Sisi gelap media sosial

Sisi gelap media sosial Facebook, Twitter maupun Instagram berkembang pesat seiring semakin maraknya pengguna internet melalui smartphone. Li Ziqi, youtuber cantik asal Si chuan-Tiongkok menjadi salah satu berita terpanas di dunia dan di Weibo Twitternya China. Alasannya, internet celebrity dan gadis pasca 90-an berhasil menarik perhatian dunia. Dan tentu saja, membawa kontroversi.

Didepan kamera, gadis desa ini memotret setiap sisi kehidupan pedesaan dengan indah. Bagaikan lukisan dan puisi. Dari Memasak, menyeduh dan menyiapkan kompor, semua kegiatan sehari-hari di pedesaan tidak tampak membosankan di depan kameranya. Sebaliknya, penuh dengan keindahan dan menyenangkan.

Mereka yang menyukai videonya mengatakan Li ziqi telah memfilmkan kehidupan pastoral puitis budaya tradisional Tiongkok. Mereka yang tidak suka, mengatakan Pasti ada tim di belakangnya dan memakainya untuk komersial bisnis. Kedua belah pihak berdebat sengit. Hasilnya, topik “Mengapa Li Ziqi populer di seluruh dunia” dan “Apakah Li Ziqi sebuah Output budaya China” masing-masing telah memperoleh 1 miliar dan 790 juta “like”.

Sisi gelap media sosial

Setiap kali ada perselisihan seperti itu, pada kenyataannya, bukan perselisihan itu sendiri yang menarik perhatian Ricky. Melainkan, ekspresi emosional netizen selama perselisihan. Itulah, sisi terang dan sisi gelap media sosial.

Kita mungkin sering mendiskusikan mengapa emosi dan kemarahan orang-orang menjadi begitu berat ketika mereka online. Karena masing-masing tidak saling kenal, jadi tidak perlu ada kekhawatiran dalam melampiaskan emosi?  

Atau, apakah emosi yang tertekan terlalu lama dalam kehidupan nyata dan melampiaskannya di sosmed?

Fenomena ini tidak hanya terjadi di China. Tetapi juga di Indonesia. Di seluruh dunia. Misalnya, perdebatan politik AS antara partai demokrasi dan partai Republik di media sosial jauh lebih “keterlaluan” daripada di kehidupan nyata.

Edisi Desember 2019 Majalah Atlantic Monthly menerbitkan sebuah artikel menarik. Artikel ini menjelaskan fenomena yang disebut “Dark Psychology of Social Networks atau Sisi gelap media sosial”. Majalah Atlantic ini menyatakan bahwa perasaan tidak suka di Internet adalah karena media sosial sengaja menghargai perilaku semacam itu.

William Brady, seorang peneliti psikologi sosial di New York University pernah melakukan penelitian seperti itu pada tahun 2017. Dia menganalisis 500.000 tweet di Twitter. Brady menemukan bahwa setiap kata yang mengandung perasaan emosional atau penghakiman moral dalam Twitter, penyebaran tweet atau forward akan meningkat sebesar 20%.

Lembaga pemungutan suara AS, Pew Center juga melakukan penelitian di jejaring sosial.  Mereka menyimpulkan jika Netizen menyampaikan Rasa kemarahan, maka kemungkinan dorongan informasi ini mendapatkan “like” atau interaksi diposting ulang adalah dua kali lipat dari informasi dorongan biasa.

Merasa Aneh?

Kita selalu berpendapat jika kita selalu mengungkapkan kemarahan dalam hidup kita, teman-teman pasti akan menjauhi orang yang menyebalkan dan suka marah seperti kita. Tetapi mengapa di media sosial, reaksi orang-orang terhadap kemarahan bukannya menjauhi, tetapi sebaliknya mengerumuni?

Jonathan Haidt, seorang penulis Senior di Majalah Atlantic dan sekalian profesor psikologi sosial di Stern School of Business Universitas New York. Menurut analisanya, orang-orang bisa memeluk kemarahan karena ekspresi di media sosial pada dasarnya bukan suatu diskusi atau percakapan. Tetapi lebih seperti pidato publik.  

Mengekspresikan kemarahan, kritik etis, penghinaan publik terhadap lawan atau ekspresi emosi yang menonjol adalah strategi yang terbukti bermanfaat dalam pidato di depan publik.  Secara kolektif disebut sebagai “pertunjukan moral”.

Mungkin kita sering berpikir bahwa “jejaring sosial” adalah memindahkan perilaku sosial offline ke online. Tetapi Profesor Jonathan Haidt mengingatkan inti dari sosialisasi adalah dialog dan komunikasi dua arah. Tetapi pembicaraan di jejaring sosial sebagian besar adalah  pertunjukan publik satu arah.

Bila kita Menilik sejarah perkembangannya, justru inovasi fungsional jejaring sosial yang telah membawa kita ke tempat saat ini.

Pada 2009, pencetus jejaring sosial Facebook menambahkan fungsi “Like”, pertama kalinya platform sosial memperkenalkan indikator kuantitatif yang dapat mengukur popularitas suatu konten. Setelah itu, Facebook juga menggunakan satu set algoritma untuk mengatur konten “lingkaran teman” kita sesuai dengan kesukaan pengguna. Kemudian meletakkan konten yang mudah mendapat interaksi pengguna dihalaman depan.

Juga di tahun 2009, Twitter menambahkan fungsi “One Click Forward”. 3 tahun kemudian, Facebook memperkenalkan fungsi “Share”, yang membuat transmisi konten di platform sosial merajalela.

Semua fungsi ini mendorong jejaring sosial ke arah yang sama, memungkinkan jejaring sosial berubah dari tempat bersosialisasi menjadi panggung agar orang lain menyukai, berbagi, dan meneruskan apa yang kita inisiatifkan. Jangan meremehkan perubahan ini. Karena secara fundamental telah mengubah mekanisme insentif untuk perilaku online.

Mekanisme ini memungkinkan ekspresi emosional dan ekstrem mulai membanjiri, dan memberikan ruang bagi penyebaran konten palsu atau hoax. Pada dasarnya, netizens sering tidak peduli dengan keaslian dan kualitas informasi. Tetapi lebih mudah terpengaruh oleh popularitas dan sisi gelap media sosial ini.

Tahun 2019, para raksasa internet mulai merenungkan perubahan.

Misalnya, penemu fungsi “One Click Forward” Twitter, dalam sebuah wawancara secara terbuka menyatakan penyesalannya. Dia mengatakan sebuah perumpamaan, meskipun kedengarannya agak berlebihan tetapi makna dari ungkapan itu sangat jelas, “Kami telah meletakkan senjata dengan peluru ke tangan anak berusia 4 tahun.”

Mungkinkah jejaring sosial kembali normal?  

Artikel Atlantic Monthly memberikan tiga saran: Pertama, menghapuskan indeks. Seperti menyembunyikan jumlah “like” dan “sharing”.  Supaya mendorong Netizens untuk menilai dan memposting ulang konten berdasarkan kualitas, bukan berdasarkan popularitasnya.

Kedua, otentikasi yang lebih ketat terhadap orang-orang yang mendaftar akun media sosial. Sehingga, meningkatkan ambang batas pendaftaran dan posting.

Ketiga, menggunakan teknologi untuk menghindari “perselisihan” komunikasi. Misalnya, ketika pengguna sedang bersiap untuk mengirim komentar, program kecerdasan buatan atau AI dapat digunakan untuk menentukan apakah isi komentar itu “beracun dan berbahaya”. Jika sistem menentukan bahwa konten tersebut tidak ideal, sebuah kata pengingat akan muncul.

Dan bertanya kepada pengguna apakah Anda yakin ingin menerbitkan konten seperti itu?  

Dengan kata lain, “Think Twice” mendorong pengguna untuk “berpikir sebelum bertindak.”  Fitur ini telah diuji di Instagram dan berfungsi dengan baik.

Nah, mengapa smashing sisi gelap media sosial bisa booming?

Pada dasarnya karena imbalan jejaring sosial mengubah perilaku orang. Menjadikan jejaring sosial sebagai arena membangun pengaruh dan popularitas.

Untuk mengurangi rasa kebencian di jejaring sosial, selain operator media sosial seperti Facebook atau Twitter harus mengubah desain mekanisme. Apakah masih ada cara lain untuk mendapatkan jaringan sosial berkualitas tinggi?

Edisi bulan Desember Majalah Psychology Today menerbitkan artikel namanya “Perfect Exposure”. Artikel ini memberikan gagasan bahwa jika kita ingin meningkatkan kualitas komunikasi di media sosial, kita dapat mencoba memulai dengan melemahkan diri sendiri.

Umpamanya, Ketika kita berbagi dengan teman sekerja mengenai tetangga Ricky yang mengalami hal aneh dalam perjalanannya ke kantor kemarin. Kolega kita pasti bergegas dan bertanya-tanya. Kenyataannya, kita harus menceritakan selama 5 menit, dan teman sekantor cuma menjawab, Ooh!  

Sisi gelap media sosial
sisi gelap media sosial Facebook (Image: USC Center)

Karakteristik interaksi Ini adalah suatu percakapan, bukan pidato. Dialog berarti ada kontak atau respons. Dalam percakapan normal, kita akan menghabiskan waktu 30%-40% berbicara tentang diri sendiri. Namun di media sosial, Persentase orang yang berbicara tentang diri mereka adalah 80%. Jauh di atas normal.  

Dengan kata lain, perilaku kebanyakan orang di jejaring sosial adalah untuk mempromosikan diri mereka. Bukannya, berkomunikasi dengan orang lain.

Majalah “Psychology Today” percaya jika kita ingin memiliki perilaku sosial yang lebih sehat di jejaring sosial, maka kita harus mengubah pemikiran. Jangan selalu mempromosikan diri kita sendiri. Melainkan “menjual atau mempromosikan orang lain”. Daripada selalu berusaha menarik perhatian orang lain, sebaliknya kita harus secara aktif memberikan perhatian Kepada orang lain.

Misalnya, Seorang desainer interior di Manhattan. Dia secara kreatif menggabungkan foto-foto karya desainer atau seniman lain dan mempostingkan di Instagram-nya. Tentu saja, Dia sekalian memperkenalkan para desainer ini. Sehingga, para seniman tersebut merasa karya mereka dihargai.

Para seniman ini sebenarnya saling tidak mengenal. Lebih tepatnya, sekedar “Teman nge-like”. Tetapi sejak dia mulai membantu seniman-seniman ini mempromosikan karya-karya mereka, banyak orang mulai membalas niat baiknya. Misalnya, para penggemar desainer atau seniman mulai mengikuti atau “Follow” dia. Bahkan, mulai membangun kerja sama bisnis.

Lihat, ketika kita mulai beralih dari “mendapatkan perhatian” menjadi “memberikan perhatian” kepada orang lain, kita tidak hanya merevitalisasi jaringan sosial Desainer Manhattan ini, tetapi juga meningkatkan Follower nya. Intinya, bukan seberapa banyak jumlah follower, melainkan bahwa “interaksi sosialnya” telah menjadi lebih dalam. Inilah indikator yang harus kita gunakan untuk mengukur kesehatan jejaring sosial, menurut Psychology Today.  

Just like grandma says, apa tujuan Networking? Tujuan dari Networking bukanlah untuk mempromosikan diri sendiri. Atau membuat diri kita lebih populer. Tetapi untuk pertumbuhan. Supaya kita lebih mengenali diri sendiri melalui interaksi dengan orang lain.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.