahan pada setiap langkah proses. Sedangkan, Perhitungan analog dapat mentolerir kesalahan. Dan membiarkan kesalahan itu muncul.

Alam semesta menggunakan pengkodean digital untuk menyimpan. Menyalin Dan menggabungkan kembali urutan nukleotida. Tetapi kecerdasan dan kontrol alam bergantung pada perhitungan analog. Yang berjalan dalam sistem saraf. Sistem genetik setiap sel hidup adalah suatu program komputer yang tersimpan. Tetapi otak tidak.

Sekarang segalanya telah berubah: dari logika bawah, Drones, mobil otonom dan telepon seluler, mendorong pengembangan mikroprosesor neuromorfik yang secara langsung mewujudkan saraf pada silikon. Dan substrat potensial lainnya. Bukannya, jaringan saraf tiruan;

Sedangkan dari logika atas, perusahaan terbesar dan tersukses didunia, saat mereka menembus dan mengendalikan dunia, semakin beralih ke komputasi analog.

Dalam kecerdasan komputer digital, komputasi analog secara diam-diam telah menggantikan komputasi digital. Sama seperti setelah Perang Dunia II, komponen analog seperti tabung vakum dirancang ulang untuk membuat komputer digital. Sistem hibrid analog / digital yang dihasilkan memproses bit stream bersama. Seperti halnya dalam tabung vakum. daripada memproses stream secara terpisah ketika bit stream diproses oleh perangkat state diskrit. Bit adalah elektron yang baru.

Munculnya kecerdasan telah menarik perhatian Homo sapiens. Tetapi yang harus kita khawatirkan adalah munculnya pengontrolan itu sendiri.

Misalnya, pada tahun 1958 muncul kesadaran orang Amerika untuk menjaga seluruh Amerika Serikat dari serangan udara. Untuk membedakan pesawat musuh, selain mengandalkan jaringan komputer, dan stasiun radar peringatan dini. Semua peta lalu lintas udara komersial diperbarui secara real time. Dengan membentuk sistem SAGE (lingkungan permukaan tanah semi-otomatis). SAGE, pada gilirannya, melahirkan Sabre. Suatu sistem reservasi komprehensif pertama untuk pemesanan penerbangan secara real time. Sabre dan generasi berikutnya segera berhenti menjadi peta yang bukan hanya dengan kursi kosong. Tetapi telah menjadi sistem yang mulai mengontrol lokasi penerbangan. Dan waktu pesawat, melalui intelijen yang tersebar.

Sebenarnya, Model kontrol sistem tidak terletak di bagian mana pun. Karena sistem itu sendiri sudah ada di sana.

Saat Ini, dekade pertama abad ke-21. Bayangkan Anda ingin melacak kompleksitas hubungan secara real time. Bagi mahasiswa diperguruan tinggi yang lebih kecil, Anda mungkin dapat membangun pusat data kehidupan sosial mereka. Dan memperbarui setiap saat. Tetapi universitas yang lebih besar, pemeliharaannya akan sangat mustahil.

Pendekatan yang lebih baik adalah, meng-host salinan sederhana. Kode semi-otonom secara lokal. Memungkinkan jaringan sosial untuk memperbarui sendiri. Kode ini bisa dijalankan oleh komputer digital. Tetapi perhitungan simulasi yang dilakukan oleh sistem secara keseluruhan jauh melebihi kompleksitas kode yang mendasarinya. Hasilnya, model pengkodean frekuensi nadi yang dihasilkan oleh masyarakat tentangnya, akhirnya menjadi gambaran sosial yang nyata. Ini bisa menyebar luas di seluruh kampus dan di seluruh dunia.

Umpamanya lagi, Anda ingin membangun sebuah mesin untuk menangkap semua yang sudah diketahui manusia. Dengan adanya Hukum Moore, kita tidak butuh waktu lama untuk mendigitalkan semua informasi di dunia. Anda tinggal memindai setiap buku fisika. mengumpulkan setiap konten. Mengumpulkan video selama 49 tahun hanya setiap 24 jam. Dan melacak lokasi orang. Dan perilaku secara real time. Tetapi bagaimana memahami arti informasi ini?

Bahkan di zaman ketika segala sesuatu telah didigitalkan. ini bukanlah sesuatu yang dapat didefinisikan oleh logika yang ketat. Karena makna manusia tidak secara logis.

Sebelum Anda menyadarinya, mungkin sistem Anda tidak hanya mengamati dan memetakan makna sesuatu. Tetapi juga akan mulai membangun maknanya. Seiring perjalanan waktu, dia akan mengontrol makna atau definisi yang diinput. Seperti peta lalu lintas mulai mengontrol aliran lalu lintas. Walupun kelihatannya, tidak ada yang mengendalikannya.

Ada tiga hukum dalam kecerdasan buatan, yang sulit dipahami manusia.

Hukum Ashby, oleh W. Ross Ashby. Penulis Design for a Brain. Yang menyatakan, bahwa sistem kontrol yang paling efektif harus serumit sistem yang dikontrolnya.

Hukum kedua, diuraikan oleh John von Neumann. Definisi sistem yang kompleks adalah bahwa ia merupakan deskripsi perilaku yang paling sederhana. Model lengkap yang paling sederhana dari suatu organisme adalah organisme itu sendiri. Mencoba menyederhanakan perilaku sistem, ke bentuk deskripsi apa pun, akan membuat segalanya lebih rumit, bukan lebih sederhana.

Hukum ketiga, menyatakan bahwa sistem apa pun yang sederhana untuk dimengerti tidak cukup kompleks untuk beroperasi secara cerdas. Dan sistem apa pun yang rumit, sehingga dapat beroperasi secara cerdas, adalah rumit dan sulit untuk dipahami.

Sebagian pakar menganjurkan, sebelum kita memahami kecerdasan, kita tidak perlu khawatir tentang kecerdasan manusia yang super, yang bakalan muncul dari mesin. Hukum ketiga ini, mungkin memberikan ketenangan pikiran bagi kebanyakan orang.

Tetapi ada juga, celah dalam hukum ketiga. Sesuatu yang tidak dipahami, sangat berkemungkinan bisa membangunnya sendiri. Kita tidak perlu sepenuhnya memahami cara kerja otak. Tetapi, kita dapat membangun sesuatu dengan otak yang berfungsi normal. Ini adalah celah yang tidak peduli berapa banyaknya pengawasan oleh programmer, dan penasihat terhadap etika atas algoritma buatan mereka.

Just like grandma says, Kecerdasan artifisial yang “baik” adalah mitos. Hubungan kita dengan kecerdasan buatan atau AI akan selalu menjadi masalah iman. Dan ini tidak perlu dibuktikan.

Bagi mereka yang berkeyakinan bisa menciptakan mesin untuk mengendalikan semua umat manusia, respons atau balasan alami dari semesta, adalah menjadikan mesin itu mengendalikan pencipta itu sendiri. Istilahnya, senjata makan tuan. Karena saya sangat yakin hukum alam masih berlaku walau dalam dunia AI nanti. Manusia ataupun AI, adalah bagian alam. Diberkahi dengan akal yang aktif. Yang membedakannya dari semua bagian lain dari alam semesta. Manusia hanya mampu membentuk kehendaknya sesuai dengan pengertian akalnya. Dunia ini diatur oleh tatanan Ketuhanan. Seluruh masyarakat dunia ini diatur oleh akal ketuhanan. Hukum ketuhanan adalah yang tertinggi. Dan Abadi.

Advertisements
Categories: artificial intelligence indonesia, The third law future of computing is analogTags: , , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: